
"Mas," panggil Dita sambil berdiri.
Dilihatnya kembali ekspresi Mas Ryan yang dingin kemudian langsung menuju di meja kerjanya tanpa menjawab Dita.
Dita langsung tanpa basa basi mencecar suaminya dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dihatinya. "Mas, kamu kenapa Mas? Aku tidak bisa kalau kamu bersikap seperti ini terus. Salah aku apa Mas? Coba kamu jelaskan" ucap Dita sambil mendekat ke meja kerja Mas Ryan.
Mas Ryan berdiri kemudian duduk di sofa. Dita menyusul suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Riko itu mantan kamu kan?" ucap Mas Ryan to the point.
Dita terdiam, tenggorokannya seperti tercekat. Ia tidak menyangka Mas Ryan akan menyinggung hal ini lagi, ia juga tidak tahu darimanakah Mas Ryan tahu tentang Riko.
"Kenapa? Bingung aku tahu darimana?" lanjutnya.
"Mas, kenapa kita harus membahas ini?" tanya Dita.
"Kenapa kamu tidak jujur sejak awal? Kamu bilang dia teman kuliah" jawab Mas Ryan berapi-api.
"Mas, aku tidak bilang sama kamu bukan berarti aku macam-macam. Aku juga tidak berniat menyembunyikan dari kamu. Aku hanya merasa itu bukan hal yang penting lagi. Aku hanya menganggapnya teman kuliah, masa laluku sudah kuhapus, sekarang aku hanya fokus pada rumah tangga kita saja Mas" ujar Dita membela diri.
__ADS_1
"Tapi itu penting bagiku. Setidaknya aku tahu siapa saja yang pernah ada di hatimu sebelum aku" jawab Mas Ryan membantah. Ia ingin Dita lebih terbuka padanya, agar ia tahu siapa saja yang perlu ia waspadai. Ia benar-benar takut Dita mengkhianatinya.
"Tapi kamu kan tidak pernah bertanya soal itu Mas" ucap Dita sedikit kesal. Ia kesal terhadap Mas Ryan yang seolah-olah membesar-besarkan masalah kecil.
"Tidak semua perlu ditanyakan, seharusnya sore itu kamu bisa jujur sama aku. Melihat kamu yang terlalu ramah pada laki-laki lain saja aku tidak suka, apalagi ternyata itu mantan pacar kamu" ujar Mas Ryan.
"Aku merasa tidak berlebihan Mas, aku merasa sudah sewajarnya. Dia yang datang ke kantor, secara kebetulan aku ada di situ karena sedang menunggu kamu. Aku hanya bersikap profesional Mas, siapapun pelanggan tetap harus di layani dengan baik kan? Terlebih jika kita mengenalmya. Terlalu ramah seperti apa yang kamu maksudkan? Apa aku ada kontak fisik sama dia? Apa kubatalkan saja pembeliannya karena menghindari bertemu dengannya?" ujar Dita yang semakin kesal.
Mas Ryan tertunduk sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan.
Cukup lama ia terdiam kemudian mengangkat kepalanya.
Dita yang bingung melihat Mas Ryan yang sedang bersedih langsung membelai lembut punggung suaminya itu.
"Kalau menurutmu aku salah, aku minta maaf ya Mas" ucapnya luluh.
Mas Ryan mengangkat wajahnya kemudian menatap wajah Dita.
"Maafkan aku, aku yang salah. Aku terlalu takut kamu mengkhianatiku" ujarnya dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Jujur aku takut kalau apa yang terjadi padaku dulu akan terulang lagi. Maafkan aku, bayang2 masalaluku yang begitu pahit menjadi berimbas padamu" lanjutnya.
Dita belum berkata apapun. Ternyata Mas Ryan mengalami trauma masa lalu. Sampai-sampai ia cemburu buta seperti ini. Pantas saja cemburunya seperti tak beralasan.
"Mas, kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan mengkhianati rumah tangga kita. Apalagi yang mau aku cari Mas? Kini hidupku sudah sempurna. Kamu dan Xander adalah segalanya buatku" ucap Dita menenangkan suaminya.
"Aku mengerti kamu mungkin trauma dengan kejadian di masa lalu, tapi aku hanya ingin kamu percaya padaku. Jika memang aku ingin berhubungan dengan laki-laki lain, dulu saat aku pergi bisa saja aku berpacaran dengan lelaki lain. Tapi aku tidak bisa Mas" jelas Dita lagi.
Mas Ryan benar-benar menyesal karena pengalaman pahitnya telah berhasil menggelapkan matanya. Padahal seharusnya ia tidak perlu bersikap berlebihan pada Dita yang sudah jelas-jelas setia padanya.
Di peluknya tubuh Dita dengan erat. Ia sangat menyesal atas apa yang telah terjadi. Ia sungguh malu karena telah bersikap kekanak-kanakan kemarin.
Dita menyambut pelukan suaminya. Ia lega kini karena semua telah terselesaikan. Ia harus bisa belajar menerima sikap cemburuan suaminya itu mulai sekarang sambil pelan-pelan berusaha menyembuhkan rasa trauma yang ada pada Mas Ryan.
"Maafkan aku sayang, aku salah" ucap Mas Ryan yang sambil memeluk istrinya erat.
Dita membelai punggung suaminya itu. Hingga terdengar suara pintu terbuka. Seketika mereka terkejut dan menoleh, ternyata Dimas yang lupa mengetuk pintu sedang terlihat salah tingkah di sana.
"Maaf, maaf" ucapnya sambil segera keluar dan menutup pintu kembali.
__ADS_1
Mas Ryan dan Dita berpandangan kemudian tertawa lepas.