
Setelah menelepon Sherly, Dita mulai mencari nomor kontak pihak ASEAN Foundation Research Scholarship selaku pemberi beasiswanya. Ada beberapa hal yang perlu ia tanyakan. Pertanyaan yang akan jadi penentu jadi atau tidaknya ia mengambil beasiswa tersebut.
Setelah ketemu, Dita pun segera menekan nomor yang ia dapat tersebut dan melakukan panggilan melalui ponselnya.
Terdengar suara panggilan yang sedang tersambung. Tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita yang mengangkat teleponnya.
Dita memberi tahu pihak pemberi beasiswa bahwa dirinya sedang hamil. Ternyata pihak tersebut tidak keberatan, dan kalaupun seandainya Dita memerlukan cuti ia bisa mengambilnya namun waktu pemberian beasiswa tetap maksimal tiga tahun alias enam semester. Dan untuk tunjangan keluarga yang ditanggung yaitu anak dan suami. Dita hanya perlu memberikan surat keterangan kelahiran anaknya nanti untuk mendapatkan tunjangan tersebut.
Ia lega luar biasa setelah mendengar penjelasan dari pihak pemberi beasiswanya. Ia tidak perlu menyertakan surat nikah ataupun surat keterangan lain selain surat keterangan kelahiran anaknya nanti agar anaknya di akui, serta mendapat tunjangan untuk kehidupan di sana.
Sepertinya kini ia sudah menemukan titik terang. Jawaban atas keraguannya. Ia kira pihak pemberi beasiswa akan keberatan jika ia dalam kondisi hamil. Ia juga tidak berharap tunjangan untuk anaknya, diperbolehkan untuk mempunyai anak saja ia sudah bersyukur.
Siang itu juga ia mengkonfirmasi bahwa ia menerima beasiswa tersebut serta mengirimkan segala berkas yang di perlukan untuk mengurus visa belajar. Kemungkinan dua minggu lagi ia akan berangkat.
__ADS_1
***
Dita berencana segera memeriksakan kandungannya untuk memastikan kondisi anak di dalam rahimnya sehat dan baik-baik saja sebelum ia berangkat nanti.
Ia juga berniat ingin meminta maaf pada Dokter Aldy karena kini ia sadar bahwa reaksinya hari itu terlalu berlebihan.
Malam itu pasien Dokter Aldy terlihat ramai. Dita mendapatkan nomor antrian hampir terakhir,ini semua dikarena supir taksinya lama sekali datang menjemputnya hingga ia sedikit kemalaman sampai di sini.
Dokter Aldy terlihat profesional, ia menyapa Dita layaknya menyapa pasiennya yang lain. Kemudian menginstruksikan untuk berbaring dan meletakkan alat USG di perut Dita yang kian membesar. Dokter Aldy sambil menjelaskan bahwa janinnya tampak sehat dan berkembang sesuai usia kehamilannya. Ia juga memperlihatkan bagian wajah anaknya yang belum terlihat begitu jelas.
Dokter Aldy sungguh profesional, ia menjelaskan semuanya terkait kondisi janinnya tanpa ada yang luput dari penjelasannya. Penjelasannya yang menggunakan bahasa yang ringan membuat orang mudah paham atas penjelasannya. Pantas saja ia menjadi dokter idolanya para ibu hamil, selain berwajah ganteng ia juga pintar.
Setelah USG dilakukan, Dita duduk di kursi yang ada di seberang Dokter Aldy. "Aku minta maaf atas perkataanku kemarin, aku tidak bermaksud menyinggungmu " ucap Dita setengah berbisik agar tidak di dengar perawat.
__ADS_1
Dokter Aldy tersenyum simpul mendengar permintaan maaf Dita. "Tidak apa-apa, aku mengerti" ucapnya agak dingin.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi. Terima kasih" jawab Dita.
Dita pun berdiri dan berjalan menuju ke luar ruangan dokter. Namun belum sempat ia meraih gagang pintu, "Dit" panggil Dokter Aldy.
Seketika Dita menoleh dan membalikkan badannya. "Iya" jawab Dita.
"Ada tiga pasien lagi, maukah kamu menungguku?" tanya Dokter Aldy yang di sambut senyuman oleh Dita yang mengangguk.
Dita pun segera keluar ruangan dokter dan duduk di kursi tunggu.
Sekitar satu jam Dita menunggu akhirnya Dokter Aldy keluar ruangan tanpa memakai jas putihnya untuk menghampiri Dita .
__ADS_1