Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 104


__ADS_3

Pagi itu suasana di meja makan masih terasa berbeda. Hanya terdengar sedikit bercandaan saja, itu pun antara Mas Ryan dengan Xander ataupun Dita dengan Xander saja.


Sepertinya aksi mogok bicara Mas Ryan belum terlihat ujungnya. Ia masih betah dengan diamnya. Bi Pur yang merasakan hawa ada yang tidak beres pun memilih untuk tidak banyak bicara.


Ketika Mas Ryan akan berangkat kerja Dita tetap melepas suaminya sampai ke pintu depan. Tapi tak ada ciuman hangat bahkan kata pamit yang terucap.


Setelah mengantar Xander ke sekolah, Dita berangkat ke kantornya. Lumayan banyak map yang terletak di atas mejanya. Ada banyak yang harus ia periksa hari ini.


Dari tadi ia hanya membolak balik berkas dengan tatapan kosong. Ia benar-benar tak bisa berkonsentrasi hari ini. Sikap Mas Ryan yang dingin padanya benar-benar merenggut konsentrasinya. Ia berusaha untuk fokus tapi tak bisa.


Kemudian ia pergi ke pantry dan membuat secangkir kopi. Ia berharap dengan bersantai sejenak akan mengembalikan konsentrasinya lagi. Dihirupnya aroma kopinya yang menenangkan, terasa cukup membuatnya rileks.

__ADS_1


Setelah beberapa karyawan lain masuk ke pantry untuk membuat kopi juga, Dita beranjak dan pamit untuk kembali keruangannya.


Dipegangnya kembali berkas yang tadi ia tinggalkan. Di pandanginya tulisan-tulisan yang berjejer di sana. Dicobanya untuk mencerna kata demi kata dengan perlahan.


Lembar pertama aman, kemudian ia membalik lembar selanjutnya. Ditelusurinya kembali satu persatu kata dan kalimat yang tertera disana. Tiba-tiba pikirannya kembali melayang memikirkan suaminya.


Di tutupnya berkas tersebut dengan kesal. Diremasnya rambutnya sambil memejamkan mata. Ia berpikir keras kira-kira apa kesalahannya hingga membuat Mas Ryan tega mendiamkannya sejak semalam. Bahkan baju kerja yang telah ia siapkan tadi pagi pun tak di sentuh oleh Mas Ryan. Biasanya tiap pagi ia selalu memakai baju kerja yang telah di siapkan istrinya. Namun pagi ini berbeda, ia mengambil baju lain dari dalam lemari. Sikapnya itu seolah menunjukkan hatinya yang sedang marah pada Dita.


Ia merasa semua harus diselesaikan sekarang. Menunggu Mas Ryan memulai bicara duluan sepertinya mustahil untuk saat ini.


Ia harus mengambil langkah duluan untuk menyelesaikan masalah ini. Baru kali ini Dita bersikeras untuk menyelesaikan masalah dengan segera. Biasanya Mas Ryanlah yang gusar kalau mereka punya masalah, Mas Ryanlah yang selalu segera mengambil inisiatif untuk mengobrol baik-baik serta mencari solusi atas konflik rumah tangga mereka.

__ADS_1


Sesampainya di kantor Mas Ryan ia langsung menuju lift dan menuju ruangan suaminya. Dibukanya pintu ruangan dengan tergesa-gesa. Namun di dapatinya ruangan yang kosong.


Dita menuju ke meja sekretaris Mas Ryan yang terdapat di depan ruangannya kemudian menanyakan keberadaan suaminya itu.


"Maaf Bu, bapak sedang ada meeting di lantai 5" jawab sekretaris Mas Ryan dengan sopan.


Dita pun mengucapkan terima kasih dan kembali masuk ke dalam ruangan Mas Ryan. Ia duduk di sofa dan menunggu Mas Ryan datang.


Ia menunggu dengan hati yang gundah. Pikirannya semakin tidak tenang kini. Di scrollnya sosial medianya untuk membunuh waktu sambil menunggu.


Diliriknya jam tangannya, tak terasa hampir satu jam ia di sana. Sampai akhirnya terdengar suara seseorang membuka pintu, dan masuk ke dalam. Dilihatnya Mas Ryan masuk kemudian sedikit terkejut melihat keberadaan Dita di ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2