
Semakin hari Dita dan Mas Ryan semakin dekat. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap hari mereka bertemu selepas pulang bekerja.
Benih-benih cinta untuk Mas Ryan dalam hati Dita sepertinya telah muncul. Diawali dari rasa nyaman ketika berada di dekat Mas Ryan. Ia bahkan sudah tak memperdulikan usia mereka yang bertaut 17 tahun. Sisi kedewasaan dan kematangan pribadi Mas Ryan yang selalu membuatnya merasa aman berada di dekatnya. Mas Ryan selalu bisa mengerti dirinya, ketika ia dalam kondisi mood yang tidak baik Mas Ryan selalu berusaha membuatnya kembali ceria. Ketika ia merasa lelah dengan masalah pekerjaan Mas Ryan selalu memotivasinya agar ia kembali bersemangat. Mas Ryan selalu memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh kelembutan.
Di sisi lain, Mas Ryan pun merasakan hal yang sama. Dita lah yang membuat hari-harinya kian berwarna. Hanya dengan menatap Dita rasa lelahnya seperti hilang begitu saja, oleh karena itu ia selalu menyempatkan untuk bertemu Dita walaupun dikala ia sedang sibuk. Dita membuatnya merasa kembali muda. Sejak dekat dengan Dita, ia kerap diajak menonton bioskop, bermain wahana di taman bermain, ataupun menjelajahi berbagai wisata alam untuk sekedar merefresh pikiran, kegiatan-kegiatan yang mungkin sudah sangat lama tidak ia lakukan. Ia yang dulu hanya selalu fokus pada pekerjaan dan perusahaannya, kini seperti telah menemukan serunya kehidupan bak bermain roller coaster.
__ADS_1
Hari itu tanggal merah tepatnya di hari Kamis, padahal hari libur tetapi Mas Ryan masih saja ke kantor. Saat itu ia sedang sibuk mengerjakan sebuah project sehingga mengharuskan ia ke kantor hari itu. Karena merasa kesepian di kantor sendirian, Mas Ryan pun menghubungi Dita.
Ia meminta Dita menemaninya hari itu, ia berharap dengan kehadiran Dita ia menjadi lebih semangat dalam menyelesaikan projectnya. Dan sebenarnya ia juga ingin menyampaikan sesuatu pada Dita.
Ini adalah pertama kalinya Dita ke kantor Mas Ryan, itu juga karena Mas Ryan yang membujuknya untuk datang dan menemaninya bekerja sampai sore nanti. Karena merasa kasihan pada Mas Ryan yang bekerja sendirian, akhirnya Dita menyetujui ajakan Mas Ryan untuk menemaninya bekerja.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Dita langsung mengajak Mas Ryan untuk makan siang. Ia menghidangkan makan siang untuk Mas Ryan dan dirinya di atas meja, tak lupa ia mengambilkan minum untuk Mas Ryan, dan membereskan kembali bekas makan siang mereka. Mas Ryan merasa senang atas perhatiannya pada dirinya. Istrinya saja tidak pernah mengurus makannya, jadi Mas Ryan seperti menemukan sosok yang bisa memenuhi rasa kosong akan perhatian dalam dirinya.
Selepas makan siang, Mas Ryan mengobrol sejenak dengan Dita di sofa di dalam ruangan Mas Ryan. Mereka duduk bersebelahan, bercanda dan bersenda gurau agar Mas Ryan tidak terlalu stress dengan projectnya. Tiba-tiba Dita dikejutkan dengan tangan Mas Ryan yang menuju wajahnya, Mas Ryan membelai lembut pipi dita dengan punggung tangannya. Dita hanya bisa terdiam terpaku seperti membeku. Kemudian tangannya turun memegang dagu Dita, perlahan menariknya ke depan lebih dekat dengan wajahnya. Sudah bisa ditebak apa yang akan dilakukan Mas Ryan, pelan-pelan ia memajukan wajahnya sehingga sangat dekat dengan wajah Dita. Bibir mereka nyaris bersentuhan. Suara nafas yang memburu sudah saling terdengar. Kemudian spontan Dita menarik wajahnya. Mas Ryan pun kelihatan tidak enak hati pada Dita, ia takut membuat Dita tidak nyaman karena perlakuannya. Ia meminta maaf pada Dita.
Dita jadi tidak enak hati pada Mas Ryan, karena sebenarnya ia pun menyadari akan perasaannya pada Mas Ryan namun masih ada hal yang mengganjal dalam hatinya yang membuatnya terkadang menjadi ragu dengan perasaannya. Status Mas Ryan yang masih mempunyai istri sejujurnya selalu menjadi beban baginya. Ia tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain, walaupun jauh sebelum mereka bertemu rumah tangga Mas Ryan sudah di ambang kehancuran. Tetapi ia tidak pernah menyampaikan hal ini pada Mas Ryan, karena mereka memang belum ada menyatakan perasaan satu sama lain.
__ADS_1