
Dita masuk ke dalam taksi yang telah dipesannya dengan tergesa-gesa. Dilihatnya ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia meminta supir taksi untuk mampir ke sebuah toko ponsel dan cepat-cepat ia membeli sebuah ponsel dan kartu sim baru. Dengan tertunduk-tunduk ia berlari masuk kembali ke dalam taksi karena takut bertemu seseorang yang mengenalinya.
Segera ia meminta supir untuk mengantarnya ke bandara, kemudian ia menghidupkan ponselnya guna membeli tiket pesawat.
Sebelum ia mengkonfirmasi pesanan tiket pesawat yang akan di belinya, tiba-tiba ia merasa kram di perutnya. Ia menahan rasa kram di perutnya hingga mengeluarkan keringat dingin yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Pak, kita tidak jadi ke bandara. Putar balik saja pak, saya mau cari hotel ke arah selatan," ucapnya sambil menahan sakit.
"Baik Bu," jawab supir taksi tersebut.
__ADS_1
Supir taksi tersebut langsung memutar arah dan menyusuri jalan sambil mencari-cari hotel. Sekitar dua puluh menit berkendara, Dita menginstruksikan supir taksi tersebut untuk mengarahkan mobil ke sebuah hotel yang berada tidak jauh dari posisi mereka.
Dita menutupi sebagian wajah dengan rambutnya agar tidak mudah di kenali orang. Sambil menunduk ia berjalan menuju receptionist hotel dan memesan sebuah kamar. Ia terlihat gelisah tatkala receptionist masih memproses pesanannya. Ia khawatir ada yang melihatnya.
Ketika receptionist memberikan kartu sebagai kunci kamarnya, ia langsung segera menyambarnya dan pergi masuk ke dalam lift dan segera mengurung diri di dalam kamar hotel.
Ia sengaja meninggalkan ponselnya agar Mas Ryan tidak bisa melacak keberadaannya melalui nomor imei ponselnya. Sebelum meninggalkan ponselnya ia juga sempat mengirim pesan ke Dimas untuk mengambil dan menyimpan mobilnya.
Ia merasa sangat hina saat ini. Yang terpikir olehnya saat ini hanya lari dan meninggalkan semua ini. Untuk apa ia mempertahankan keadaan ini setelah di hina dan di caci maki oleh ibu Mas Ryan hingga sedemikian rupa. Lebih baik ia pergi dari pada mengemis restu pada wanita yang menganggapnya sangat rendah tersebut.
__ADS_1
Tangisnya kian keras dan terdengar menyedihkan. Diremasnya sprei dengan kedua tangannya untuk menahan emosinya.
Perkataan ibu Mas Ryan benar-benar telah melukai hatinya. Ia memberikan keperawanannya pada Mas Ryan, dan tidak pernah melakukan hubungan itu dengan orang lain. Ia tidak serendah itu. Hanya Mas Ryan yang bisa menaklukannya.
Ia telah terbuai cintanya pada Mas Ryan, cinta yang ia anggap sempurna. Namun ia salah, cinta mereka bukanlah sempurna, tapi ia lah yang menutup matanya dan hanya melihat sisi kesempurnaannya saja. Padahal cinta yang ia agung-agungkan selama ini tak ubahnya bom waktu yang akan meledak dan membunuhnya.
Padahal pada awalnya ia sempat ragu dan ingin mundur, tapi lama kelamaan justru ia yang menenggelamkan dirinya sendiri dalam kemelut cintanya pada suami wanita lain.
Padahal beberapa saat lalu ia merasa menjadi orang paling beruntung karena memiliki Mas Ryan, namun kini ia merasa menjadi orang paling bodoh karena telah mencintai Mas Ryan.
__ADS_1
Mas Ryan tidak sepenuhnya salah, ia jugalah yang membuka pintu hatinya dan mengijinkan Mas Ryan untuk masuk. Kini ia merasa menjadi orang yang tidak diharapkan dan tidak berarti.
Ia benar-benar menyesali kesalahannya dalam menjalin cinta kali ini. Cinta yang membuatnya menjadi buta dan benar-benar terperosok dalam jurang yang sangat dalam.