
Siang itu beberapa polisi datang untuk mewawancarai Dita. Dita pun menceritakan secara detail apa yang ia lihat dan ia alami saat kecelakaan itu.
Polisi juga bertanya apakah Dita mempunyai musuh ataupun sedang bertengkar dengan orang lain, Dita telah menjawab sejujur-jujurnya tentang perselisihannya dengan Wina dan ibunya beberapa saat sebelum kejadian itu.
Dan polisi telah mencatat serta merekam jawaban Dita. Ia pun merasa lega karena telah mengungkapkan semuanya. Ia berharap akan segera mendengar kabar baik dari pihak kepolisian.
Mas Ryan yang mendampinginya selama proses wawancara pun lega karena kini ia dan Dita tinggal menunggu hasil pencarian polisi. Mas Ryan benar-benar geram dan tak habis pikir, ia penasaran siapakah yang berusaha membuat istrinya celaka. Apakah benar-benar Wina atau ada orang lain yang berniat jahat pada keluarganya.
Mas Ryan dan Dita merasa tidak punya musuh selain Wina yang masih menganggap perceraiannya dengan Mas Ryan disebabkan oleh Dita. Mas Ryan pun tak akan segan-segan menjebloskan Wina ke penjara jika benar dia dalang dibalik semua ini.
...***...
Keesokan harinya Mas Ryan mendapat telepon dari pihak kepolisian. Mas Ryan dharuskan datang ke kantor polisi saat itu juga.
__ADS_1
Sambil menerima telepon, ia melirik ke arah Dita yang terlihat agak terkantuk-kantuk karena habis minum obat. Dan setelah memutus sambungan panggilan ia mendekat ke arah Dita.
"Sayang, kalau aku pergi sebentar apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya pada Dita.
Dita langsung menoleh ke arah suaminya, "Memangnya kamu mau kemana Mas?" tanyanya penasaran.
"Ada urusan pekerjaan yang harus cepat aku selesaikan, aku janji tidak akan lama, nanti siang aku sudah kembali ke sini" jawabnya sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Ia terpaksa berbohong dengan Dita. Ia tidak mau Dita kepikiran dan memperburuk kondisinya yang sudah mulai stabil saat ini.
"Aku panggil perawat ya, biar menjaga kamu dsini selama aku pergi" ucapnya sambil memencet tombol panggilan untuk perawat jaga.
Tak lama kemudian, seorang perawat pun masuk ke kamar perawatan Dita. Mas Ryan langsung menjelaskan bahwa ia harus segera pergi, dan ia mau satu orang perawat jaga untuk menjaga istrinya selama ia pergi. Perawat tersebut mengiyakan dan segera memanggil rekannya yang sedang standbye untuk segera datang ke kamar Dita.
__ADS_1
Setelah perawat jaga yang dimaksud datang, Mas Ryan langsung pamit dengan istrinya dan segera pergi.
"Sayang, aku pergi dulu ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke?" ucapnya sambil mengecup kening Dita dengan lembut.
"Iya Mas, kamu tenang saja. Kan ada perawat di sini" jawab Dita sambil mengelus lengan suaminya.
Mas Ryan pun langsung keluar kamar perawatan dan langsung menuju basement untuk mengambil mobil. Ia mengemudi sambil menerka-nerka, kira-kira apa yang akan di sampaikan polisi padanya.
Apa mungkin polisi sudah menemukan pelakunya? Ataukah polisi hanya sekedar perlu informasi darinya saja? Berbagai pertanyaan berputar di pikirannya saat ini.
Beruntungnya kantor polisi setempat tidak jauh dari rumah sakit tempat Dita dirawat. Hanya dalam sepuluh menit Mas Ryan sudah tiba di sana.
Sesampainya di kantor polisi, Mas Ryan langsung di minta untuk menunggu tanpa di beri kesempatan bertanya.
__ADS_1
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Mas Ryan di datangi oleh seorang polisi dan ia meminta Mas Ryan untuk ikut dengannya ke dalam.