Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 14


__ADS_3

Sesampainya di Changi Airport mereka dijemput oleh supir dan mobil yang telah di sewa oleh Mas Ryan untuk keperluan mereka selama di Singapore.


Dita baru ingat sesuatu, "Mas, nanti selama kamu meeting aku akan bertemu dengan teman kuliahku yang sekarang tinggal di sini, tidak apa-apa kan?", tanya Dita.


"Apa tidak aku antar ke hotel dulu? Biar kamu bisa istirahat", Mas Ryan bertanya balik.


"Tidak usah Mas, nanti kamu kelamaan kalau harus mengantarku dulu. Aku langsung aja bertemu dengan temanku. Tidak apa-apa kan Mas?", Dita kembali mengulang pertanyaannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir kamu nanti kenapa-kenapa. Ngomong-ngomong teman kamu perempuan atau laki-laki?", tanya Mas Ryan.


"Aku akan jaga diri Mas, aku beberapa kali pernah travelling ke sini sendirian, jadi sudah terbiasa. Temanku perempuan Mas, namanya Sherly", jawab Dita


"Rencananya kami akan bertemu di Olio Cafe yang terletak di Orchard Road Mas. Tadi dia juga sudah mengirim pesan bahwa dia sudah berangkat dari apartemennya", lanjut Dita.


"Yasudah, yang penting kamu hati-hati dan beri kabar padaku kalau kemana-mana. Nanti setelah meeting akan aku jemput", ucap Mas Ryan penuh perhatian.


Dita pun mengangguk sambil tersenyum.


Tak lama kemudian mereka sampai di Orchard Road dan Dita langsung melihat Sherly yang sedang menunggunya.


"Itu dia Mas, temanku Sherly, yang berdiri di sana memakai baju pink", jelas Dita pada Mas Ryan.


Kemudian Dita pun berpamitan pada Mas Ryan. Sebelum Dita keluar dari mobil Mas Ryan menyelipkan beberapa lembar uang dollar Singapore di kantong celana Dita.


"Mas, tidak usah. Aku punya uang kok, kamu tenang aja", ucap Dita menolak.


"Dit, aku memaksa kali ini. Please, ambil", ujar Mas Ryan lembut sambil menatap mata Dita.


Dita pun mengangguk sambil tersenyum kemudian berlalu.


Mas Ryan pun menoleh ke arah Sherly sambil tersenyum ramah kemudian segera meninggalkan mereka yang sedang berpelukan rindu karena sudah lama tidak bertemu.


"Ya ampun Sher, aku kangen banget sama kamu", ucap Dita sambil mengguncang tangan Sherly.


"Aku juga Dit, udah lama kamu tidak ke sini", jawab Sherly sambil merangkul Dita masuk ke dalam cafe.

__ADS_1


Mereka memesan makanan dan mengobrol sambil bercanda, melepas rindu masa-masa kuliah dulu.


"Eh Dit, tadi yang mengantar kamu itu pacar kamu ya?", goda Sherly.


"Teman Sher, kebetulan dia ada urusan di sini", jawab Dita.


"Ah aku tidak percaya, kamu sama Dimas saja yang sahabatan jarang traveling bareng. Nah ini kamu tiba-tiba traveling sama orang lain, apa coba namanya kalau bukan pacar?", cecar Sherly penasaran.


Dita tertawa mendengar omongan Sherly yang ada benarnya. Ia dan Dimas memang jarang pergi bersama karena kesibukan masing-masing.


"Namanya Mas Ryan, usia kami terpaut 17 tahun. Kami memang lagi dekat. Sampai saat ini masih sebatas dekat kok Sher, belum lebih", jawab Dita.


"Berarti ada kemungkinan jadi lebih dong?", goda Sherly sambil mencolek lengan Dita.


Dita hanya bisa tersipu malu.


"Belum tahu Sher, aku masih bingung sebenarnya. Saat ini aku mencoba menjalani saja dan berharap akan menemukan jawaban atas keraguanku", ujar Dita.


"Lho, kenapa ragu Dit? Apa karena Mas Ryan jauh lebih dewasa dari kamu? Banyak kok Dit pasangan yang lebih jauh terpaut usianya, yang penting sih saling melengkapi Dit", ucap Sherly.


