
Dita terbangun di pelukan Mas Ryan dan melirik jam dinding di kamarnya, ternyata sudah jam 5.30 pagi. Perlahan ia mengangkat kepalanya dari lengan Mas Ryan dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kemudian dipungutnya pakaian yang masih berserakan di ruang TV. Setelah berpakaian Dita pun segera pergi membeli bahan untuk membuat sarapan di mini market 24jam yang berada di lantai 1. Di sana ia mengambil sebuah keranjang belanja dan bergegas mengisinya dengan beberapa barang yang ia butuhkan, seperti telur, sosis, pasta, saus bolognaise, keju, minyak goreng, dll. Setelah keranjang belanjanya penuh dengan belanjaan ia pun segera menuju kasir kemudian kembali ke unit apartemennya.
Ketika masuk ia melihat Mas Ryan masih tidur, segera ia memasak sarapan untuk Mas Ryan dan dirinya.
Mas Ryan yang tengah tidur pun terbangun mendengar suara dari dapur, ia pun segera bangun dan memakai celana pendeknya. Dilihatnya Dita sedang asyik di dapur, muncullah keisengannya untuk mengagetkan Dita. Ia berjalan perlahan dan berjingkat agar Dita tidak mendengarnya. Setelah dekat, di peluknya Dita dari belakang. Dita pun kaget bukan kepalang, di cubitnya lengan Mas Ryan yang padat. "Kamu bikin aku kaget Mas! Kalau tadi masakannya tumpah bagaimana?", ucap Dita sambil terus mencubiti Mas Ryan yang terkekeh puas melihat ekspresi Dita.
__ADS_1
"Jangan marah sayangku", rayu Mas Ryan sambil memeluk wanita yang ia cintai itu.
Ditapun hanya tersenyum melihat tingkah Mas Ryan. Usianya memang jauh di atas Dita, namun terkadang tingkah jahilnya masih seperti anak-anak. Itu pulalah yang membuat Dita sering tertawa lepas karena keisengannya.
Dita melanjutkan memasak sambil ditemani Mas Ryan yang terus memeluknya dari belakang. Sungguh indahnya pagi itu untuk mereka berdua.
__ADS_1
Alex, asisten Mas Ryan pun terheran-heran melihat Mas Ryan yang senyum sumringah sejak memasuki kantor. Ia menebak ada yang berbeda dari atasannya hari itu. Tidak biasanya ia seramah itu di kantor, biasanya ia selalu memasang wajah serius ketika bekerja. Mungkin otot-otot wajahnya yang selama ini tegang sudah mulai fleksibel kembali.
***
Malam itu Dita baru saja selesai membuat brownis coklat keju untuk menghilangkan rasa sepinya di apartemen sendirian. Rencananya besok akan dikirimnya ke kantor Mas Ryan agar Mas Ryan bisa mencicipinya. Tak lupa juga ia mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan besok yang juga akan ia kirim ke kantor Mas Ryan. Ia memang sedang senang memasak di dapur barunya ini, dapur yang jauh lebih bagus dari pada di kostnya dulu. Ia menyibukkan diri guna mengalihkan pikirannya dari Mas Ryan. Karena sejak tinggal di apartemen ini hasratnya ingin selalu bersama Mas Ryan semakin kuat. Namun ia tidak sanggup untuk menuntut Mas Ryan agar segera memberinya kepastian. Ia yakin Mas Ryan juga sedang mencari cara. Ia harus bisa percaya pada Mas Ryan. Walaupun dalam hatinya selalu ada rasa khawatir jika Mas Ryan benar-benar akan mencampakkannya seperti yang dibilang istrinya waktu itu.
__ADS_1
Akhir-akhir ini ia selalu menantikan kedatangan Mas Ryan ke apartemennya. Ia sering merasa kesepian di apartemen yang cukup luas ini. Kadang Mas Ryan sesekali datang menginap, tapi terkadang hanya datang sebentar lalu pulang. Terlebih jika Mas Ryan sedang sibuk dengan pekerjaannya, bisa-bisa Mas Ryan tidak datang berhari-hari sampai pekerjaannya selesai. Tapi ia tidak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Mas Ryan, ia takut bersikap terlalu menuntut.