
Saat Dita tidur ia terbangun, ia merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Ketika ia berbalik, ternyata itu Mas Ryan yang baru saja selesai bekerja dan sudah berada di tempat tidur.
"Sudah selesai Mas?", tanya Dita.
"Sudah, semua revisi sudah selesai, besok Erick yang akan mengantarkannya kepada klien", jawab Mas Ryan.
Dita yang sudah terlanjur terbangun pun tidak bisa lagi memejamkan matanya. Ia melihat jam di ponselnya, ternyata sudah jam 02.00, berarti sudah dua jam ia terlelap.
"Mas..", panggilnya.
"Iya..", jawab Mas Ryan.
"Apakah aku boleh memberitahu Dimas tentang hubungan kita?", tanya Dita.
"Tentu saja boleh, oh iya ngomong-ngomong Dimas itu sangat berjasa lho, kalau saja ia tidak mengajak kamu malam itu mungkin kita tidak akan kenal", ucap Mas Ryan sambil tertawa.
"Iya juga ya Mas, kalau saja Dimas malam itu tidak membujukku untuk menemaninya mungkin aku tidak akan berjumpa dengan kamu", ujar Dita.
"Tapi, kalau bisa karyawan kamu di kantor jangan tahu dulu tentang kita Mas", lanjut Dita.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?", tanya Mas Ryan.
"Aku takut mereka akan menyangka bahwa aku pacaran dengan kamu hanya karena materi, ditambah lagi nanti kamu malah jadi bahan gosip bagi karyawan kantor", jelas Dita.
"Kamu mau pacaran dengan aku karena apa?", tanya Mas Ryan dengan senyum jahil khas nya.
Dita pun menjawab, "Karena apa ya? Mungkin karena aku khilaf".
Mereka berdua pun tertawa.
Lagi-lagi Mas Ryan mendekat ke arah Dita, ia memegang wajah Dita dan menciumnya. Dita merasakan ciuman Mas Ryan bukan ciuman yang seperti tadi, kali ini lebih menggebu-gebu. Dita pun membalas ciuman Mas Ryan dengan memeluk pinggangnya, seolah tak ingin Mas Ryan melepaskannya. Segera Dita tersentak dan melepaskan ciumannya. Dita pun memunggungi Mas Ryan.
Dita pun hanya terdiam dan masih membelakangi Mas Ryan. Dadanya berdegub kencang, darahnya dari tadi tak henti-hentinya terasa berdesir. Sesungguhnya ingin ia menyambut perlakuan Mas Ryan. Tetapi ia takut Mas Ryan akan semena-mena padanya jika ia telah memberikannya. Ia sadar bahwa Mas Ryan adalah lelaki yang sudah sangat matang secara usia, dimana nafsunya sedang berada pada puncaknya namun ia juga terlihat lebih tenang dan pengertian serta tidak emosional.
"Mas..", panggil Dita yang masih membelakangi Mas Ryan.
"Iya..", jawab Mas Ryan lembut.
"Apa kamu akan meninggalkan aku Mas?", tanyanya pelan.
__ADS_1
"Tidak sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kita akan terus bersama", jawab Mas Ryan.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?", tanya Mas Ryan.
Dita pun menjawab, "Aku takut Mas jika perasaanku ini akan menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Jika aku sudah mencintai seseorang, maka seluruh pikiran, hati dan jiwaku hanyalah untuknya. Jadi aku takut akan kecewa pada akhirnya. Jujur, belum ada lelaki yang pernah menyentuhku Mas. Aku menjaganya hanya untuk pria yang benar-benar tepat dan pantas untuk mendapatkannya."
Mas Ryan pun terenyuh mendengar pernyataan Dita. Ia pun memeluk Dita dengan hangat dan mengerti apapun keputusan Dita.
Tiba-tiba Dita membalikkan badannya dan mencium Mas Ryan. Mas Ryan pun menyambutnya. Dita pun memeluk pinggang Mas Ryan. Tangan Mas Ryan pun segera bergerilya, dan tak ada penolakan kali ini.
Dita pun berusaha menahan suaranya. Mas Ryan memintanya untuk rileks dan melepaskan suaranya. Terdengar desahan Dita yang membuat Mas Ryan semakin menggebu-gebu.
Terdengar suara Dita yang meringis kesakitan. Mas Ryan tertegun ternyata Dita benar-benar masih perawan. Segera ia mengecup kening Dita.
Mas Ryan pun melakukannya dengan perlahan-lahan dan membuat Dita lupa akan rasa sakitnya. Tak lama keduanya terbaring tak berdaya ditempat tidur.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 03.00. Karena kelelahan, keduanya merasa lapar. Mas Ryan berinisiatif menelepon bagian restaurant dan memesan beberapa makanan.
Setelah selesai makan, Dita pun mengantuk ingin segera tidur. Tapi ternyata tak semudah itu baginya untuk tidur, Mas Ryan kembali melakukan serangan atas dirinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar suara ponsel Mas Ryan berdering. Ternyata Erick, asisten Mas Ryan yang menelepon sepagi itu. Erick menyampaikan bahwa penerbangan mereka yang seharusnya jam 11 pagi, mundur menjadi jam 2 siang. Kalau biasanya mendengar berita seperti itu Mas Ryan akan langsung kesal, namun kali itu tidak. Ia malah terlihat senang. Erick pun merasa keheranan, padahal ia sudah bersiap untuk mencari tiket baru agar Mas Ryan bisa pulang tepat waktu. Namun tak sedikitpun ada nada kesal dari suara nya. Akhirnya Erickpun mengurungkan niatnya.