
Dita terlihat terbaring di atas tempat tidurnya sambil mengelus bayi mungil yang ada di dekapannya, yaitu obat hati, pelipur laranya saat ini.
Sebulan sudah usianya, dan Dita masih punya waktu satu bulan lagi untuk mempersiapkan diri memulai perkuliahan. Di pandanginya wajah anaknya itu, terlihat sangat mirip dengan ayahnya, hidungnya, bentuk bibirnya, bahkan matanya pun mengingatkan Dita pada Mas Ryan.
Alexander, nama yang ia sematkan pada anaknya, yang bermakna seorang pembela yang berani dan penuh semangat,sesuai dengan harapannya untuk anaknya kelak agar ia menjadi anak lelaki yang selalu berdiri pada kebenaran dengan jiwa berani dan penuh semangat.
Namun kini ia sedang dilanda rasa galau dan sangat bersalah, karena sebentar lagi akan sibuk dengan kuliahnya dan harus meninggalkan anaknya. Ia memutuskan untuk menggunakan jasa daycare yang sudah terpercaya dibandingkan menyewa jasa baby sitter untuk mengurus Xander selama ia di kampus. Agar Xander bisa terbiasa bersosialisasi dengan anak-anak lain dan tidak bosan, apalagi flatnya cukup kecil, kalau pakai baby sitter kasihan juga karena tempat yang terbatas.
Ditengah lamunannya yang sudah kemana-mana itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Karena takut Xander terbangun, segera ia mengangkat panggilan masuknya itu. Ternyata dari Dokter Aldy.
Dokter Aldy kerap meneleponnya kini, memastikan keadaannya dan Xander baik-baik saja. Namun ada yang berbeda dari telepon kali ini. Dokter Aldy terdengar tidak lepas seperti kikuk untuk berbicara.
"Dit, ada dua hal yang mau aku sampaikan sama kamu" ia memulai menyampaikan maksud.
"Apa itu? sepertinya hal penting" jawab Dita yang penasaran.
__ADS_1
"Yang pertama, mungkin ini tidak terlalu penting. Tapi sepertinya harus aku sampaikan" ucapnya perlahan.
"Aku.. aku akan menikah Dit" tuturnya ragu.
"Waahh, aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya kamu menemukan jodohmu. Wanita itu pasti sangat beruntung mendapatkan laki-laki sebaik kamu. Aku tunggu kabar selanjutnya lho" respon Dita dengan senang.
"Iya, terima kasih ya. Nanti aku kabari jika sudah lamaran" jawabnya dengan sumringah namun hatinya tak sejalan. Karena sebenarnya ia akan menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh keluarganya. Keluarganya yang sudah gelisah karena ia tak kunjung menikah di usia 35 tahun lebih.
Sebenarnya bukan tanpa sebab, ia pernah menjalin cinta dengan teman kuliahnya ketika mengambil gelar spesialis dulu. Di saat hubungan kian serius dan akan menjajaki lamaran, sang kekasih harus meninggalkan ia selama-lamanya karena kecelakaan. Pada akhirnya jalinan cinta mereka harus berakhir dengan tragis. Karena kekasihnya yang harus pergi secara mendadak, membuat ia bertahun-tahun lamanya susah untuk membuka hati pada wanita lain. Hingga akhirnya Dita datang dengan pesonanya yang membuat ia menaruh hati. Namun perasaannya itu harus ia kemas rapi dan ia tutup rapay karena ia tahu Dita masih belum bisa menerima kehadiran lelaki lain.
"Terus yang kedua apa?" tanya Dita yang mengagetkan lamunannya.
"Oh iya, aku sampai lupa" jawabnya.
"Suami kamu menghubungi aku" lanjutnya dengan hati-hati.
__ADS_1
Senyum yang tersungging di bibir Dita setelah mendapat kabar bahagia dari Dokter Aldy pun tiba-tiba hilang, "Suami?".
"Iya, lelaki itu bernama Ryan dan mengaku bahwa ia adalah ayah dari Xander. Apa benar Dit?" lanjutnya lagi.
Dita ternganga sambil menutup mulutnya. Ia tak menyangka Mas Ryan bisa menghubungi Dokter Aldy.
"Dit, kamu masih di situ?" tanya Dokter Aldy karena tak ada jawaban dari Dita.
"Oh, iya iya. Maaf. Iya dia ayahnya Xander" jawab Dita akhirnya.
"Tapi aku tidak memberi tahu tentang keberadaan kamu, karena itu bukan hak aku. Tapi aku beri tahu dia bahwa kamu sudah melahirkan dan kalian baik-baik saja" lanjutnya lagi.
"Dit, aku rasa dia punya hak untuk tahu tentang Xander. Bagaimana pun Xander adalah anaknya. Kamu harus sadar akan hal itu, tidak bisa selamanya kamu menutup diri. Karena kini kamu bukan lagi sendiri, ada Xander yang harus kamu pikirkan masa depannya" tuturnya mencoba memberi pengertian pada Dita.
"Maaf aku lancang mengurusi urusan pribadimu, karena aku merasa ada ketulusan dari suaranya, dia juga tak segan merendahkan dirinya dengan memohon padaku. Pikirkan lagi Dit, lembutkan hatimu demi Xander" ucap Dokter Aldy sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1