
Makin hari usaha Dita kian berkembang. Ia semakin kebanjiran pesanan, sepertinya banyak yang menyukai cinnamon rolls buatannya. Walaupun begitu kelihatannya Dita belum berniat mempekerjakan karyawan untuk membantunya, semua pekerjaan masih dihandlenya sendiri. Ia menikmati setiap prosesnya, proses merintis usaha kecil-kecilan yang kini semakin menambah pundi-pundi tabungannya untuk kehidupan ia dan anaknya kelak.
Ia juga kerap kali mengikuti seminar-seminar tentang bisnis ataupun bakery untuk menambah ilmu dan teman baru dalam bidang ini. Padahal baru sekitar 4 bulan Dita merintis usahanya tapi karena respon yang ia dapatkan luar biasa itulah yang membuat ia semakin menikmati dan bersemangat mengerjakan segala sesuatunya.
Ia sedang menyusun loyang kala itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat nama Dokter Aldy di layar ponselnya. Dita penasaran kenapa Dokter Aldy meneleponnya. Memang sudah hampir satu bulan ia tak bertemu Dokter Aldy, sejak hari mereka bertemu di supermarket.
Dengan tangan penuh tepung Dita pun menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Hallo" sapa Dita.
"Hallo, kamu apa kabar Dit?" tanya Dokter Aldy basa basi.
"Baik, aku sehat. Hmm ada apa ya Dok?" tanya Dita to the point.
"Hmmm.. Hari Minggu begini enaknya jalan-jalan cari udara segar apa lagi buat ibu hamil, bisa bikin fresh" ujar Dokter Aldy bak kata pengantar untuk maksud tersembunyinya.
__ADS_1
"Kamu mau kalau aku ajak jalan-jalan ke pantai?" tanya Dokter Aldy.
"Hmmm, bagaimana ya. Maaf sebelumnya Dok, aku lagi mengerjakan orderan yang harus selesai sebelum malam ini" tolak Dita dengan sopan.
"Ooh kamu lagi sibuk. Tidak apa-apa. Aku kira kamu sedang ada waktu senggang," jawab Dokter Aldy.
"Kamu mau aku bantu bikin kuenya?" lanjutnya menawarkan bantuan.
"Silahkan saja kalau kamu mau bermain sama tepung-tepung" jawab Dita sekenanya.
Mendengar suara 'klik' pertanda panggilan sudah dimatikan membuat Dita sedikit terkaget dan terheran-heran. Kemudian ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Di masa kehamilannya yang mau memasuki usia lima bulan ini, ia sudah tidak tahan berdiri lama-lama. Perutnya yang semakin membuncit pun mulai terasa berat. Apalagi jika sudah terduduk, maka butuh usaha untuk Dita berdiri. Oleh karena itu ia menyiapkan meja berukuran panjang sebagai tempatnya bekerja membuat kue dengan sepenuh hati.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Di intipnya dari dapur, terlihat Dokter Aldy keluar dari mobilnya. Ternyata ia benar-benar datang. Dita tak menyangka Dokter Aldy benar-benar datang untuk membantunya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dita pun keluar untuk menemuinya.
"Aku kira kamu hanya bercanda" ucap Dita tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Aku serius lah mau bantu kamu" jawab Dokter Aldy.
Dokter Aldy memperhatikan noda tepung yang menempel di wajah Dita sambil mengeryitkan dahi.
Dita yang menyadari entah bagaimana bentuk wajahnya saat itu langsung salah tingkah, "Maaf ya, memang begini kalau lagi asyik bikin kue".
Dokter Aldy pun tertawa melihat Dita yang sedikit malu karena wajahnya yang terkena noda tepung. Namun walaupun begitu, cantik dan imut alami dari di wajah Dita tetap mempesona bagi siapa saja yang melihatnya. Ditambah lagi pipi chubbynya yang merona merah ketika malu membuatnya semakin menawan. Lesung pipi pada kedua pipinya pun menambah keunikan tersendiri pada wajahnya.
"Yaudah ayo jangan buang-buang waktu" lanjut Dokter Aldy yang terlihat bersemangat. Sambil menyingsingkan lengan baju ia pun langsung masuk menuju dapur tanpa menunggu persetujuan tuan rumah.
Dita semakin terheran-heran melihat kelakuan ajaib Dokter Aldy. Kenapa jadi ia yang lebih bersemangat ke dapur.
__ADS_1
Dita hanya bisa mengeryitkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala kemudian akhirnya menyusul ke dapur.