
Siang itu Dita sudah janjian akan makan siang dengan Dimas. Ketika waktu makan siang tiba Dimas pun sudah melambai-lambaikan tangannya di kaca ruangan Dita.
Mereka pun segera menuju kantin kantor yang berada di lantai bawah. Dita memesan nasi putih dan seporsi sup ayam, sedangkan Dimas memesan Nasi putih dan ayam bakar. Mereka makan sambil bercerita, karena mereka sekarang jarang bisa bertemu untuk bercerita karena Dimas yang sangat sibuk mengikuti segala kegiatan Pak Bagas.
Setelah selesai makan, Dita pun memulai obrolan tentang inti dari apa yang ingin ia sampaikan pada Dimas. "Dim, sebenarnya gue mau jujur nih", ucapnya.
"Jujur kenapa Dit?", tanya Dimas.
"Sebenarnya gue pacaran sama Mas Ryan", ucap Dita jujur.
Ditapun menceritakan hubungannya dengan Mas Ryan kepada Dimas. Ia mengaku bahwa semua mengalir begitu saja. Dimas terlihat senang dengan cerita Dita. "Baru sekali ini gue suka sama pacar lu, diantara mantan-mantan pacar lu ga ada tuh yang gue seneng. Sama aja semuanya, cuma pengen seneng-seneng doang kan?", ucapnya.
__ADS_1
"Kok lu ngomongnya gitu sih? Pake bawa-bawa mantan segala", ujar Dita.
"Ya iya lah, kalau memang mantan-mantan lu dulu itu baik, ga ada tuh yang ngelamar elu, yang ada malah bikin elu nangis-nangis mulu, dan elu ngadunya ke siapa? Gue!", ucap Dimas sambil berapi-api.
"Iya juga sih", gumam Dita.
"Udah deh Dit, sekarang elu jalanin aja hubungan lu dengan Mas Ryan. Gue berdoa semoga Mas Ryan itu jodoh elu", ujar Dimas.
"Elu tenang aja, Mas Ryan pasti bakal pelan-pelan membenahi semuanya. Mas Ryan kan pastinya juga pengen punya keluarga yang normal Dit, di umurnya yang udah segitu pasti dia pengen punya istri yang bisa bikin dia bahagia, pengen punya anak, pengen hidup normal kayak orang-orang. Jadi pastinya ga lama lagi Mas Ryan pasti bakal memutuskan", jelas Dimas.
"Tapi kalau pada keputusannya Mas Ryan memilih istrinya gimana?", tanya Dita dengan lesu.
__ADS_1
"Ya kalau memang Mas Ryan bakal memilih istrinya, mungkin itu udah dilakukannya dari dulu", jawab Dimas.
Dita hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dimas. Tak lama kemudian ia dan Dimas pun segera balik ke kantor dan kembali bekerja hingga pukul 17.00
Hari itu Dita cukup lega mendengar pencerahan dari Dimas tadi siang. Sudah seharusnya ia harus optimis dengan hubungannya.
Memang sudah satu minggu sejak kepulangan Dita dan Mas Ryan dari Singapore mereka belum ada bertemu. Karena Mas Ryan sibuk dengan persiapan project yang akan di mulai. Sebenarnya bisa saja Dita memaksa untuk bertemu, tapi ia tidak melakukannya. Ia mengerti, Mas Ryan sedang menjalankan project penting.
Setiap pagi disempatkannya memasak untuk mengirimkan Mas Ryan sarapan. Seperti pagi ini, Dita bangun pagi-pagi untuk membuatkan bubur ayam, kemudian dikirimkannya ke kantor Mas Ryan.
Karyawan kantor Mas Ryan pun heran, kini Mas Ryan jadi lebih rajin sarapan di kantor. Mas Ryan juga terlihat selalu ceria. Memang cinta bisa membuat orang menjadi lebih bahagia.
__ADS_1
Mas Ryan berjanji akan menemui Dita saat pekerjaannya sudah sedikit longgar. Saat ini ia selalu pulang malam untuk lembur. Oleh karena itu ia masih belum bisa bertemu dengan Dita.