Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 110


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


"Janinnya berkembang dengan bagus sekali" ujar dokter kandungan yang sedang memutar-mutar alat usg di perut Dita.


Dita dan Mas Ryan tersenyum sumringah. Mas Ryan menggenggam tangan istrinya itu sambil mengelusnya.


"Nah usianya sekarang sekitar 20 minggu, beratnya sekitar hampir 300gr, yaa sebesar buah pisanglah kira-kira" jelas dokter lagi.


"Mudah-mudahan di kedatangan selanjutnya jenis kelaminnya sudah bisa kita lihat ya" ujar dokter tersebut sambil meletakkan alat usgnya.


Kemudian seorang perawat terlihat mengelap sisa gel untuk USG yang menempel di perut Dita dan membantunya untuk turun dari ranjang.

__ADS_1


Dita dan Mas Ryan pun segera duduk di hadapan dokter kandungan tersebut untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut.


Tak lama kemudian mereka pun keluar dari ruangan dokter dan menunggu untuk pengambilan obat. Dita duduk di kursi tunggu sedangkan Mas Ryan terlihat sedang mengurus administrasi dan obatnya.


Setelah semua selesai mereka segera keluar menuju mobil. Mas Ryan merangkul istrinya itu dengan berhati-hati. Di usia kehamilan Dita yang baru saja memasuki bulan keempat ini istrinya itu baru saja melalui fase trimester awal yang lumayan berat.


Karena pada kehamilan kali ini Dita benar-benar mual dan pusing parah setiap harinya. Sampai-sampai ia tidak bisa kekantor selama beberapa bulan ini. Ia hanya mengerjakan secara online semua pekerjaannya, dan Mas Ryan terpaksa harus membantunya manghandle urusan perusahaan jika dibutuhkan. Mereka juga terpaksa harus menggunakan jasa baby sitter untuk mengurus keperluan Xander sehari-hari hingga mengajaknya bermain setelah pulang sekolah.


Tetapi ia bersyukur, memasuki awal trimester dua ini rasa mual dan pusingnya sudah jauh berkurang. Kini ia sudah bisa lebih banyak di luar kamar, sesekali ia sudah bisa kembali memasak dan ia juga sudah bisa ke kantor jika diperlukan.


Dalam perjalanan pulang dari dokter kandungan, Mas Ryan terlihat menerima telepon dari seseorang. Ternyata Dimas yang sedang menelepon Mas Ryan saat itu. Dimas meneleponnya dari Balikpapan, mungkin ada urusan pekerjaan yang harus dikomunikasikannya.

__ADS_1


Setelah menerima panggilan telepon tersebut Mas Ryan langsung memandang wajah Dita. Dita pun langsung bertanya pada suaminya, "Ada apa Mas?".


"Barusan Dimas telepon, dia bilang akan di adakan rapat umum pemegang saham hari Kamis nanti. Aku harus berangkat ke Balikpapan untuk hadir. Kamu tidak apa-apa jika aku pergi beberapa hari? Kamu masih mual dan pusing?" jelas Mas Ryan sambil menggenggam tangan Dita.


"Mengapa mendadak sekali Mas?" tanya Dita yang mulai khawatir karena lusa berarti suaminya akan berangkat.


"Iya, ternyata Dimas sudah mengirimkan surat undangan rapatnya melalui email dan WhasApp sejak beberapa hari yang lalu tapi sepertinya belum kubuka" jawab Mas Ryan.


"Kamu keberatan ya? Kalau kamu tidak bisa aku tinggal, aku tidak akan berangkat. Nanti aku minta hasil rapatnya saja" jawab Mas Ryan yang berusaha menenangkan istrinya itu.


"Tidak apa-apa kok Mas, kamu berangkat saja. Mana tau ada yang penting di sana, kasihan juga Dimas kalau kamu tidak hadir. Aku tidak apa-apa kok, aku sudah jauh lebih baik" ucap Dita meyakinkan suaminya walaupun jauh dalam lubuk hatinya ia khawatir karena akan berjauhan dengan suaminya. Ia terbiasa selalu didampingi Mas Ryan sejak awal hamil kali ini hingga kehamilannya memasuki bulan keempat. Mas Ryanlah yang dengan sabar mengurusi segala hal untuk dirinya. Namun ia harus bisa mengatasi rasa khawatirnya itu, Mas Ryan berangkat karena masalah pekerjaan dan ia yakin tidak akan lama.

__ADS_1


__ADS_2