Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 39


__ADS_3

Mas Ryan memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemen. Mereka pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke dalam gedung. Tak ada tangan yang saling bertautan, maupun rangkulan-rangkulan hangat yang biasanya terlihat ketika mereka sedang berjalan, apalagi candaan-candaan khas mereka, senyum pun nyaris tak tampak dari bibir keduanya.


Dita membuka pintu unit apartemennya kemudian masuk dan berganti pakaian, begitupun Mas Ryan. Kemudian Dita duduk dipinggir tempat tidur sambil tertunduk. Mas Ryan menarik kursi dari bawah meja rias kemudian duduk di hadapan Dita. Digenggamnya tangan wanita itu, tanpa kata-kata.


Cukup lama mereka terdiam membisu. Dita memalingkan wajahnya ke luar sambil berkata, "Kenapa aku bisa hamil Mas?".


Mas Ryan masih terdiam.


"Katanya kamu melakukannya dengan aman?", lanjut Dita.


"Selalu sayang, selalu", jawab Mas Ryan pelan.


"Terus kenapa aku hamil Mas?", tanya Dita dengan nada agak tinggi.


"Atau mungkin kamu sengaja ya Mas?", tanya Dita sinis.


Diraihnya bahu Dita, "Aku selalu berusaha agar melakukannya dengan aman, ini semua di luar kendaliku, percayalah", ucap Mas Ryan.

__ADS_1


Ditatapnya Mas Ryan yang matanya sedang mengatakan sesuatu seperti memohon, Dita yang seolah bisa membaca maksud tatapan Mas Ryan kemudian menggelengkan kepalanya, "Maaf aku tidak bisa Mas", ucapnya.


"Please, aku mohon", ucap Mas Ryan sambil berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa Mas, aku tidak siap", jawabnya.


"Pertahankan anak kita. Dia ini anakku, keturunanku, darah dagingku, dan dia ini adalah penerusku", ucap Mas Ryan.


"Kamu bayangkan sayang, coba kamu bayangkan anak ini dari dalam perut kamu sedang mendengar pembicaraan kita, orang tuanya. Betapa sedihnya dia mendengar orang tuanya tidak ingin mempertahankan dirinya", lanjut Mas Ryan sambil berkaca-kaca.


"Mas, aku masih punya banyak impian. Aku masih ingin melakukan ini dan itu", jawab Dita seperti memohon.


"Siapa bilang dengan hamil dan mempunyai anak kamu jadi tidak bisa menggapai impianmu? Banyak di luar sana perempuan yang sukses setelah menjadi ibu. Tolong pikirkan kembali, buka pikiranmu", ujar Mas Ryan sambil menggenggam kedua bahu Dita.


Dita menutup kedua wajahnya kemudian menangis sejadi jadinya. Mas Ryan membawanya ke pelukannya. Ia tahu ini berat bagi Dita.


"Aku bukannya tidak menginginkannya Mas, aku hanya belum siap", ucapnya sambil tersedu-sedu.

__ADS_1


"Hubungan kita juga belum jelas Mas, bagaimana nanti nasib anak kita?", lanjutnya.


"Kita akan menikah, ingat, KITA AKAN MENIKAH", jawab Mas Ryan dengan penuh penekanan.


"Bagaimana dengan.."


Belum selesai Dita mengucapkan pertanyaannya, Mas Ryan memotong, "Wina mau bercerai ataupun tidak aku tetap akan menikah dengan kamu, sekalipun aku harus bersimpuh didepan orang tuaku aku akan menikahimu", ucap Mas Ryan sambil bergetar menahan tangisnya.


"Aku mohon Dita jangan kamu benci anak kita, tolong pertahankan dia", ucap Mas Ryan dalam tangisnya yang pecah.


Dita terkejut melihat Mas Ryan yang menangis sedemikian rupa, tidak pernah sekalipun ia melihatnya seperti ini. Apa niatnya itu benar-benar membuat Mas Ryan terluka? Padahal apa yang dipikirkannya belum sempat terucap olehnya.


Sepertinya Mas Ryan benar-benar ingin memiliki anak. Ia merasa bersalah telah berpikiran yang tidak seharusnya.


Direngkuhnya Mas Ryan yang tengah menangis, di peluknya lelaki itu.


"Maafkan aku Mas", ucap Dita lembut.

__ADS_1


__ADS_2