
"Ya ampun sayang, beli apa lagi?" tanya Mas Ryan sambil memperbaiki bawaannya yang terasa makin berat.
"Robot Xander sudah, oleh-oleh untuk Novia, Dimas, dan Bi Pur sudah, barang untuk kita berdua juga sudah" ucapnya lagi, barangkali istrinya lupa bahwa semua sudah kebagian.
"Aku lihat baju yang itu dulu ya Mas, tidak apa-apa kan?" tanya Dita dengan wajah memelas sambil menunjuk baju yang ingin dilihatnya.
Mas Ryan mengangguk sambil tersenyum. Ia pasrah kali ini. Ia tidak tega menolak karena Dita yang memang jarang sekali belanja, seperti beli baju, sepatu atau pun tas seperti wanita lainnya. Sampai-sampai Mas Ryan merasa istrinya terlalu hemat untuk dirinya sendiri.
Bukan tidak ada alasan Dita terbiasa berhemat. Ia sudah harus mengerti berhemat sejak kedua orang tuanya tiada, agar tetap bisa melanjutkan hidup dengan layak dengan apa yang sudah ditinggalkan orang tuanya. Hingga kini ia sudah hidup dengan sangat berkecukupan pun kebiasaannya untuk berhemat tetap saja sudah melekat pada dirinya. Ia sudah terbiasa memakai pakaian ataupun tas yang sudah berkali-kali ia kenakan. Tidak merasa harus mempunyai banyak barang hanya untuk gaya-gayaan padahal ujung-ujungnya hanya menjadi pajangan saja.
Diikutinya Dita masuk ke dalam toko kemudian menunggu istrinya itu keluar dari fitting room sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian Dita keluar menggunakan baju yang dicobanya, sebuah dress selutut berwarna hitam dengan bordiran khas Thailand di bagian dada.
__ADS_1
Dita seperti menunggu penilaian dari suaminya. Mas Ryan mengangkat jempolnya sambil tersenyum pertanda setuju. Selain agar Dita cepat selesai, ia memang selalu menyukai baju apapun yang dikenakan istrinya. Selalu terlihat cantik dan menawan di matanya.
Tak lama kemudian Dita pun selesai dengan transaksinya. Mas Ryan terlihat lega dan mereka pun menuju mobil untuk segera pulang ke resort dikarenakan mereka sudah kelelahan, lagipula sudah menjelang malam.
Sesampainya di kamar Mas Ryan langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang empuk dan melepaskan kepenatannya hari ini. Dita hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang baginya sangat mendramatisir itu.
"Masa begitu saja capek Mas? Bagaimana kalau kamu tiap minggu ikut aku belanja ke supermarket coba" ucapnya sambil membelai rambut Mas Ryan dengan lembut.
"Faktor U sayang, aku sudah kepala 4, kamu masih kepala 2" jawab Mas Ryan beralasan.
kemudian beranjak untuk berganti baju.
...***...
__ADS_1
Sudah menunjukkan pukul 21.00, Dita terlihat sibuk mengemas barang-barang yang tadi mereka beli. Sekaligus ia membereskan barang bawaan mereka untuk pulang besok.
Mas Ryan masih terlihat betah bermalas-malasan di tempat tidur sejak selesai makan malam tadi. Alasannya karena capek, bahkan untuk bersih-bersih dan ganti baju sebelum makan malam pun Dita harus sekuat tenaga mendorongnya masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Dita telah selesai dengan koper dan oleh-olehnya. Diliriknya Mas Ryan masih rebahan di dalam selimut sambil memainkan ponselnya.
Kemudian Dita segera ke kamar mandi. Sejak pulang tadi ia belum sempat bersih-bersih dan mandi.
Tak lama kemudian, ia setengah berteriak dari dalam kamar mandi, "Maaas, kamu mau langsung tidur?" tanyanya.
"Iyaa, aku capek sayang, kita tidur saja yaa" jawab Mas Ryan masih dari tempat tidur.
Kemudian terlihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Dita berdiri di depan pintu dengan menggunakan lingerie yang pernah di belikan Mas Ryan pada waktu awal menikah yang juga baru sekali ini dikenakannya.
__ADS_1
"Yakiin???" tanya Dita dengan intonasi yang ditekankan.