
Mas Ryan meninggalkan rumah dengan hati dan perasaan yang kacau. Sesampainya di kantor ia pun segera memimpin rapat hari itu. Ia berusaha terlihat baik-baik saja. Ia tidak mau para karyawannya terkena imbas dari permasalahan pribadinya.
Setelah selesai rapat, Mas Ryan kembali ke ruangannya. Ia nyalakan komputer yang ada di mejanya, kemudian membolak balikkan berkas yang harus ia tanda tangani. Namun pikirannya tidak bisa fokus. Terus saja ia memikirkan kejadian tadi pagi. Pertengkarannya dengan Wina membuatnya kacau. Terngiang ngiang kembali ucapan Wina yang mengatakan jika ia ingin orang tuanya bahagia maka mereka harus memperbaiki hubungan mereka.
Namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Perasaannya pada Wina telah pudar, bahkan hilang. Sekarang ia hanya ingin hidup bersama Dita. Ia berharap ketika nanti orang tuanya datang ia bisa meluruskan semuanya dan hidup dengan tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba semua bayangan kejadian yang telah terjadi pada rumah tangganya di masa lalu melintas di benaknya. Membuat Mas Ryan makin tidak bisa berkonsentrasi. Kejadian ketika pertama kali ia mendapati Wina berselingkuh. Ia ingat sekali saat itu pukul 22.00 ia sengaja menjemput Wina ke butiknya, ternyata butik sudah tutup dan gelap namun mobil Wina dan sebuah mobil yang tak ia kenal masih terparkir di sana. Kemudian ia menelepon ke ponsel Wina berkali-kali namun tak ada jawaban. Ia takut terjadi sesuatu dengan Wina. Di telusurinya pintu-pintu dan jendela di sekitaran butik namun semua telah terkunci. Akhirnya ia pun menunggu di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan. Tak lama kemudian pintu butik terbuka, keluar lah Wina berangkulan bersama seorang lelaki tampan yang terlihat muda dan modist. Mereka terlihat bahagia sambil sesekali tertawa. Mas Ryan melihat mereka berdua berciuman mesra sebelum keduanya masuk ke mobil masing-masing dan meninggalkan tempat itu. Tinggallah Mas Ryan yang masih shock dan terpaku yang baru saja melihat istrinya bermesraan dengan lelaki lain. Hatinya hancur berkeping-keping. Ditambah lagi Wina tidak berkelit saat ia menanyakannya. Ia mengakui semuanya. Ia semakin merasa tidak punya harga diri sebagai seorang lelaki.
Mas Ryan semakin terlihat gelisah dengan bayangan-bayangan masa lalunya yang terus saja melintas di kepalanya. Di sambarnya kunci mobilnya kemudian pergi meninggalkan kantor.
***
__ADS_1
Alex bilang Mas Ryan sudah meninggalkan kantor sejak pukul 15.00 tadi, dan tidak ada jadwal meeting sore ataupun malam ini. Dita pun bertambah panik dan gelisah.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, belum ada tanda-tanda Mas Ryan pulang. Ponselnya juga belum bisa dihubungi. Segera Dita memakai jaketnya dan mengambil kunci mobil. Ia berkeliling sambil melihat kanan kiri. Ia juga mampir ke tempat makan dan cafe-cafe yang sering dikunjungi oleh Mas Ryan, namun belum juga ia menemukan Mas Ryan.
Sudah terasa jauh Dita berkeliling, sampai pukul 01.15 tak juga membuakan hasil. Ia pun pulang dengan perasaan tak menentu. Namun ia berharap Mas Ryan sudah pulang ke apartemen.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, di lihatnya masih kosong. Di periksanya setiap ruangan namun Mas Ryan tidak ada di sana. Ia terus mencoba mengbungi ponselnya namun belum juga aktif.
Dita pun terduduk di tepi tempat tidur sambil menangis, ia benar-benar mengkhawatirkan Mas Ryan.