
*Seminggu kemudian*
Dita terlihat sedang mengelus-elus punggung anaknya sambil terkantuk-kantuk hingga tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka mengagetkannya. Dilihatnya Mas Ryan sedang mengintip ke dalam kamar, mungkin sejak tadi ia mengetuk namun Dita tak mendengar karena tertidur.
Dita melirik ke arah Xander, ternyata sudah tertidur. Dita baru ingat Mas Ryan akan mengajak Xander makan malam di luar malam ini. Ia pun segera bangkit dan menemui Mas Ryan.
Dilihatnya Mas Ryan sedang menonton TV, masih menggunakan pakaian kerjanya. Kemeja berwarna navy, celana bahan berwarna hitam, lengkap dengan dasi berwarna kombinasi navy dan maroon yang sudah di longgarkan dari lehernya. Melihat Dita yang keluar dari kamar, Mas Ryan pun melirik, "Kenapa cepat sekali tidurnya?".
"Xander tidak tidur siang Mas, maunya main terus. Aku lupa kalau malam ini kamu akan mengajaknya keluar" jawab Dita.
"Yasudah, besok malam saja kalau begitu" ucapnya sambil tersenyum ke arah Dita.
Biasanya Xander tidur jam 21.00, namun kini masih jam 19.30 ia sudah terlelap. Mas Ryan sudah terburu-buru pulang dari kantor untuk bertemu dengan anak semata wayangnya itu, namun ternyata Xander sudah hanyut dalam mimpi.
"Mas, makan dulu" ucap Dita memecah keheningan.
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi" jawab Mas Ryan sambil mengambil ponsel dari saku celananya.
Mas Ryan terlihat mengutak-atik ponselnya kemudian memanggil Dita untuk mendekat.
"Ini ada beberapa brosur untuk sekolah Xander, aku minta tolong dengan temanku untuk mencari beberapa sekolah yang bagus dan tidak terlalu jauh, coba sini kamu lihat dulu".
Dita takjub Mas Ryan sudah lebih dulu mencari informasi tentang preschool untuk Xander. Dirinya saja belum mencari info apapun. Lelaki itu semakin terlihat family man kini, apapun untuk Xander selalu diutamakannya. Sungguh beruntung Xander mempunyai ayah yang bisa diandalkan seperti Mas Ryan. Semakin hari Dita semakin melihat jiwa kebapakan dalam diri Mas Ryan kian tumbuh.
Dita pun mendekat dan melihat beberapa brosur elektronik yang telah di kirimkan teman Mas Ryan. Di slidenya satu persatu, dibacanya dengan teliti, "Bagus semua Mas, sepertinya harus kita lihat langsung lokasinya satu persatu biar setelah itu baru kita pertimbangkan".
"Besok kita cek ya, kalau bisa harus cepat karena tanggal pendaftarannya tidak lama lagi" jawab Mas Ryan bersemangat.
"Kenapa kamu berkata begitu Dit? Sudah seharusnya kita memberi yang terbaik untuk anak kita, apalagi sudah banyak sekali moment bersama Xander yang aku lewatkan sampai usianya 3 tahun" jawab mas Ryan kemudian pandangannya terlihat menerawang.
"Memang aku bersama Xander selama ini, tapi aku merasa belum menjadi ibu yang baik untuknya Mas, banyak hal yang belum bisa aku lakukan untuknya. Terlebih selama tiga tahun ini hampir setiap hari Xander harus di daycare, aku tidak bisa selalu bersamanya seperti para ibu lain yang bisa 24 jam bersama anaknya. Dan nanti aku juga akan bekerja, aku belum bisa selalu ada untuknya" ucap Dita sambil menunduk.
__ADS_1
"Dit, kamu jangan berkata begitu, tidak ada orang tua yang sempurna termasuk kita. Kamu itu hebat. Ketika kamu menginginkan seperti ibu lain, banyak ibu lain di luar sana yang ingin seperti kamu. Aku yakin ketika nanti Xander dewasa dan mengerti, ia pasti akan bangga denganmu" jawab Mas Ryan sambil memegang kedua pundak Dita untuk menguatkannya.
Tak terasa air mata Dita jatuh, namun ia tersenyum, karena ada kelegaan kini di hatinya setelah mendengar ucapan Mas Ryan.
"Mas", panggilnya sambil menundukkan pandangannya. Ia bingung bagaimana cara menyampaikannya. Ia sudah memikirkan matang-matang bahwa ia sudah siap kini untuk menikah dengan Mas Ryan. Ia sudah siap dengan semua yang akan di hadapinya, sekalipun ada cobaan yang datang ia tidak akan mundur seperti waktu lalu. Ia telah benar-benar siap kini. Makin hari cintanya pun kian tumbuh subur, tak disadarinya setiap hari ia selalu menunggu kedatangan Mas Ryan ke rumah. Dan selalu terselip rasa kecewa jika Mas Ryan tidak mampir dan langsung pulang ke apartementnya.
Walaupun kini Mas Ryan terlihat lebih santai dan tidak semenggebu-gebu dulu untuk mengajaknya menikah, namun sikap santai Mas Ryan itulah yang membuatnya semakin penasaran.
Mas Ryan yang menunggu ucapan Dita selanjutnya pun kelihatan bingung. Di tatapnya wajah Dita yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu namun ragu-ragu.
Lama-lama ia mulai paham apa yang ingin Dita sampaikan. Pantas saja wanita di depannya itu malu dan ragu.
Di carinya mata Dita yang masih tertunduk, Dita yang di tatap seperti itu menjadi semakin salah tingkah.
"Kapan?" tanya Mas Ryan tiba-tiba sambil tersenyum menggodanya.
__ADS_1
Dita yang malu karena isi hatinya di ketahui oleh Mas Ryan memukul pelan lengan lelaki itu sambil tersenyum, "Secepatnya" ucapnya.
Mas Ryan tersenyum sumringah, bahagia kini menyelimuti dirinya, ditariknya Dita ke dalam pelukannya, dipeluknya erat sekali.