
Dita tiba di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta tepat pukul 10.30 pagi. Di lihatnya satu persatu penumpang yang turun, ia bersyukur tak ada satupun yang ia kenali.
Setelah mengambil bagasi dan memastikan kopernya aman, Dita bergegas berjalan menuju deretan taksi-taksi bandara yang sedang menunggu penumpang. Tak lama kemudian seorang supir taksi yang berperawakan sedikit kurus dan terlihat agak tua menghampirinya, Dita pun mengangguk memberi kode bahwa ia mengiyakan penawaran supir taksi tersebut. Koper Dita pun di masukkan ke dalam bagasi ,dan mereka melaju keluar area bandara.
Dita menginstruksikan supir taksi untuk mengantarkannya ke makam ayah dan ibunya. Ia ingin segera sampai di sana. Setahun sudah ia tidak melihat makam orang tuanya. Tepatnya yaitu ketika saudara tirinya pulang ke Indonesia setahun yang lalu, mereka berziarah bersama ke Jogja.
Setelah setengah jam, mereka pun tiba. Dita langsung turun dan meminta supir taksi tersebut menunggunya. Ia dengan setengah berlari menuju makam ayahnya, di peluknya nisannya seolah itu adalah ayahnya, "Paa, Dita datang Pa." ucapnya sambil meneteskan air mata.
Kemudian ia terdiam lama dan masih memeluk nisan ayahnya, tak lama kemudian terdengar suara isak tangisnya yang pecah. "Pa, Papa mengajarkan Dita untuk harus selalu menjadi orang yang kuat dan tidak lemah karena tidak selamanya papa bisa bersama dengan Dita. Dita selalu kuat Pa, tapi kali ini Dita lemah, Dita tidak bisa menguatkan diri hanya karena dibutakan cinta" ucapnya sambil terisak mengeluarkan beban yang ada dalam dadanya.
Kemudian dibelainya nisan ibunya yang ada di sebelah makam ayahnya, "Ma, Dita ingin seperti mama yang tidak pernah menyerah. Tapi kali ini Dita bukan menyerah ma, Dita hanya ingin berjuang untuk sesuatu yang lebih baik," tangisnya kian merebak.
Supir taksi tadi terus memperhatikan Dita, dibukanya sedikit kaca jendela dan terlihat Dita yang sedang menangis smbil memeluk nisan orang tuanya. Ia iba pada Dita, ia melihat kesedihan yang amat dalam.
__ADS_1
Sudah hampir setengah jam Dita berada di makam orang tuanya, namun sepertinya belum juga cukup. Ia masih mau berlama-lama di sana, tak ada tempat yang menenangkan baginya saat ini selain di dekat orang tuanya walaupun hanya dengan bentuk pusara.
Dengan terkantuk-kantuk supir taksi menunggu Dita kembali. Ia seakan mengerti isi hati Dita yang sedang sedih. Tiba-tiba Dita masuk ke dalam mobil, "Yuk Pak, segera jalan" ucapnya.
Malam ini Dita menginap di hotel, tapi besok ia akan pergi mencari rumah kontrakan. Ia berencana akan menetap di kota ini untuk sementara.
Sebenarnya Jogja bukan tempat yang baru bagi Dita. Ia lahir dan menghabiskan masa SD - SMPnya di Jogja. Kemudian melanjutkan SMA di Surabaya karena ayahnya dipindahtugaskan saat itu. Setelah itu Dita dan saudara tirinya pindah ke Jakarta untuk kuliah. Dan ketika beberapa hari menjelang wisudanya kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan mobil dan di makamkan di Jogja karena Jogja adalah kota kelahiran ayah dan ibunya, juga dirinya.
***
"Akhirnya kamu pulang juga Mas." ucap Wina.
Terlihat Mas Ryan dengan langkah gontai memasuki rumah dan menuju kamar. Ia tidak pulang sejak kejadian kemarin. Wajahnya terlihat kusam, kemejanya tampak kusut dan awut-awutan.
__ADS_1
Tanpa menjawab Wina ia masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi. Karena sejak semalam ia belum membersihkan dirinya.
Sehabis mandi Mas Ryan kaget ketika melihat Wina yang sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menatap Wina dengan tatapan benci dan muak.
"Jangan kaget Mas, aku hanya ingin memastikan keadaan mu baik-baik saja." ucapnya.
"Jangan sok perhatian kamu! Sudah puas kamu sekarang?" jawab Mas Ryan sinis.
"Jangan salah paham dulu Mas," ujarnya dengan lembut.
"Aku yakin kamu sudah tahu mama akan datang hari itu," ucap Mas Ryan.
"Mas, percayalah, aku diberi tahu novia saat mereka telah menuju kantor kamu. Pasti kamu menduga aku telah menjebak mu dengan membiarkan mama datang ke kantor," ucapnya memberi pembelaan.
__ADS_1
"Aku juga turut menyesal atas apa yang terjadi, pasti ini berat buatmu Mas", ujarnya sambil berdiri memeluk Mas Ryan kemudian keluar.