
Mobil mereka masuk ke halaman sebuah gedung dan berhenti di pelataran lobbynya. Mas Ryan segera mengajak Dita turun. Dita masih keheranan dan mencari tahu ini tempat apa. Ia melihat-lihat dari dalam gedung, ada receptionist, lobby dan lift. Ia menduga itu adalah sebuah hotel.
Mas Ryan mengajak Dita untuk masuk ke dalam lift, kemudian Mas Ryan memencet tombol lift menuju lantai 15. Di dalam lift Dita mencoba kembali bertanya, "Mas, kita mau ke mana sih?".
Mas Ryan hanya tersenyum sambil mengacak rambut Dita.
Dita terlihat cemberut karena Mas Ryan tidak menjawab pertanyaannya.
Pintu lift pun terbuka, kemudian di depan lift tersebut ada meja receptionist yang cukup besar. Mas Ryan pun menuju ke sana dan menyebutkan namanya. Ternyata Mas Ryan telah melakukan reservasi sebelumnya.
Mereka pun menuju sebuah pintu kaca besar dan masuk ke dalam. Dita terperangah, ternyata Mas Ryan mengajaknya ke sebuah restoran yang sangat mewah. Ketika masuk mereka di sambut lampu-lampu kristal yang bergantungan. Interiornya sungguh bagus, meja dan kursinya terlihat mewah. Lagu yang romantis pun terdengar di seluruh penjuru ruangan. Mereka di pandu oleh seorang waitress untuk menuju meja yang telah di pesan Mas Ryan. Meja tersebut terletak di tepi dekat kaca. Setelah sampai ke meja, Dita tak kalah takjub karena mereka dapat melihat kota Singapore dari meja mereka. Apalagi saat itu menjelang malam, lampu-lampu di seluruh penjuru kota sudah mulai di nyalakan. Dita refleks menutup mulutnya karena saking takjubnya.
Mas Ryan terlihat tersenyum dan bertanya, "Kamu happy ke sini? Kamu suka tidak dengan tempat ini?".
Sudah pasti Dita suka, wanita mana yang tidak suka dibawa ke tempat seperti ini. Dita pun mengangguk sambil tersenyum dan matanya terlihat berbinar-binar. Ia tak menyangka Mas Ryan akan mengajaknya ke tempat ini.
Mereka pun duduk, kemudian datanglah waitress yang membawakan makanan untuk mereka. Ternyata Mas Ryan juga sudah memesan makanannya ketika melakukan reservasi tadi.
Makanan yang datang dimulai dari appetizer, main course dan dessertnya. Semuanya sangat enak dan benar-benar memuaskan, tampilannya juga sangat aesthetic. Sebenarnya ingin sekali Dita memfoto makanan-makanan yang disuguhkan tadi, namun ia malu karena tak satupun pengunjung di sana yang melakukannya.
Setelah makan dan mengobrol seputar kegiatan masing-masing hari ini, Mas Ryan meminta Dita untuk duduk di sampingnya. Kursi yang ditempati mereka berbentuk seperti sofa yang bisa di tempati oleh dua orang.
Dita pun heran dan bertanya, "Ada apa Mas?".
__ADS_1
Mas Ryan menjawab, "Ada yang ingin aku sampaikan Dit, kan tidak enak jika posisinya berseberangan begini".
Ditapun mengangguk dan pindah ke samping Mas Ryan.
Hatinya dag dig dug mengira-ngira apakah yang akan disampaikan oleh Mas Ryan, karena wajah Mas Ryan terlihat serius sekali.
"Ada apa Mas?", tanya Dita penasaran.
Mas Ryan pun mulai menjelaskan dengan lembut dan perlahan-lahan, "Dita, sebelumnya aku minta maaf jika mungkin apa yang akan aku sampaikan ini akan membuat kamu tidak suka. Tapi aku harap kamu bisa memahaminya".
Dita semakin penasaran dan mulai mengeryitkan dahinya.
