Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 94


__ADS_3

Mas Ryan terbangun dari tidurnya pagi itu, dilihatnya istrinya masih tertidur pulas di pelukannya. Dilihatnya jam tangan yang terletak di kabinet tepat di samping tempat tidurnya sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Matahari sudah mulai masuk melalui celah-celah pintu dan jendela kaca kamar mereka.


Diletakkannya kepala Dita perlahan agar tidak terbangun, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah keluar dari kamar mandi, dilihatnya Dita masih terlelap. Mungkin ia lelah setelah menempuh perjalanan kemarin, ditambah lagi dengan serangannya tadi malam. Dilihatnya leher dan bagian dada Dita yang sedikit menyembul, kissmark hasil karyanya bertebaran disana. Ia pun tersenyum simpul melihatnya, seakan bangga seperti melihat sebuah karya seni yang telah berhasil diciptakannya.


Melihat istrinya yang masih saja tidur dengan lelapnya, seketika ide liarnya muncul. Dengan perlahan ia masuk ke dalam selimut.


Tak lama kemudian terlihat ekspresi kaget di wajah Dita. Ia terbangun karena terkejut dan merasa masih setengah sadar, nyawanya terasa belum terkumpul sempurna. Ia merasa ada sesuatu yang menggelitik di bagian pahanya.


Di angkatnya sedikit selimut yang menutupi tubuhnya, terlihat Mas Ryan di sana sedang mengerjakan ekspansi projectnya yang baru, mungkin setelah leher dan dadanya tak lagi muat. Dita tersenyum melihat kelakuan nakal suaminya itu.

__ADS_1


Dipejamkannya matanya sambil menikmati. Dibiarkannya Mas Ryan mengeksplor apa yang ia mau di dalam sana. Sesekali tubuhnya terlihat sedikit mengejang sambil meremas sprei di tempat tidur mereka, suara nafas berat dan pendek pun makin terdengar jelas memenuhi ruangan, makin lama makin menderu.


Akhirnya Mas Ryan memunculkan wajahnya setelah puas berada di dalam selimut istrinya. Ia tersenyum melihat wajah Dita yang sudah memerah dan nafasnya yang sudah terengah-engah. Tandanya ia sudah menginginkan lebih dari itu.


Mas Ryan tak ingin membuang waktu, langsung saja ia mulai kembali peperangan panas mereka di atas ranjang pagi itu.


Saat hasrat mereka sudah hampir selesai tersalurkan, tiba-tiba ponsel Dita yang berada tepat di sampingnya berdering. Dilihatnya ternyata panggilan video dari Novia. Pastilah Xander yang rindu ingin melihat papa mamanya.


Sepuluh menit kemudian, keduanya terlihat sudah tergeletak lemas dengan nafas yang masih naik turun. Mas Ryan yang teringat dengan panggilan video dari anaknya langsung menyambar ponsel Dita yang tadi diletakkannya di bawah bantal.


"Maaf ya nak, bukannya papa jahat" ucapnya sambil menekan tombol panggilan kembali.

__ADS_1


Dita tertawa melihat suaminya yang merasa bersalah itu. Kemudian ia beranjak mengambil handuk kimono untuknya dan Mas Ryan.


Tak lama kemudian terlihat wajah Xander di layar ponsel. Ia terlihat senang bisa melihat wajah papa mamanya. "Papa sama mama lagi apa?" tanyanya.


Terlihat keduanya yang terbingung-bingung mau menjawab apa. "Eh, hmm, papa sama mama lagi mau sarapan sayang, Xander udah sarapan belum?" jawab Dita dengan cepat.


"Udah ma, ini Xander mau pergi ke supermarket sama tante. Xander nanti boleh beli coklat ma? Kata tante disuruh tanya mama dulu" ucapnya polos.


"Boleh nak, tapi satu aja ya biar ga sakit gigi" jawab Dita.


"Oke ma, makasih mama" jawabnya dengan happy karena boleh beli coklat.

__ADS_1


Kemudian Novia mengambil ponselnya dan mengobrol dengan Dita dan Mas Ryan sebentar. Novia bercerita bahwa Xander tidak rewel dan happy selama di rumah. Ia sibuk dengan mainan barunya yang kemarin dibeli. Mas Ryan dan Dita pun lega mendengarnya.


__ADS_2