
"Ngomong-ngomong kamu ke sini sendirian?" tanya dokter Aldy sambil celingak celinguk melihat sekitar.
"Iya Dok, saya ke sini sendiri" jawab Dita ramah.
"Maaf sebelumnya, suami kamu hmm maksud saya hmm" dokter Aldy seperti canggung untuk bertanya.
Dita hanya tersenyum mendengar pertanyaan dokter Aldy kemudian tertunduk.
Dokter Aldy melihat sepertinya Dita tidak ingin membahas perihal suaminya.
"Ok, I'm sorry. Just forget it, and we won't talk about it" ujar dokter Aldy seperti tidak terjadi apa-apa sambil tangannya meraih sekaleng jamur dan memasukkannya ke dalam keranjangnya.
Mereka berkeliling supermarket dengan beriringan sambil mengobrol ringan. Ia melirik troli barang belanjaan Dita, "Belanja segini banyak kamu mau ada hajatan?" tanya Dokter Aldy.
__ADS_1
Dita terbahak mendengar pertanyaannya. Ia pun menjelaskan bahwa ia sedang merintis usahanya.
"Wah, kebetulan sekali. Hari selasa adalah hari ulang tahun klinik, aku pesan 50 buah cinnamon rolls ya. Aku tidak sabar ingin mencicipinya" ujar Dokter Aldy.
Dita terkejut mendapat pesanan dari Dokter Aldy. Ia pun mengangguk menyanggupi.
Ternyata dokter Aldy sudah sekitar lima tahun menjadi dokter spesialis kandungan. Ia meneruskan profesi ayahnya yang juga dokter spesialis kandungan. Serta klinik tempat ia praktek saat ini dulunya adalah klinik milik ayahnya. Namun kini ayahnya telah meninggal dunia dan ia mengambil alih klinik tersebut. Selain praktek di kliniknya saat malam hari, dokter Aldy juga praktek di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta.
Mengobrol dengan dokter Aldy banyak membuka pikirannya terkait masalah kandungan. Maklum ini adalah kali pertama bagi Dita merasakan kehamilan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mereka pun tiba di rumah Dita. Dokter Aldy membantu membawakan belanjaan Dita kemudian segera pamit pulang.
Sebelum memasuki mobilnya, ia terlihat mengurungkan niatnya. "Dita, saya boleh minta nomor ponsel ataupun nomor WhatsApp kamu?" tanyanya sambil menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Darah Dita seketika berdesir. Ini persis yang di lakukan Mas Ryan dulu ketika meminta nomor ponselnya. Lelaki yang kini ia coba lupakan namun belum sanggup.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Dita, Dokter Aldy pun segera berlalu.
Tinggallah Dita yang kini masih terdiam di depan pagar rumahnya sambil melamun. "Mas Ryan, apa yang sedang kamu lakukan saat ini Mas? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dalam hati.
Namun tiba-tiba ia tersentak dan teringat bahwa harus segera membuat beberapa pesanan customernya yang akan di antarkan malam ini. Segera ia masuk ke dalam, membongkar belanjaan dan mulai mengerjakan pesanan demi pesanan.
***
Di ketinggian 35.000 kaki, sebuah pesawat tujuan Balikpapan - Jakarta sedang terbang stabil. Terlihat Mas Ryan yang sedang melamun. Ia tersandar pada sebuah kursi pesawat. Sudah dua bulan ini ia bolak balik ke Kalimantan karena ayahnya sedang sakit.
Ia telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan Dita di Yogyakarta, namun hasilnya masih Nihil hingga kini. Ia tidak mengira bahwa Dita akan menghilang selama ini. Ia kira Dita hanya perlu waktu sesaat untuk menenangkan Diri, namun nyatanya hingga kini belum ada tanda-tanda Dita akan kembali.
__ADS_1
Selama dua bulan ini ia tetap mengirimkan uang ke rekening Dita. Ia takut Dita kekurangan uang di luar sana. Awalnya ia sedikit lega bahwa rekening Dita masih aktif sampai pada akhirnya tadi malam ia harus menerima kenyataan uang yang ditransfernya untuk Dita ternyata di transfer balik oleh Dita. Baginya ini adalah sebuah penolakan. Inilah yang sedang mengganjal di pikirannya saat ini. Apakah Dita sudah membenci dirinya sampai-sampai tidak mau menerima uang pemberiannya.