Mas Ryan melanjutkan penjelasannya kembali, "Dita, kita sudah menjalani proses dari mulai kenal hingga sedekat ini. Kita sudah sama-sama dewasa dan paham jika kedekatan seperti ini pastinya melibatkan perasaan. Jujur aku sangat-sangat melibatkan perasaanku pada kedekatan kita ini, bahkan sejak pertama kali kita bertemu malam itu. Aku selalu memperhatikan kamu, sikap kamu, gerak gerik kamu, dan perlakuan kamu terhadap aku, semuanya nyaris sempurna. Aku seperti menemukan warna dalam hidupku Dit. Hidupku setelah dekat dengan kamu itu seperti roller coaster yang sangat seru dengan segala tingkah kamu. Aku nyaman berada di dekat kamu".
"Aku sayang sama kamu Dit", ucap Mas Ryan sambil memegang tangan Dita lembut.
Tak terasa air mata Ditapun jatuh dan menetes, Mas Ryan kaget dan takut bahwa Dita tidak menyukai apa yang ia ungkapkan.
"Dita kamu kenapa? Aku minta maaf kalau ucapanku membuat kamu tidak nyaman, Maafkan aku Dit", ucap Mas Ryan sambil menghapus air mata Dita.
"Tidak Mas", ucap Dita.
"Kamu tidak perlu minta maaf", lanjutnya.
__ADS_1
"Terus kamu kenapa menangis?", tanya mas Ryan penasaran.
Sambil menunduk Dita berkata, "Aku juga merasakan hal yang sama Mas. Aku merasa sangat nyaman jika didekatmu. Aku bahkan selalu ingin dekat dengan kamu".
Kemudian Dita sedikit terisak dan meneteskan air mata.
"Aku takut Mas, aku takut jika dengan berhubungan denganmu aku akan menjadi orang yang merusak rumah tanggamu. Aku takut menjadi orang jahat yang merebut apa yang bukan haknya. Aku tidak mau kehadiranku semakin memperburuk keadaan rumah tangga kamu. Aku takut akan ada yang tersakiti jika aku bersamamu. Aku takut Mas", ucap Dita sambil terisak pelan.
Mas Ryan langsung memeluk erat tubuh Dita. Hatinya benar-benar meleleh melihat ucapan Dita. Tak satupun dari mantan-mantan pacarnya yang memikirkan apa yang dipikirkan Dita. Hati wanita ini sungguh baik, ucapnya dalam hati.
Dada Dita seketika nyeri dan air matanya makin deras ketika Mas Ryan memeluknya, seolah apa yang selama ini ia pendam kini telah keluar.
Ketika tangis Dita mulai berhenti dan ia bisa menenangkan dirinya, Mas Ryan melepaskan pelukannya.
Mas Ryan menggenggam tangan Dita dan berkata, "Dit, percaya padaku. Semua akan baik-baik saja. Waktu akan menjawab semua ini, serahkan padaku. Kamu tidak perlu takut Dit, kita bertemu ketika keadaan rumah tanggaku sudah seperti ini 7 tahun lamanya. Beri aku waktu ya Dit. Aku tidak akan meninggalkan kamu apapun keadaannya. Aku yang bertanggung jawab atas semua ini".
Dita kembali meneteskan air mata, ia sangat lega mendengar penjelasan Mas Ryan.
"Aku menyayangimu Mas", ucap Dita penuh haru.
Mas Ryan kembali memeluk Dita dan mengecup lembut keningnya. Hatinya lega karena Dita juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyianyiakan Dita. "Terima kasih sayang", ucap Mas Ryan dengan lembut.
Mas Ryan teringat akan sesuatu yang telah dibelinya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna silver dari saku bajunya. Kotak itu berisikan sebuah cincin berlian yang sangat indah. Ia memberikannya kepada Dita.
__ADS_1
Dita terkejut dengan apa yang diberikan Mas Ryan, ia tak menyangka Mas Ryan seromantis itu. Mas Ryan langsung memakaikan cincin itu di jari manis Dita.