Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 62


__ADS_3

Dua hari ini Dita tidak menerima orderan sama sekali. Ia fokus memikirkan dan menimbang akan keputusannya. Ia tidak mau konsentrasinya terbagi jika ia masih harus menghandle orderan cinnamon rollsnya.


Dita masih saja bingung akan langkah yang ingin diambilnya. Ia harus mengkonfirmasi pada pihak pemberi beasiswanya paling lama besok. Jika tidak maka ia di anggap gugur. Dan kalau ia mengabaikan ataupun membatalkan, maka namanya akan di blacklist oleh pihak pemberi beasiswa karena dianggap tidak serius. Dan juga dulu ia sudah menandatangani surat pernyataan yang berkaitan dengan sanksi tersebut.


Dita sebenarnya mendaftar di dua universitas, yang pertama yaitu Chulalongkorn University di Thailand dan yang kedua National University of Singapore (NUS). Saat itu LoA (Letter of Acceptance) yang ia dapatkan hanya dari NUS dan otomatis ia harus merelakan untuk melepas impiannya melanjutkan study di negeri gajah putih tersebut. Tapi ia bersyukur di terima di NUS, sebuah universitas bergengsi nomor satu di Singapura. Dan kini pengajuan beasiswanya di terima, ia bisa berkuliah di NUS dengan gratis.


Tiba-tiba ia terbersit perkataan Mas Ryan saat ia berniat untuk tidak mempertahankan kehamilannya karena ia masih mempunyai banyak mimpi dan cita-cita yang ingin ia capai. Saat itu Mas Ryan bilang, "Hamil tidak akan menghalangi jalan untuk sukses bahkan bisa menjadi motivasi. Banyak orang di luar sana yang sukses setelah menjadi ibu".


"Benar juga," pikirnya. Kini ia mulai bersemangat untuk mencari segala informasi yang terkait tentang beasiswa yang akan diterimanya.

__ADS_1


Diambilnya ponselnya yang sejak tadi tergeletak di tempat tidur. Dengan cekatan ia membukan sosial medianya, tentu saja akun sosial media barunya yang tidak diketahui Mas Ryan dan juga teman-temannya. Ia mencari nama Sherly di deretan akun orang lain. Sherly yang ia maksud adalah Sherly sahabatnya yang tinggal di Singapura yang dulu ia temui. Sherly sudah lebih dulu menyelesaikan S2nya di sana. Ia pasti lebih banyak pengalaman.


Mulai di kirimnya sebuah direct message pada Sherly untuk meminta nomor ponsel. Kemudian di tunggunya dengan sabar dan berharap semoga Sherly segera membalas pesan darinya.


Sherly yang terkejut melihat pesan dari Dita menggunakan akun baru yang sama sekali tidak menggunakan unsur nama Dita. Ia teringat beberapa bulan lalu Dimas sempat menghubunginya menanyakan keberadaan Dita. "Apa mungkin Dita butuh pertolongan", pikirnya. Tak pikir panjang ia pun langsung membalas pesan Dita untuk memberikan nomor ponselnya.


Dita tersenyum sumringah saat Sherly membalas pesanya. Tak menunggu lama lagi, ia segera menekan nomor yang diberikan Sherly kemudian melakukan panggilan.


Dita menjelaskan beasiswa yang di dapatnya pada Sherly. Sherly langsung melonjak kegirangan. Ia benar-benar mensupport Dita untuk tidak menyianyiakan kesempatan ini. Sherly juga berjanji akan menjemput Dita di bandara dan membantunya mengurus segala sesuatunya di Singapura.

__ADS_1


"Pokoknya kamu jangan sia siakan kesempatan ini ya Dit. Kuliah di sini itu mahal lho Dit. Jumlah biayanya bisa buat beli rumah super mewah kalau di Indonesia, tidak semua orang bisa mendapat kesempatan ini" ujar Sherly penuh semangat.


Dita tidak memberi tahu bahwa ia sedang hamil. Ia berencana akan menceritakan semuanya dengan detail jika nanti ia jadi berangkat ke sana.


"Sher, jangan kasih tahu siapa-siapa ya kalau aku menghubungi kamu, siapapun Sher tanpa terkecuali, termasuk Dimas" tutur Dita setengah memohon.


"Memangnya kenapa sih Dit? Kamu ada masalah apa sebenarnya sampai-sampai kamu menghilang" tanya Sherly penuh penasaran.


"Aku ceritanya besok aja ya Sher kalau kita berjumpa. Aku janji akan cerita semuanya. Tapi kamu juga janji untuk tidak bilang siapa-siapa ya" ucap Dita bak bernegosiasi.

__ADS_1


Sherly pun menyetujui untuk membungkam mulutnya demi sahabatnya itu.


__ADS_2