
Mas Ryan berlari ke arah Dimas kemudian mengguncang-guncang bahu Dimas dengan bersemangat, "Dim, aku ke Singapura sekarang. Sekarang tolong kamu urus semua urusan di sini ya. Nanti aku minta Erick untuk buat surat kuasa."
"Mas, kenapa tiba-tiba? Ada apa ini Mas?" tanya Dimas penasaran.
"Dita Dim, Dita dan anakku ada di Singapura" ucapnya berapi-api.
"Serius kamu Mas? Duduk dulu Mas, kamu tenang dulu" pinta Dimas yang masih bingung.
"Aku serius, Mr. Lee klien kita yang di Singapura baru saja meneleponku. Ia bilang istrinya bertemu Dita di rumah sakit" jawab Mas Ryan yang kini sudah lebih tenang.
"Dita kuliah S2 di sana Dim" lanjutnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Dimas teringat perihal test beasiswa yang di ikuti Dita beberapa tahun silam, ia pun langsung menyesal mengapa tidak terpikir sedikitpun tentang hal itu selama ini.
Kemudian Mas Ryan langsung berpamitan dan menghilang. Dimas pun langsung masuk ke ruangan Mas Ryan dan mengambil beberapa berkas yang harus ia pelajari karena baru saja Mas Ryan memberi kuasa padanya.
Sudah satu tahun ini Dimas bekerja di kantor Mas Ryan. Pak Bagas harus melepaskannya dengat berat hati. Namun bukan Mas Ryan namanya kalau tidak bisa merayu sahabatnya itu untuk melepas Dimas agar bisa bekerja dengannya.
***
Penantiannya selama bertahun-tahun sebentar lagi akan terjawab. Rasa rindu dan sesak di dadanya kian membuncah seakan tak lagi muat di dalamnya.
Diliriknya jam tangannya yang menunjukkan jam 12.00 waktu Indonesia. Menurut perkiraan, pesawat akan mendarat pukul 13.20 waktu Singapura. Berarti sekitar 20 menit lagi ia akan tiba.
__ADS_1
Dan benar saja, begitu pesawat selesai mendarat, Mas Ryan lah orang pertama yang berdiri mengantri menunggu pintu pesawat terbuka.
Setelah sampai di arrival hall, Mas Ryan langsung menuju pintu keluar dan mencari mobil yang menjemputnya. Ia sudah memesan mobil beserta supir yang biasa ia sewa untuk perjalanan bisnisnya di Singapura.
Cukup lama mereka berkendara untuk mencapai alamat Dita. Maklum, NUS memang terletak di pinggiran kota. Jadi butuh waktu sedikit lama untuk mencapainya.
Tak lama kemudian supir taksi menunjuk sebuah gedung yang di maksud Mas Ryan. Terlihat sebuah bangunan tinggi seperti seperti apartemen tapi dalam versi sederhana. Ia pun langsung keluar dan masuk dalam bangunan tersebut kemudian mulai bertanya pada orang-orang yang tinggal di sana. Tiap kali ia melihat orang, ia langsung bertanya dengan mendeskripsikan ciri-ciri Dita.
Karena Dita hanya memberi tahu nama gedungnya saja pada istri Mr.Lee, kini Mas Ryan terpaksa harus mencari dan bertanya di setiap lantainya.
Setelah habis dua jam ia sibuk bertanya sana sini namun belum juga membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya ia bertemu seorang wanita beretnis india yang berperawakan sedikit gemuk sedang menyapu di sekitar tangga. Mas Ryan segera menghampirinya dan bertanya, ternyata ia mengenal Dita. Ia bilang sudah satu tahun yang lalu Dita pindah dari apartemen tersebut, tapi ia tidak tahu Dita pindah kemana.
__ADS_1
Mas Ryan pun terduduk lemas. Ternyata Dita memberi alamat lamanya pada istri Mr.Lee. Sepertinya ia benar-benar tidak mau di ketahui oleh siapapun.