Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 70


__ADS_3

'tuuut...'


'tuuut...'


Terdengar sebuah sambungan telepon di ponsel Mas Ryan. Kakinya terus bergoyang sejak tadi, menandakan ia sedang gelisah.


Tak juga ia mendapat jawaban dari sambungan di seberang sana.


Sampai akhirnya terdengar suara seorang lelaki, "Hallo".


"Hallo Dim, bagaimana? Apa sudah berhasil bertemu dengan pemilik rumah?" tanya Mas Ryan dengan harapan penuh.


"Mas, ternyata benar Dita sempat menyewa rumah itu. Dulu dia tinggal di sana selama empat bulan terus pindah" jelas Dimas di seberang telepon.


"Pindahnya kemana Dim? Ada info tidak?" tanyanya lagi.


"Pemilik rumah tidak tahu Mas, Dita pamit pindah saja. Kemudian sisa masa sewanya di kasih ke orang yang sekarang tinggal di rumah itu", jelas Dimas lagi.


"Eh tapi Mas, kata yang punya rumah itu Dita menitipkan kunci rumahnya pada seorang laki-laki. Laki-laki itu juga yang membawa orang yang tinggal di rumah itu sekarang" lanjut Dimas.


"Laki-laki?" tanyanya penasaran. Ada sesuatu yang panas tiba-tiba muncul dalam dadanya, seolah ada rasa terbakar.


"Iya Mas, laki-laki. Untungnya pemilik rumah masih menyimpan nomor telepon laki-laki itu" jelas Dimas lagi.


Wajah Mas Ryan sedikit berubah. Matanya menyorotkan harapan. Walaupun baru setitik harapan, namun ia sudah merasa senang karena ada petunjuk.


"Dim, bagaimana kalau aku langsung berangkat ke Jogja saja menemui orang itu?" tanya Mas Ryan dengan bersemangat.


"Kamu coba hubungi dulu saja orang itu Mas, kalau memang memungkinkan, kamu bisa berangkat untuk bertemu orang itu" ujar Dimas memberi saran.

__ADS_1


"Benar juga, tolong segera kirimkan nomornya padaku ya Dim. Aku akan segera menghubunginya. Oh iya, kalau ada info segera hubungi aku Dim" jawab Mas Ryan yang setuju atas saran Dimas.


"Ok, Mas. Siap" ucap Dimas sambil menekan tombol merah pada ponselnya.


Mas Ryan yang sejak tadi tidak bisa diam terlihat makin gelisah. Dilihatnya belum ada pesan masuk dari Dimas.


Terlihat ia mondar mandir di ruangannya. Sesekali duduk, kemudian berdiri, tak lama kemudian memain-mainkan bola dunia yang terletak di atas meja kerjanya. Hingga akhirnya ponselnya berdenting karena sebuah notifikasi masuk.


Dipandangnya deretan angka yang dikirimkan oleh Dimas. Dengan tak menunggu lama, ia pun melakukan panggilan ke nomor tersebut.


Terdengar menyambung namun belum ada jawaban hingga terdengar suara operator yang menjelaskan bahwa nomor tersebut tidak menjawab.


Dicobanya lagi, lagi-lagi menyambung. Namun tetap saja tidak mendapatkan jawaban.


Ia mulai berkeringat karena degub jantung yang sejak tadi kian berdegub gelisah. Di sekanya dahinya sambil kembali mencoba melakukan panggilan. Sepertinya tetap tidak ada jawaban. Ia terlihat lemas karena baru saja tadi harapan itu datang namun kini seperti mempermainkannya. Tiba-tiba terdengar jawaban dari seorang lelaki di seberang telepon, "Ya, Hallo".


"Ya, Hallo" ucapnya berapi-api.


"Ini siapa?" tanya laki-laki tersebut yang tak lain adalah Dokter Aldy.


"Hmm, maaf mengganggu. Saya Ryan. Saya mendapatkan nomor telepon ini dari pemilik rumah yang di tempati Dita beberapa waktu lalu" jelasnya sebagai pengantar.


Mendengar nama Dita disebut, Dokter Aldy langsung memasang kuping dengan seksama.


"Ya, ada perlu apa ya?" tanya Dokter Aldy singkat.


"Saya mencari keberadaan Dita selama ini. Bisakah kamu memberi saya informasi, dimanakah Dita kini berada?" tanyanya dengan sopan.


"Kamu siapanya Dita?" tanya Dokter Aldy penasaran.

__ADS_1


"Saya ayah dari anak yang di kandung Dita" ucapnya dengan pasti.


Dokter Aldy terdiam, ia baru tahu ternyata Dita kabur dan menghilang dari orang yang sepertinya mantan suaminya ini.


"Maaf, saya tidak berwenang memberikan informasi apapun" ucapnya lantang. Ia tidak mau Dita kembali lagi pada orang yang sepertinya telah begitu menyakiti hatinya.


"Tolong, saya mohon. Saya butuh informasi tentang keberadaan Dita. Hanya anda harapan saya, tolong bantu saya" ucap Mas Ryan memohon dengan mata berkaca-kaca.


Dokter Aldy terenyuh mendengar lelaki yang tidak dikenalnya itu memohon padanya, "Dita sudah tidak berada di Jogja. Kini Dita telah hidup dengan bahagia, ia telah melahirkan sekitar satu bulan lalu. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat sempurna yang ia beri nama Xander, Alexander".


Kaki Mas Ryan seketika lemas, lututnya seakan tak mampu menopang badannya. Air matanya mengucur deras membayangkan Dita yang berjuang melahirkan anaknya sendirian tanpa ia di sisinya.


"Lalu mereka kini ada dimana?" tanyanya sambil menahan isak tangis.


"Maaf, hanya informasi itu yang bisa kuberikan. Aku tidak bisa mencampuri urusan orang lain lebih dalam" jawab Dokter Aldy.


'klik'


Dokter Aldy memutus sambungan telepon.


Mas Ryan menekan ponselnya kembali namun masuk sebuah pesan dari Dokter Aldy, yang berisikan sebuah foto bayi laki-laki. Bayi laki-laki yang terlihat menggemaskan dengan kulit putih dan pipi kemerahan.


Kembali di tekannya nomor tadi kemudian menelepon. Namun tidak tersambung. Di cobanya kembali tetap tidak tersambung.


Rupanya nomornya telah di blokir oleh Dokter Aldy setelah mengirimkan foto tadi.


Dipandanginya foto anaknya tersebut, di elusnya pipinya yang kemerahan. "Alexander anakku" ucapnya lirih.


Cairan panas telah mendesak untuk terus keluar dari ujung matanya. Di dekapnya foto anaknya tersebut sambil memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2