
Dita terbangun dari tidurnya ia segera melihat jam di ponselnya, ternyata sudah pukul 09.00. Dilihatnya Mas Ryan masih tidur, segera ia memungut pakaiannya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpakaian.
Lama sekali Dita berdiri di depan cermin, ia merasa malu sekali sama Mas Ryan atas apa yang terjadi, mengapa ia membiarkan ini terjadi. Ia tidak tahu bagaimana akan menghadapi Mas Ryan nanti ketika Mas Ryan bangun. Rasanya tidak sanggup ia memandang wajah Mas Ryan, sungguh malu.
Hati dan pikiran Dita dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Keraguanpun kembali menyelinap dalam dirinya. Apakah setelah ini Mas Ryan akan meninggalkannya? Apakah benar Mas Ryan orang yang pantas mendapatkan itu? Mengapa ia membiarkannya terjadi tadi malam? Akankah Mas Ryan berubah padanya?
Segala pertanyaan menghampiri pikirannya. Dita segera membasuh wajahnya berkali-kali untuk menyegarkan dirinya. Ia berusaha untuk tidak overthinking atas semua ini.
Sudah setengah jam Dita berada di kamar mandi, ia berharap ketika keluar nanti Mas Ryan masih tidur. Karena ia masih gugup dan benar-benar malu. Namun harapannya tak sesuai, ketika Dita keluar dari kamar mandi terlihat Mas Ryan yang baru saja bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
Melihat Dita yang keluar dari kamar mandi, Mas Ryan menarik Dita duduk di pangkuannya. Dita semakin gugup dan hanya bisa menundukkan pandangannya. Mas Ryan yang heran melihat sikapnya pun bertanya, "kamu kenapa sayang?".
Dita masih menunduk dan diam.
"Kamu malu?", tanya Mas Ryan.
Dita mengangguk, "Mungkin semua tidak seharusnya terjadi Mas", ucapnya sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Tanpa sepatah katapun Mas Ryan segera menarik kepala Dita dan meletakkannya di dadanya kemudian ia memeluk Dita dengan erat. Mas Ryan mengerti perasaan Dita, apalagi ini adalah kali pertama baginya.
Mereka berdua hanya diam tanpa kata. Namun Dita merasakan ketenangan dari pelukan Mas Ryan. Segala keraguan yang sedang berkecamuk dalam pikirannya pun perlahan hilang.
Mas Ryan menarik dagu Dita, "Percaya pada ku", ucapnya lembut. Di kecupnya kening Dita dengan begitu mesra.
Kemudian di turunkannya Dita dari pangkuannya, "Sudah hampir jam 10, ayo kita sarapan, kamu pasti sudah lapar", ajak Mas Ryan.
Mereka pun menuju lantai satu untuk sarapan di restaurant hotel. Terlihat lumayan ramai pengunjung yang sedang sarapan. Dita pun mengambilkan beberapa makanan untuk Mas Ryan. Dua lembar roti beserta selainya, dua buah sosis panggang, satu buah croissant almond dan segelas susu ia letakkan di atas meja untuk Mas Ryan.
Setelah mereka berdua selesai makan Mas Ryan menarik tangan Dita dan berkata, "Sayang, mulai sekarang segala kebutuhanmu adalah tanggung jawabku".
"Kamu bisa simpan gaji kamu, aku akan memberimu setiap bulan. Berapakah kira-kira biaya untuk kebutuhanmu, sebutkan saja", ujar Mas Ryan.
"Aku masih bisa membiayai kebutuhanku Mas, aku tidak type yang meminta pada lelaki", ucap Dita sedikit kesal. Ia merasa apakah Mas Ryan sedang membayarnya atas apa yang terjadi tadi malam.
"Sayangku, kamu jangan merasa begitu. Aku tidak bermaksud sedikitpun membuat kamu tersinggung. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tidak ada yang dilakukan istriku dirumah untukku kadang bertemu saja tidak, hanya status kami saja yang masih suami istri, tapi aku tetap memberi nafkah untuk kebutuhannya. Sedangkan kamu, apa yang kamu lakukan untukku sudah sangat banyak, kamu mengurusku dan memperlakukanku seperti akulah suamimu. Kemudian aku tidak memberi apapun untukmu? Apakah menurut mu itu adil?", jelas Mas Ryan.
__ADS_1
Dita hanya bisa terdiam, ia merasa bersalah sudah berpikiran yang buruk tentang Mas Ryan. "Maaf Mas, aku cuma tidak mau kamu..."
Belum selesai Dita berbicara Mas Ryan memotongnya, "Sudah, tidak apa-apa. Aku mengerti. Terlalu lama hidup mandiri sepertinya membuatmu sedikit keras kepala", ujar Mas Ryan sambil mengetuk pelan kepala Dita.
Ditapun tertawa melihat Mas Ryan yang mulai kesal dengan gengsinya yang kerap menolak pemberian Mas Ryan.
Dita pun memikirkan dan mengira-ngira berapakah biaya kebutuhannya perbulan.
Belum selesai ia berpikir, Mas Ryan pun berkata, "Tiga puluh juta setiap bulannya cukup?".
"Banyak sekali Mas, kebutuhanku tidak sampai sebanyak itu", jawabnya kaget.
"Tidak apa-apa, kamu bisa simpan sisanya. Kalau kamu ada kebutuhan lain silahkan bilang saja ya", ucap Mas Ryan sambil mengelus pipi Dita.
"Oh iya, kita segera cari apartemen untuk kamu ya", ujar Mas Ryan.
"Aku nyaman kok ditempat ku yang sekarang Mas", jawab Dita.
__ADS_1
"Iya, tapi kalau di apartemen biar kamu lebih nyaman. Kan lebih luas. Ditambah lagi ada dapur pribadi yang bisa kamu gunakan sesukamu. Dan satu lagi, biar aku bisa kesana kapan saja." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum genit. Ditapun segera mencubit lengannya sampai ia mengaduh kesakitan.