Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 54


__ADS_3

"Keluar kamu!" bentak Mas Ryan.


Mira pun langsung membuka pintu mobil dan berlari sejadi-jadinya.


Melihat Mira yang terpontang panting berlari meninggalkan Mas Ryan, Erick dan supir Mas Ryan pun langsung masuk dan menuju kantor tanpa bertanya sedikitpun tentang apa yang terjadi.


Setibanya di parkiran kantor, Mas Ryan langsung duduk di kursi kemudi. Disuruhnya Erick dan supirnya untuk turun, kamudian langsung pergi dan berlalu.


***


Telah seminggu Dita menempati rumah kontrakannya. Rumah ini cukup luas baginya yang tinggal seorang diri.


Hari-harinya hanya di isi dengan menangis dan menangis. Ternyata belum cukup baginya setelah seminggu menghabiskan hari-hari dengan menangis.

__ADS_1


Dita masih sedih dengan nasibnya kini. Ia merasa tidak mempunyai siapa-siapa kali ini kecuali bayi yang ada di dalam kandungannya.


Dita sudah pasrah bahwa dia tidak akan bisa bekerja unuk sementara waktu. Karena untuk melamar pekerjaan pun ia harus mencantumkan identitas suaminya ketika hamil begini.


Ia tidak mengkhawatirkan masalah keuangannya, ia masih mempunyai tabungan yang cukup untuk itu.


Selama ini Dita selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk di tabung, kemudian uang pemberian Mas Ryan setiap bulannya tidak pernah ia pakai, dan uang hasil penjualan rumah serta harta warisan pemberian kedua orang tuanya masih tersimpan aman di rekeningnya.


Ia rasa itu lebih dari cukup untuk sampai ia melahirkan nanti. Tetapi walaupun begitu, Dita butuh mencari kesibukan guna mengalihkan rasa sedihnya.


Dilihatnya matanya dalam-dalam. Ia melihat kesedihan itu telah membuatnya menjadi seperti ini. 'Bukan kah ini juga terjadi karena apa yang telah ia lakukan. Seharusnya ia tidak boleh terpuruk terlalu lama, seharusnya dia harus sudah siap dengan segala kondisinya. Ia harus bisa menata kembali kehidupannya. Ia harus bangkit demi anak yang sedang di kandungnya'. Dan ia terus membathin atas apa yang harus ia lakukan saat ini.


Disunggingkannya sedikit senyum dibibirnya. Senyum yang akhir-akhir ini tidak pernah terlihat pada dirinya. Ia berusaha mensusgesti dirinya untuk bangkit dan memulai hidup barunya di sini.

__ADS_1


Tiba-tiba ia meringis karena kembali merasakan kram di bagian perutnya. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Ia tunggu namun rasa sakit itu tidak kunjung hilang. Ia baru ingat bahwa belum sekalipun memakan obat kram dari dokter. Ia juga ingat bahwa obat tersebut di letakkannya di mobil Mas Ryan hari itu.


Malampun tiba, Dita terlihat meringkuk di tempat tidurnya sambil memegangi perut. Ia sampai berkeringat karena menahan sakit. Biasanya Mas Ryan selalu ada ketika perutnya merasakan kram. Ia selalu mengelus perut Dita dan mengajak anaknya berkomunikasi agar Dita rileks. Ia selalu siaga menjaga kehamilan Dita. Namun kali ini Dita hanya sendiri. Tak ada lagi yang mengelus perutnya, tak ada lagi yang menenangkannya, dan tak ada lagi yang menemaninya ke dokter untuk melihat anak mereka.


Ia pun segera mencapai ponselnya dan memesan taksi online. Ia merasa harus ke dokter kali ini. Ia khawatir akan kandungannya.


Tak lama kemudian taksi pun tiba, Dita segera minta di antarkan ke dokter kandungan terdekat. Beruntungnya sampai disana pasien sedang tidak ramai, sehingga ia tidak lama menunggu.


Melihat Dita yang sudah meringis kesakitan, perawat pun segera meraih lengan Dita dan membantunya masuk ke ruangan dokter.


Dokterpun dengan sigap memeriksa Dita. Ia melakukan USG guna memastikan kondisi janin yang ada dalam kandungan Dita.


Kemudian meminta Dita untuk tetap berbaring. "Bu, bisa saya bicara dengan suaminya?" tanya dokter tersebut.

__ADS_1


Dita terdiam dan tertegun.


__ADS_2