
Dokter Aldy menghampiri Dita yang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Ia tidak kecewa pada Dita, bahkan ia paham kenapa Dita bersikap begitu. Mungkin kisah masa lalunya yang benar-benar pilu atau mungkin Dita belum bisa melupakan masa lalunya.
Baru kali ini ia jatuh hati pada pasiennya, pasien yang hamil pula. Apa ada yang salah pada dirinya sehingga ia bisa-bisanya menyukai wanita yang tengah hamil anak pria lain.
Dipandangnya sekilas wajah Dita yang tertunduk melihat ponsel. "Cantik", pikirnya. "Mungkin mantan suaminya sudah sakit jiwa, bisa-bisanya meninggalkan wanita secantik ini", ia lanjut membathin.
Dita yang melihat kedatangan Dokter Aldy langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Maaf ya kamu jadi lama menunggu" ujar Dokter Aldy.
Dita hanya menjawab dengan tersenyum.
Kemudian keduanya terdiam sesaat. Mereka bingung dan saling tidak tahu mau memulai percakapan dari mana.
"Hmmm.. Aku minta maaf atas kejadian di rumah waktu itu ya. Aku sadar bahwa responku berlebihan" mulai Dita.
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf jika kata-kataku menyakitimu" jawab Dokter Aldy sambil memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan usahamu? lancar?" tanyanya berbasa-basi.
"Lancar, tapi sudah sekitar tiga hari ini aku tidak menerima orderan" jawab Dita.
"Lho, kenapa? Apa kamu sedang ada masalah?" tanyanya lagi penasaran.
"Tidak, aku baik-baik saja kok. Sebenarnya ini juga yang ingin aku sampaikan. Mungkin tidak terlalu penting sih" jawab Dita dengan berhati-hati.
Dokter Aldy mengeryitkan kening dan menunggu jawaban Dita selanjutnya.
"Sepertinya sebentar lagi aku sudah tidak bisa melanjutkan usahaku lagi" ujar Dita memulai penjelasannya.
"Bukan, bukan karena itu. Aku sebentar lagi juga akan meninggalkan kota ini. Aku akan melanjutkan studyku di Singapura, beasiswa yang sempat aku apply tahun lalu ternyata di approve" jawab Dita sambil menerawang.
Dokter Aldy langsung refleks memegang kedua bahu Dita dan sedikit mengguncangnya, "Serius kamu Dit? Harusnya kamu senang. Selamat ya Dit. Aku turut senang dan bangga."
__ADS_1
Senyum Dita pun mengembang melihat ekspresi Dokter Aldy.
"Kamu harus semangat Dit, buang segala kesedihanmu. Jadikan itu motivasi untuk terus maju, aku mendukungmu Dit" ucapnya penuh semangat.
Dita semakin bersemangat atas support yang di berikan Dokter Aldy namun tiba-tiba wajahnya menjadi datar kembali, "Tapi, bagaimana dengan anak ini jika nanti aku kuliah" ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Dit, kamu harus percaya bahwa kamu bisa. Kamu tidak akan menjadi ibu yang buruk jika nanti kamu memerlukan orang lain untuk membantu menjaga anakmu. Itulah proses Dit, ada pahit, manis dan getir yang harus dilewati. Jutaan ibu diluar sana tetap menjadi ibu yang baik meskipun mereka bekerja dan mempunyai karier yang bagus" jawab Dokter Aldy menyemangati.
"Kita harus rayakan ini Dit. Ayo kita pergi keluar, makan-makan" lanjutnya tak kalah berapi-api.
"Benar juga, yuk. Aku memang sedang lapar, aku yang traktir" ucap Dita berbinar-binar.
Mereka pun keluar dari klinik Dokter Aldy dan berkeliling kota Yogyakarta sambil mencari tempat makan yang enak. Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, sampailah mereka di depan sebuah restoran steamboat. Dita yang sudah lapar sejak tadi tidak sabar ingin segera makan.
Tidak terasa mereka menghabiskan waktu hingga lupa bahwa restoran tersebut sudah mau tutup. Jam 24.00 mereka pun keluar dari restoran dan menuju mobil.
__ADS_1
Di sepanjang jalan keduanya masih melanjutkan obrolan yang terputus karena dihampiri karyawan restoran yang memberitahu bahwa restoran akan segera tutup.
Dokter Aldy senang Dita sudah bisa bercerita lepas padanya. Seperti sudah tidak lagi ada ketakutan dan menutup dirinya. Tapi kenapa disaat seperti ini Dita harus pergi.