
Dita mengusap pipi Mas Ryan yang basah karena air mata. Di pandangnya lelaki itu, di ambilnya sebelah tangan Mas Ryan dengan lembut kemudian di arahkannya ke perutnya,
"Dia pasti bahagia punya ayah yang sangat menyayanginya", ucap Dita sambil tersenyum.
Mas Ryan pun memeluk Dita dengan erat. Kemudian menunduk dan mencium perut Dita dengan lembut.
Mas Ryan memang sudah sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Diusianya yang sudah empat puluh satu tahun ia masih saja belum memiliki keturunan. Ia terkadang iri melihat teman-temannya yang lain, jika ke sebuah acara pasti datang dengan keluarganya. Bahkan tak jarang anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah duduk di bangku kuliah. Sedangkan dirinya, masih saja sibuk dengan pekerjaan pekerjaan dan pekerjaan.
Ia benar-benar berharap Dita akan menjaga kehamilannya dengan baik. Mas Ryan pun berjanji akan turut menjaga Dita dan calon anaknya itu dengan sebaik-baiknya. Ia ingin anaknya kelak tidak kekurangan kasih sayang orang tua. Oleh karena itu dari dalam kandungan ia harus sudah melindungi dan menyayanginya.
Sejak hari itu, tidak dibolehkannya Dita mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ia menelepon sebuah yayasan penyedia asisten rumah tangga untuk mengirimkan asisten rumah tangga paruh waktu ke apartemen mereka.
Ia juga menelepon Pak Bagas, atasan Dita yang merupakan sahabatnya untuk mengijinkan Dita beristirahat sampai Dita pulih.
__ADS_1
Pak Bagas tahu mendetail tentang rumah tangga Mas Ryan sampai hubungannya dengan Dita. Tidak ada yang mereka tutupi satu sama lain. Hingga ketika dulu Mas Ryan sedang jatuh karena perselingkuhan Wina, Pak Bagas lah yang selalu ada untuk menghiburnya.
***
Pagi itu Dita bangun tidur agak siang karena ia masih ijin hari ini. Dilihatnya ke sekeliling, kemudian berguman, "Mas Ryan pasti sudah berangkat ke kantor".
Ia pun bangkit dan menuju meja makan untuk sarapan. Mas Ryan sudah menyediakan roti untuknya.
Pagi-pagi sekali Dita selalu terbangun karena lapar, oleh karena itu Mas Ryan selalu menyediakan roti untuk berjaga-jaga. Seperti hari ini, sebenarnya ia sudah makan omelet yang dibuatnya sendiri, ia terbangun pukul 05.00 pagi dan kelaparan kemudian berinisiatif untuk memasak. Dan sekarang pukul 09.00 ia kembali merasakan lapar seperti belum makan seharian. Kehamilannya membuatnya sering lapar, padahal usia kehamilannya baru memasuki 5 minggu namun sepertinya berat badannya sudah mulai naik karena nafsu makannya yang kuat.
"Lho, Mas, kamu tidak bekerja? Dari mana kamu Mas?", tanya Dita heran.
"Tidak, aku tidak ke kantor hari ini, aku barusan dari supermarket", ucapnya sambil meletakkan kantong-kantong itu di atas meja.
__ADS_1
Kemudian dikeluarkannya hasil belanjaannya satu persatu. Mata Dita pun terbelalak melihat belanjaan Mas Ryan yang isinya penuh dengan makanan, mulai dari roti, wafer, crackers, kacang-kacangan, buah apel, pear, melon, strawberry, jeruk, hingga susu hamil dengan berbagai macam rasa.
"Mas, kita mau buka toko?", tanya Dita.
Mas Ryan pun terkekeh melihat Dita yang keheranan. "Sekarang kamu tidak usah pusing kalau lapar, tinggal ambil sesuai keinginan kamu", jawab Mas Ryan.
"Terus ini susu kenapa macam-macam begini Mas?", tanyanya sambil membolak balik kan kotak susu-susu tersebut.
"Aku browsing mencari susu hamil yang paling bagus, kemudian aku beli. Tapi, aku tidak tahu yang paling enak yang mana, ya sudah aku beli saja semua rasanya", ujarnya santai.
Gantian kini Dita yang terkekeh mendengar cerita Mas Ryan.
"Kalau begini aku bisa-bisa gendut bukan karena hamil Mas, tapi karena kebanyakan makan", ucap Dita.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, yang penting anak kita sehat", ucapnya sambil mengecup pipi Dita.
Tiba-tiba terdengar suara bell dari pintu. Mas Ryan segera mengecek siapa yang datang lewat layar yang terpampang di samping pintu. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah berdiri di sana.