
Mata Dita terasa berat untuk terbuka. Namun dicobanya dengan sekuat tenaga. Terlihat langit-langit sebuah ruangan, tapi belum terlihat dengan jelas.
Terdengar suara tangisan pilu menyayat hati di sampingnya, dengan mata yang masih setengah terbuka dilihatnya dengan seksama siapakah yang sedang berada di sebelahnya itu.
Ternyata Mas Ryan yang sedang menangis terisak di sampingnya. Dengan wajah tertunduk di kasur, sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Dita ia menangis tersedu-sedu. Entah apa yang sedang ia katakan dalam tangisnya, Dita tak dapat mendengarnya dengan begitu jelas.
Dita memandang ke sekelilingnya, dilihatnya ia berada di sebuah ruangan dengan beberapa tempat tidur yang berbataskan kain gorden berwarna hijau muda. Sebuah alat infus terpasang di tangannya, dan dapat dirasakannya ada aliran oksigen yang di supply dari alat yang menempel di area mulut hingga hidungnya. Suara bising dari alat seperti komputer kecil yang menunjukkan garis naik dan turun memenuhi ruangan. Ternyata ia sedang berada di rumah sakit.
Dita dapat merasakan badannya terasa sangat sakit, seperti remuk dan tidak bisa di gerakkan. Ia berusaha menggerakkan tangannya namun gagal. Badannya terasa kaku dan sakit luar biasa.
__ADS_1
Dicobanya sekali lagi, ia gerakkan tangannya sebisa mungkin. Sontak Mas Ryan terkejut merasakan tangan Dita yang bergerak dalam genggamannya. Ia langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah istrinya. Dilihatnya mata Dita yang sudah terbuka menandakan Dita sudah siuman.
Refleks ia berdiri dan mencium kening istrinya itu. Terlihat senyum lebar tersungging dari bibirnya, dengan mata sembab ia membelai rambut Dita dengan lembut.
Kemudian Mas Ryan bergegas keluar memanggil dokter dan perawat. Tak lama kemudian Mas Ryan masuk dan disusul oleh dua orang perawat.
Perawat tersebut tersenyum melihat Dita yang sudah siuman. Ia juga langsung mengecek kondisi Dita dan memastikan semuanya baik dan aman. Perawat tersebut juga mencoba mengajak Dita berkomunikasi, namun karena alat yang ada di mulut Dita ia pun hanya merespon dengan mengangguk saja.
Satu yang paling Dita ingin tahu saat ini adalah perihal kandungannya. Ia benar-benar takut mendengar kenyataan jika kandungannya tidak baik-baik saja. Ia tidak mau mengecewakan suaminya jika terjadi hal yang tidak diinginkan dengan anak kedua mereka.
__ADS_1
Setelah dokter meninggalkan ruangan, perawat melepas alat bantu oksigen dari mulut Dita, serta menyuntikkan beberapa obat ke selang infus Dita.
Mas Ryan yang masih duduk di samping Dita pun terus membelai rambut istrinya itu. Dita hanya bisa memandang wajah sembab suami tercintanya itu, ia dapat merasakan Mas Ryan yang begitu khawatir terhadap dirinya.
Ia masih sulit menggerakkan mulutnya untuk berbicara. Rasanya seperti kaku dan berat.
Mas Ryan yang melihat Dita berusaha menggerakkan mulutnya langsung mendekat. "Sayang, jangan dulu. Jangan di paksakan. Kamu istirahat dulu saja ya, jangan pikirkan yang macam-macam. Aku akan terus di sini" ucapnya menenangkan Dita.
Mas Ryan paham Dita kini masih sulit berkomunikasi dan menggerakkan badannya. Dokter telah menjelaskan padanya bahwa tubuh Dita akan mengalami trauma karena rasa terkejut atas kejadian yang sangat tiba-tiba. Salah satu dampaknya yaitu seluruh tubuh yang akan terasa kaku dan berat. Namun seiring dengan waktu tubuh Dita diharapkan akan kembali seperti semula.
__ADS_1
Luka dan memar di sekujur tubuhnya juga berpengaruh membuat tubuhnya terasa sakit yang luar biasa dan sulit untuk digerakkan.