
Mereka keluar restoran dengan perasaan yang sangat bahagia. Mereka layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta. Tak ragu Mas Ryan menggenggam tangan Dita sepanjang jalan menuju pelataran lobby dimana supir mereka sudah menunggu.
Didalam mobilpun genggaman tangannya tak ia lepaskan, seolah ia tak rela jika Dita jauh darinya.
Mas Ryan pun memerintahkan supirnya untuk singgah ke Clarke Quay, tepian sungai yang dihiasi lampu-lampu yang indah. Mas Ryan ingin mengajak Dita berjalan-jalan di sana sebentar sebelum mereka menuju hotel.
Di sana mereka melihat banyak orang yang sedang bersantai di tepian sungai untuk sekedar mengobrol bersama teman ataupun pasangannya. Mas Ryan menarik tangan Dita untuk duduk dan menikmati suasana.
"Aku ingin menikmati kebersamaan kita malam ini, aku bahagia sekali", ucap Mas Ryan.
"Aku juga bahagia Mas", jawab Dita sumringah.
"Mas, team kamu tahu tidak bahwa aku ikut ke sini?", tanya Dita.
"Tidak, hanya Erick yang tahu karena dia yang memesankan tiket untuk kita. Memangnya kenapa?", tanya Mas Ryan.
"Yaa aku hanya tidak enak saja jika banyak yang tahu. Kira-kira kamu segan tidak jika karyawan kamu tahu tentang hubungan kita?", tanya Dita lagi.
__ADS_1
"Tidak, karena hubungan-hubunganku sebelumnya mereka juga tahu. Kamu jangan sungkan ya, mereka mengetahui aku apa adanya", jawab Mas Ryan.
"Apa akan ada yang patah hati Mas jika tahu hubungan kita?", tanya Dita penasaran.
"Hmmm, sepertinya banyak", jawab Mas Ryan sambil tersenyum iseng.
"Iiih kamu ya Mas, aku serius", rengek Dita sambil mencubit perut Mas Ryan.
"Eh, kamu berani ya sama aku?", ucap Mas Ryan sambil tertawa.
"Sini aku balas, sini!", ujar Mas Ryan sambil berusaha mencubit perut Dita.
Malam sudah menunjukkan pukul 22.00, mereka segera menuju mobil untuk segera ke Hotel. Mas Ryan dan Dita sudah sangat lelah seharian ini, sehingga ingin cepat-cepat beristirahat.
Mas Ryan menyuruh Dita untuk memilih hotel mana yang ia inginkan untuk beristirahat malam itu. Dita mengatakan bahwa ia ingin hotel dengan view yang indah. Mas Ryan pun meminta supir untuk menuju Fullerton Hotel.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Mas Ryan masih terus menggenggam tangan Dita dan sesekali mendekapnya di dadanya.
__ADS_1
Ketika Dita mendengar suara pesan masuk di ponselnya, ia melepaskan tangan Mas Ryan dan mengambil ponselnya dari tas. Mas Ryan pun mengambil ponsel Dita dan mengembalikannya ke tas Dita, dan kembali menggenggam tangan Dita. Dita pun hanya bisa memandang Mas Ryan. Ketika dipandang oleh Dita yang kesal karena tidak diperbolehkan melihat ponselnya, Mas Ryan hanya pura-pura memandang keluar jendela.
Dasar lelaki, ujar Dita dalam hatinya. Jika sudah memiliki pasti akan berbuat seolah kita ini hanya untuknya seorang.
Sesampainya di hotel, mereka masuk dan menuju receptionist. Kemudian Mas Ryan meminta Dita memilih kamar yang diinginkannya. Dita memilih dan bertanya-tanya seputar fasilitas yang ada dan view dari kamar-kamar tersebut. Kemudian Dita memilih kamar yang ia anggap bagus fasilitas dan viewnya.
Mas Ryan menyetujui dan receptionist bertanya berapa kamar yang mereka butuhkan, kemudiam Mas Ryan menjawab, "One room, please".
Dita terkejut dan memandang ke arah Mas Ryan sambil melotot. Mas Ryan langsung tersenyum dan merangkul Dita erat-erat.
Dita menepuk-nepuk Mas Ryan sambil berbisik, "Mas, kenapa hanya satu kamar?".
Mas Ryan pura-pura tidak mendengar ucapan Dita dan melihat-lihat ke arah yang lain.
"Mas.. Mas..", panggil Dita lagi sambil berbisik sedikit keras karena takut receptionistnya heran.
Mas Ryan kembali melengos dan pura-pura tidak mendengarkan Dita sambil tersenyum iseng.
__ADS_1
Dita tahu Mas Ryan mendengarnya, ia mencubit pinggang Mas Ryan dan Mas Ryan pun kesakitan, "Aduh duh duh, sakit sayang", ucapnya sambil menggosok-gosok pinggangnya yang sakit.
Kemudian receptionist memberikan kartu kunci kamar mereka, dan Mas Ryan segera mengambilnya serta menarik Dita untuk segera masuk ke dalam lift.