Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 122


__ADS_3

"Hari ini ibu sudah boleh belajar berjalan sedikit demi sedikit agar otot-ototnya tidak terlalu kaku, namun jangan diforsir ya, harus bertahap" ujar dokter yang tengah visit kepada Dita.


"Bapak silahkan bantu istrinya untuk berjalan, agar ibu cepat pulih kondisinya dan bisa segera pulang ke rumah" lanjut dokter tersebut sambil menoleh pada Mas Ryan.


Mas Ryan mengangguk mendengar ucapan dokter tersebut.


Tak lama kemudian dokter beserta perawat yang sedang visit pun keluar. Mas Ryan langsung mendekati istrinya dan membantunya untuk bangun.


"Mau coba jalan sekarang sayang?" tanya Mas Ryan.


Dita mengangguk sambil tersenyum.


Mas Ryan merangkul Dita untuk membantunya turun dari ranjang. Dengan berhati-hati Dita menjejakkan kakinya ke lantai.


Masih ada rasa nyeri di beberapa sendinya ketika kakinya berusaha menopang tubuhnya. Namun Mas Ryan tetap merangkul pinggang Dita agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Dita mencoba melangkahkan kaki kanannya dengan perlahan. Diangkatnya kemudian di ayunkannya dengan lembut. Terasa berat dan kaku, mungkin karena sudah berhari-hari ia hanya di tempat tidur saja.


Dilangkahkannya lagi kaki kirinya dengan hati-hati. Namun ternyata ia merasa lebih nyeri dari sebelumnya, ia meringis kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Mas Ryan menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh.


Mas Ryan langsung membantu Dita untuk kembali ke ranjang. Mungkin kondisi Dita belum terlalu baik hari ini.


Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengetuk pintu. Mas Ryan dan Dita sontak menoleh dari arah suara tersebut.


Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri disana.


Tiba-tiba ibu Wina dengan setengah berlari langsung masuk dan memeluk lutut Mas Ryan. Mas Ryan sontak terkejut.


"Ryan, tolong maafkan Wina, jangan biarkan dia di penjara. Ibu mohon jangan penjarakan Wina, tolong Ryan tolonggg" ucap wanita itu sambil menangis meraung.


Mas Ryan langsung melepaskan tangan ibu Wina dari kakinya.

__ADS_1


"Bu, tenang dulu. Silahkan duduk dulu" ucapnya sambil menunjuk sofa.


Dita yang kebingungan hanya bisa terdiam sambil terduduk di ranjang.


Ibu Wina bangkit dan duduk di sofa. Mas Ryan pun mengikutinya.


Ibu Wina menyeka air matanya dengan sebuah tissu. "Ryan, tolong, Ibu mohon kita selesaikan masalah ini dengan cara damai".


Mas Ryan terlihat bersikap dingin dan acuh tak acuh. "Ibu lihat kondisi istri saya?" ucapnya sambil menunjuk Dita dengan tubuh memar dan lukanya.


"Bayangkan, hari ini sudah lima hari sejak kejadian itu kondisinya masih seperti itu, bahkan untuk berjalanpun belum bisa. Bagaimana dengan setelah kejadian? Sangat parah, tidak bisa saya ungkapkan saking menyedihkannya" lanjut Mas Ryan dengan emosi.


"Asal kalian tahu, istri saya juga tengah hamil. Dimana letak akal sehat kalian?" tanya Mas Ryan sambil menggebrak meja dengan keras.


Ibu Wina langsung terperanjat. Dita pun tak kalah kaget, tak pernah ia melihat Mas Ryan semarah ini. Karena kondisinya jauh dari Mas Ryan, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan suaminya itu.

__ADS_1


"Wina sangat emosi hari itu. Ibu sangat menyesal atas kejadian ini. Maafkan dia Ryan. Tolong Ryan, Wina anak ibu satu-satunya. Ibu mohon jangan biarkan dia menderita di penjara" ucap Ibu Wina lagi sambil menangis memohon pada Mas Ryan.


__ADS_2