
Hari ini Dita bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega. Karena suasana di rumah pasti sudah lebih hangat setelah Mas Ryan tak lagi marah padanya.
Malam itu mereka makan malam dengan bercanda dan bersenda gurau seperti biasa. Bi Pur yang merasakan bahwa kondisi sudah aman terkendali pun kini tak lagi sungkan untuk sesekali menimpali candaan-candaan di meja makan malam itu.
Mungkin Xander belum terlalu paham dan sensitif tentang perubahan sikap kedua orang tuanya. Yang ia tahu hanyalah papa mamanya saat ini selalu ada untuknya. Itu saja sudah membuatnya bahagia.
Setelah membantu Bi Pur membereskan meja makan malam itu, Dita pun segera mengajak Xander untuk segera bersih-bersih dan ganti baju tidur.
Dihidupkannya lampu tidur agar tidak terlalu terang kemudian menemani anaknya hingga tertidur. Dita ikut tertidur saking lelahnya.
Tiba-tiba ia terbangun dan tersentak. Dilihatnya jam dinding ternyata sudah hampir menunjukkan pukul 23.00. Diliriknya ke samping ternyata Mas Ryan tidak berada di sana.
Diangkatnya kepala Xander yang masih berada di lengannya dengan perlahan agar tidak bangun. Dengan berjingkat ia keluar kamar dan melihat ke sekeliling. Di dapatinya semua ruangan yang sepi, Bi Pur sudah tidur pastinya.
Dibukanya ruangan satu persatu, namun tak ditemukannya suaminya itu. Dita mulai panik dan mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi Mas Ryan.
Ketika di panggilnya, terdengar suara ponsel Mas Ryan dari atas meja TV. Ternyata Mas Ryan tidak membawa ponselnya.
__ADS_1
Dita semakin panik hingga di dengarnya bunyi 'ting' 'ting' seperti besi-besi yang sedang berbenturan dari halaman rumah. Segera ia berlari dan menuju halaman.
Didapatinya Mas Ryan sedang sibuk dengan mobilnya. Mobil sedan berwarna coklat muda koleksinya yang selalu terparkir manis digarasi mereka. Mas Ryan yang kaget karena mendengar suara langkah kaki pun langsung menoleh.
"Mas, lagi apa malam-malam begini?" tanya Dita heran.
"Ini, lagi pasang beberapa aksesoris mobil yang baru aku beli. Sudah lama tidak bongkar-bongkar mobil ini" jawab Mas Ryan.
Memang sudah lama sekali Dita tidak melihat Mas Ryan melakukan hobinya ini. Terlebih sekarang ada Xander yang selalu mengambil waktu papanya dirumah sehingga tak ada lagi waktu Mas Ryan untuk sekedar menyalurkan hobi otomotifnya.
Mas Ryan segera menghampiri istrinya yang baru saja mengomel itu. "Iya sayang, maaf ya. Tadi aku lihat kamu tidur makanya aku langsung keluar dan tidak bilang sama kamu".
"Aku takut kamu seperti waktu itu Mas, pergi entah kemana karena ada masalah terus pulang-pulang mabuk" ujar Dita jujur.
Mas Ryan tersenyum lebar mendengar kekhawatiran Dita. Ia juga senang istrinya mengkhawatirkan dirinya. "Tidak sayang, tidak. Maaf ya. Kamu tidur lagi saja, aku sebentar lagi selesai" ucap Mas Ryan sambil mengecup kening istrinya itu.
"Aku di sini saja Mas, aku mau menemani kamu" jawab Dita sambil menuju mobil yang sedang dikerjakan Mas Ryan.
__ADS_1
Mas Ryan tak bisa melarang keinginan istrinya itu. Ia membiarkan Dita duduk memperhatikannya sambil mengobrol dan bercanda.
Dita senang melihat Mas Ryan seperti ini, ia kasihan kalau Mas Ryan terlalu keras bekerja. Mungkin menyalurkan hobinya ini akan mengurangi beban pikirannya tentang pekerjaan.
Dilihatnya keringat mengalir dan membasahi wajah Mas Ryan. Baju kaos putih polos yang dikenakannya pun sudah transparan karena kucuran keringat. Dita tak merasa jijik sedikitpun, malah menurutnya suaminya keren sekali karena keringatan seperti itu. Manly dan macho dimatanya.
Tak lama kemudian Mas Ryan selesai dengan pekerjaannya dan membereskan perkakas yang telah ia pakai. Dita ingin mencoba masuk ke dalam mobil melihat interiornya, maklum Dita belum pernah melihat isi dalam mobil tua Mas Ryan yang satu ini. Mobil ini hanya untuk seru-seruan dan objek untuk hasrat bongkar membongkar Mas Ryan saja. Jarang sekali ia gunakan, apalagi ke kantor mungkin tidak pernah. Hanya sesekali dibawanya keluar untuk berjalan-jalan. Selebihnya ya hanya terletak begitu saja digarasi mereka.
Dita duduk di bangku tengah, menyalakan lampu dan melihat-lihat interiornya. Ia cukup kagum karena ternyata Mas Ryan benar-benar merawat mobil tua ini dengan baik. Sangat terlihat masih bagus dan mewah. Interiornya terlihat sangat mahal. Tak sedikitpun tampak seperti mobil tahun lama. Mungkin inilah alasannya Mas Ryan sangat sayang untuk menggunakan mobil ini.
Tiba-tiba Mas Ryan masuk dan melihat istrinya sedang memperhatikan isi dalam mobilnya itu. Dengan bangganya ia menjelaskan setiap detail dari apa yang terdapat di sana.
Karena di dalam mobil terasa panas sebab mesin dan AC mobil yang tidak menyala, Dita mengajak Mas Ryan untuk segera keluar.
"Ayo Mas, sudah malam" ucapnya sambil membuka pintu mobil.
Tiba-tiba Mas Ryan menarik tangannya mencegah Dita untuk keluar. Dibawanya Dita ke dalam pelukannya. "Habis bongkar mobil, sekarang aku mau bongkar istriku" ucapnya sambil tersenyum jahil.
__ADS_1