
"Bu, kemarin aku sudah menemuinya di kantor polisi. Tapi apa yang dia lakukan? Bukan kata maaf yang dia ucapkan, malah cacian untukku dan istriku yang kudapatkan. Tak ada sedikit pun penyesalan terlihat dari wajahnya. Dan hari ini ibu datang memintaku untuk mengeluarkannya dari penjara? Sungguh belum masuk akal bagiku" ucap Mas Ryan sambil berpaling.
"Satu lagi, sejak ibu datang ibu hanya memohon padaku, padahal yang telah kalian sakiti adalah istriku. Kenapa ibu tidak minta maaf dengannya? Hah?" tanya Mas Ryan sinis.
"Gengsi? Serendah apa istriku di mata kalian?" lanjutnya dengan tatapan sangat sinis.
Dengan segera ibu Wina bangkit berjalan menuju Dita. Ia memegang tangan Dita sambil menangis.
"Maafkan aku, maafkan Wina, tolong jangan penjarakan dia. Kami minta maaaaaff" ucapnya sambil sesenggukan dan menggenggam tangan Dita.
Dita yang kaget bercampur bingung pun jadi salah tingkah melihat ibu Wina yang memohon padanya.
"Mari kita selesaikan semuanya dengan damai, apapun akan kulakukan agar kalian bisa memaafkan kami" ucapnya sambil memelas memandang wajah Dita.
__ADS_1
"Sudah Bu, sudah. Kami akan memikirkannya dulu" ucap Dita sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam ibu Wina.
"Terima kasih, sekali lagi terima kasih. Tolong beri Wina kesempatan memperbaiki dirinya. Tolong" ucap Ibu Wina sambil meneteskan air mata lagi. Ia benar-benar berharap Mas Ryan dan Dita mau menyelesaikan perkara ini dengan jalan damai.
"Baiklah, aku pamit dulu. Terima kasih. Sekali lagi mohon pertimbangkan" ucapnya sambil menyeka air matanya, kemudian berlalu dan keluar.
Mas Ryan langsung bergegas mendekat pada Dita. Dipeluknya istrinya itu dengan erat. Dita memejamkan mata sambil merasakan sakit hati yang belum hilang atas perbuatan Wina. Dipeluknya suaminya itu dengan begitu erat, tak terasa air matanya menetes mengingat kembali kejadian hari itu.
"Maafkan aku, sebenarnya kemarin polisi memberi kabar bahwa Wina telah di tangkap. Polisi menyuruhku datang untuk interogasi. Aku bertemu Wina di sana" jelas Mas Ryan.
"Tidak apa-apa Mas, aku mengerti" ucap Dita pada suaminya yang merasa bersalah.
"Aku mau coba berjalan lagi Mas" lanjut Dita sambil tersenyum dan memegang lengan Mas Ryan dan berusaha turun dari ranjang.
__ADS_1
...***...
Dita tengah mengobrol dengan Novia di dalam ruangan kerja Mas Ryan di kantor saat tiba-tiba dua orang wanita masuk.
Mereka semua langsung terdiam dan suasana menjadi sedikit tegang. Terlihat Wina dan ibunya berdiri di sana.
Mas Ryan langsung mempersilahkan dua wanita tersebut untuk duduk. Terlihat Dimas duduk di samping Mas Ryan, dan Novia duduk di samping Dita.
Tanpa basa-basi Mas Ryan menyodorkan beberapa lembar kartas beserta pena pada ibu Wina. Dengan sedikit ragu dipegangnya pena tersebut.
Kemudian terlihat tangannya menorehkan pena tersebut di beberapa kolom yang sudah disediakan. Ia menanda tangani sebuah surat kesepakatan yang telah mereka setujui bersama.
Kemudian gantian Mas Ryan dan Dimas ikut menandatangani surat tersebut. Ternyata surat itu adalah surat kesepakatan penjualan saham milik ibu Wina kepada perusahaan. Serta sahamnya yang di Kalimantan juga ia jual seluruhnya pada perusahaan.
__ADS_1
Mas Ryan dan Dimas juga menandatangani beberapa cek sebagai pembayaran saham tersebut.
Dengan begitu, otomatis ibu Wina sudah tidak lagi memiliki saham di perusahaan Mas Ryan yang di Jakarta dan juga di Kalimantan yang di pimpin Dimas.