Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 13


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 17.00, Mas Ryan baru saja selesai dengan pekerjaannya. Dita sedari tadi duduk di samping Mas Ryan sambil mendengarkan musik dengan handsfreenya karena takut mengganggu konsentrasi Mas Ryan yang sedang bekerja.


Mas Ryan pun mencabut sebelah handsfree Dita dan mereka mendengarkan musik bersama-sama. Mereka bernyanyi bak penyanyi yang sedang konser sambil tertawa berdua.


Sebelum mereka berdua meninggalkan ruangan Mas Ryan, Mas Ryan menahan Dita dan berkata, "Aku hari Sabtu nanti akan berangkat ke singapore untuk bertemu klien dan menyerahkan project yang aku kerjakan tadi. Kamu mau tidak ikut ke Singapore bersamaku?".


"Team ku juga akan berangkat, tapi mereka berangkat duluan hari Jumat untuk mempersiapkan meeting di sana. Hari Minggu kita sudah akan kembali ke sini", lanjut Mas Ryan.


"Bagaimana Dit, kamu mau tidak ikut bersamaku?", tanya Mas Ryan.

__ADS_1


Dita tampak berfikir, sudah lama memang ia tidak jalan-jalan. Singapore sepertinya pilihan yang tepat untuk mengisi weekendnya kali ini. Lagian juga tidak lama dan ia tidak perlu membolos, hari Minggu mereka sudah akan pulang lagi.


Tapi, ia takut malah akan mengganggu pekerjaan Mas Ryan di sana. "Apa kalau aku ikut tidak malah mengganggu pekerjaan Mas di sana?", tanya Dita.


"Meetingnya tidak lama kok, karena persiapan semua sudah di urus team. Selepas meeting kita bisa berjalan-jalan", ujar Mas Ryan sambil tersenyum.


"Disana nanti kamu bisa sambil refreshing, meninggalkan masalah pekerjaan sejenak", rayu Mas Ryan agar Dita mau ikut bersamanya.


Mas Ryan pun tersenyum puas, karena ia akan merencanakan sesuatu ketika di sana nanti. Dan ia berharap semoga rencananya berjalan lancar.

__ADS_1


"Baik, aku akan minta Erick, asistenku untuk mengurus tiket keberangkatan kita", ujar Mas Ryan sambil tersenyum girang.


Keesokan malamnya Dita mempersiapkan perlengkapan yang akan ia bawa. Sebuah koper kecil yang cukup untuk travelling satu dua hari sudah ia siapkan. Setelah mengecek semua perlengkapannya Dita pun segera beranjak tidur karena mereka mengambil penerbangan pukul 7 pagi, sehingga subuh nanti Dita sudah harus berada di bandara. Ia akan langsung bertemu dengan Mas Ryan di bandara agar menghemat waktu. Tak lama kemudian Dita pun terlelap.


Subuhnya Dita bergegas bangun dan bersiap, segera ia memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke bandara. Sesampainya di bandara ternyata Mas Ryan telan menunggunya. Setelah selesai check in dan menunggu waktu boarding, tak lama kemudian mereka pun lepas landas.


Di pesawat Mas Ryan tertidur dengan pulasnya. Sepertinya ia kelelahan karena bekerja. Sampai-sampai di waktu weekend seperti ini juga dihabiskannya untuk bekerja.


Karena saking lelapnya tak sadar kepala Mas Ryan tersandar ke pundak Dita. Dita terkejut dan melihat wajah Mas Ryan yang sedang terlelap. Dita merasa kasihan jika harus membangunkannya, maka ia membiarkan Mas Ryan bersandar padanya. Ia terus memandang wajah Mas Ryan yang sejuk dan penuh ketenangan serta selalu membuatnya nyaman. Seperti saat ini, ketika Mas Ryan bersandar di pundaknya, ia merasakan darahnya berdesir, seolah ada listrik yang menyengat tubuhnya. Ia tidak tahu apakah itu cinta. Dan kalaupun itu cinta, apakah ia salah atas perasaan itu pada Mas Ryan. Entah lah, semoga akan ada jawaban atas segala keraguannya.

__ADS_1


Melihat wajah Mas Ryan yang begitu menenangkan, tak sadar tangan Dita pun tergerak membelai lembut pipi Mas Ryan yang sedang tertidur. Kemudian ia mendadak tersadar akan apa yang telah ia lakukan, ia segera menarik tangannya. Namun belum sempat tangannya turun, Mas Ryan dengan cepat mengambil tangan Dita dan meletakkan dipipinya kembali.


Wajah Dita terasa panas karena malu, wajahnya bersemu merah, darahnya berdesir, jantungnya berdegub kencang. Ternyata Mas Ryan tahu ketika tadi ia membelai wajahnya.


__ADS_2