
Dita terbangun dan melihat jam di dinding, ternyata pukul 00.30. Ia merasa lapar kemudian bangkit menuju dapur. Dilihatnya Mas Ryan masih menonton televisi.
"Lho, kamu kok bangun?", tanya Mas Ryan.
"Aku lapar Mas", ucapnya sambil membongkar laci di dapur.
Tak lama kemudian di keluarkannya makaroni dan beberapa bahan lainnya. Di ambilnya stok saus keju yang dibuatnya dua hari lalu dari dalam kulkas dan daging cincang yang dibelinya tadi siang di supermarket
"Mas, aku mau bikin makaroni panggang, kamu mau?", tanyanya.
Mas Ryan pun mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Mas Ryan memandang punggung Dita yang sedang memasak. Sisi keibuannya kian terpancar dan membuat Mas Ryan semakin sayang padanya.
__ADS_1
Direbusnya sekitar dua genggam makaroni, sambil menunggu makaroninya lembut, ia pun dengan lihainya mengambil pan yang lain kemudian menumis daging giling dan memasukkan saus keju. Setelah mendidih ia pun menambahkan sedikit garam dan bawang putih bubuk. Diliriknya macaroninya mulai matang, kemudian di masukkannya ke dalam dua buah alumunium cup, dan menyiramkan saus keju yang barusan ia buat serta menaburkan bubuk oregano di atasnya. Segera dimasukkan nya ke dalam oven untuk dipanggang selama 10 menit.
Dita pun membawa hasil masakannya ke Mas Ryan yang masih fokus dengan tayangan televisi. Kemudian terlihat ekspresi Mas Ryan yang berbinar-binar melihat masakan wanita yang ia cintai itu. Bagi Mas Ryan, masakan Dita tidak pernah failed, selalu mengesankan baginya.
Sambil makan dan menonton televisi Dita pun berkata, "Mas, tadi sepulang belanja aku heran melihat lemari ku agak berantakan. Tapi hanya di bagian baju dress saja".
"Apa ada orang yang membuka-buka lemari ya Mas?", tanya Dita.
"Maksud kamu Bi Pur?", tanya Mas Ryan balik.
"Benar juga, lagian ukuran baju kamu juga tidak muat sama Bi Pur", jawab Mas Ryan.
"Terus siapa?", tanya Mas Ryan.
__ADS_1
"Sebenarnya tadi pagi Bi Pur ijin untuk bertemu adiknya di sini, katanya ada yang mau disampaikan adiknya, aku membolehkannya Mas, karena aku pikir ya berlebihan juga kalau aku melarangnya kan", jawab Dita.
"Tapi aku tidak mau berprasangka buruk. Mudah-mudahan saja aku yang tidak sengaja memberantakannya", lanjut Dita.
***
Pagi itu Dita ikut Mas Ryan ke kantor karena suntuk di rumah. Ketika mereka akan berangkat Bi Pur pun datang. Mereka heran kenapa Bi Pur datang cepat sekali hari itu. Padahal baru jam 07.30. Tak lama Bi Pur masuk, kemudian di susul dengan adiknya yang kemarin datang. Mas Ryan dan Dita saling berpandangan.
Bi Pur yang tidak enak hati pun segera mendatangi mereka, "Pak, Bu maaf sekali lagi saya bawa adik saya. Karena di rumah tidak ada orang jadinya dia mau ikut. Sebenarnya dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran hotel. Tapi sekarang sedang off. Saya sengaja datang pagi-pagi supaya bisa ijin dulu sama Bapak dan Ibu, karena kalau saya datang di jam biasa takutnya Bapak dan Ibu sudah tidak ada di rumah", jelas Bi Pur panjang lebar.
Mas Ryan dan Dita hanya menjawabnya dengan senyum, karena tidak tahu mau berkata apa.
Mas Ryan melirik adik Bi Pur yang sejak tadi tidak berhenti memandangnya sambil senyum-senyum centil. Ketika pandangan mereka bertemu wanita itu langsung mengedipkan matanya dengan tatapan menggoda. Ia langsung menaruh perasaan tidak suka pada wanita itu, karena padahal di situ ada Dita tapi sempat-sempatnya ia menggoda Mas Ryan. Mas Ryan pun langsung merangkul Dita, dan seketika raut wajah wanita itu langsung berubah.
__ADS_1
Mereka pun segera pamit pada Bi Pur dan segera berangkat ke kantor Mas Ryan.