"Mas Ryan mempunyai istri", lanjut Dita.


"Haahhh??? Serius kamu Dit?!", ucap Sherly kaget.


Dita pun menjelaskan kondisi rumah tangga Mas Ryan, dan keraguan Dita. Dita benar-benar bingung. Perasaannya terlanjur bersemi pada Mas Ryan. Ia meminta saran pada Sherly apakah ia harus menjauh saja dari Mas Ryan sebelum terlalu jauh melangkah.


Sherly memegang tangan Dita sambil berkata, "Dit, aku mengerti perasaan kamu saat ini. Kamu sedang diantara pilihan yang berat. Aku bisa menebak bahwa kamu telah jatuh cinta pada Mas Ryan, sehingga kamu takut pada kenyataan buruk yang membayangi kamu".


Dita mengangguk lemas membenarkan pernyataan Sherly.


"Dit, seorang lelaki itu harus bisa memberi kepastian. Kepastian bahwa jika bersamanya kamu akan baik-baik saja. Tanyakan pada hatimu apakah kamu percaya pada Mas Ryan. Jika Mas Ryan bisa memberi kepastian itu, maka pertahankanlah. Namun jika Mas Ryan hanya ingin sekedar dekat denganmu tanpa adanya kepastian, maka kamu bisa menjauh darinya", lanjut Sherly.


Dita terlihat termenung membenarkan perkataan Sherly. Ia mulai menyadari bahwa ia membutuhkan kepastian dari Mas Ryan bahwa kedekatan mereka tidak akan dianggap sebagai perusak rumah tangga orang. Dita belum berani berharap lebih untuk saat ini.


Melihat temannya yang sedang galau, Sherly segera mengajak Dita ke sebuah pusat perbelanjaan agar Dita kembali bersemangat. Sherly menarik tangan Dita untuk segera pergi.

__ADS_1


Mereka berjalan-jalan dan berbelanja. Dita membeli sebuah tas dan sebuah dompet. Berbelanja memang membuat semua perempuan merasa bahagia. Segala permasalahan pun akan terlupakan jika sedang berbelanja. Begitulah wanita.


Ketika jam menunjukkan pukul 14.00 waktu Singapore ponsel Dita berdering. Mas Ryan meneleponnya, memastikan keadaannya dan memberitahu bahwa meetingnya akan menjadi lebih lama. Mas Ryan akan menjemput Dita jam 17.00.


Dita tidak keberatan karena ada Sherly yang setia menemaninya.


Pukul 17.00 Mas Ryan telah sampai di depan pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi, Dita dan Sherly pun saling berpamitan dan berjanji akan saling mengunjungi. Ditapun berterima kasih pada Sherly karena telah menemaninya.


Dita segera masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Sherly.


"Bagaimana tadi meetingnya Mas?", tanya Dita.


"Lancar, mungkin sekitar bulan depan projectnya akan di mulai", jawab Mas Ryan sambil tersenyum.


"Kamu beli apa?", tanya Mas Ryan sambil melirik paperbag yang di bawa Dita.


"Aku tadi beli tas dan dompet Mas', jawabnya.


"Aku ganti ya uangnya. Aku transfer ke kamu ya", ucap Mas Ryan.


"Tidak usah Mas, aku membeli ini atas keinginanku sendiri. Sungguh.", ucap Dita menolak.


"Dit, aku yang mengajak kamu ke sini. Dengan begitu aku yang bertanggung jawab atas kamu di sini, atas keamanan dan kenyamanan kamu, pokoknya kamu tidak boleh menolak kali ini", jelas Mas Ryan.


Dita hanya bisa mengangguk pasrah. Dan Mas Ryan pun tersenyum puas.


"Dit, kita ke suatu tempat dulu ya", ucap Mas Ryan.


"Kemana Mas?", tanya Dita.


"Ada deh", jawab Mas Ryan sambil mengedipkan matanya.


"Mas, jangan aneh-aneh ya, kita mau kemana?", tanya Dita lagi.


Mas Ryan semakin senang melihat Dita yang penasaran.

__ADS_1


__ADS_2