
Dita tengah menyusun beberapa baju ke dalam koper Mas Ryan. Mas Ryan akan pergi sekitar dua hari. Dita juga memastikan semua perlengkapan suaminya itu sudah terkemas rapi di dalam koper.
Mas Ryan terlihat sedang berpakaian dan bersiap-siap untuk segera ke bandara. Karena pesawatnya terjadwal pukul 11.00, sedangkan kini sudah menunjukkan hampir pukul 09.30.
Supirnya sudah menunggu di depan. Dita tidak ikut mengantarkan ke bandara, Mas Ryan tidak mau ia terlalu lelah. Oleh karena itu Dita hanya melepas suaminya dari rumah saja. Xander hari ini pun sekolah, namun papanya sudah berpamitan pada anaknya itu tadi pagi sebelum Xander berangkat.
Dita memeluk suaminya itu dengan erat.
"Kamu hati-hati ya Mas, nanti kabari aku ya" ucap Dita dengan masih tetap memeluk suaminya.
"Iya sayangku, kamu jangan terlalu khawatir ya, nanti kamu bisa stress. Aku tidak akan lama, nanti malam rapat terus besoknya aku ke makam papa mama, paling cepat aku pulang besok sore, tapi kalau ada urusan lain mungkin lusa aku akan pulang" jawab Mas Ryan kemudian mengecup kening istrinya dengan mesra.
"Iya mas, yang penting kamu selalu kabari aku, itu saja cukup" ucap Dita lagi.
"Iya sayang iyaa, kalau misalnya aku sedang tidak bisa angkat telepon atau balas chat kamu hubungi Dimas saja ya" jawab Mas Ryan.
__ADS_1
Kemudian Dita menyuruh Mas Ryan untuk segera berangkat agar tidak terlambat. Mas Ryan kembali mencium istrinya itu sebelum menyeret kopernya dan segera masuk ke dalam mobil.
Setelah Mas Ryan berangkat Dita kembali ke kamar dan berbaring. Ia masih harus banyak istirahat agar kondisinya stabil.
***
Malam itu Dita sedang duduk di ruang TV sambil melihat Xander yang sedang makan di kursi makannya. Lina, baby sitter Xander terlihat sedang membersihkan makanan Xander yang berjatuhan di lantai. Sedangkan Bi Pur sedang mengelap meja dapur.
Dita memperhatikan Xander yang makan dengan lahapnya. Ayam goreng kremes kesukaannya berhasil membuatnya harus menambah nasi untuk piring keduanya. Dita sangat senang melihat Xander yang selalu tidak susah untuk makan. Telur dadar plus bawang goreng sudah bisa membuatnya tidak bisa menolak. Oleh karena itu ia sangat bersyukur punya anak seperti Xander yang tidak banyak memilih makanan.
Tiba-tiba bunyi notifikasi chat di ponsel Dita. Dita mengabaikannya karena ia menyangka itu adalah chat di group WhatsAppnya.
Namun ternyata bukan Mas Ryan, di lihatnya deretan nomor itu namun ia tidak mengenal nomor tersebut. Kemudian di bukanya chat tersebut, terlihat seseorang mengiriminya foto.
Dibukanya foto tersebut, terlihat foto seorang laki-laki yang sedang duduk, namun hanya terlihat bagian tangan dan sebagian badan nya saja.
__ADS_1
Diperhatikannya dengan seksama, hatinya berdesir tidak karuan, ia sangat mengenali jam tangan yang di pakai seseorang itu mirip dengan jam tangan suaminya, kemeja maroon yang sedikit terlihatpun persis kemeja milik suaminya, saat melihat cincin pernikahannya di jari orang itu ia langsung bisa mengkonfirmasi bahwa yang ada dalam foto tersebut adalah suaminya. Ia bisa menjamin 100% orang itu adalah Mas Ryan.
Dita heran, siapakah yang memfoto suaminya secara diam-diam seperti ini. Apa mungkin Dimas atau Novia.
Kemudian dibukanya display picture pengirimnya untuk mengetahui siapakah pengirim foto itu. Seketika mata Dita terbelalak, kemudian lututnya terasa lemas tangannya gemetar. Foto Wina terpampang jelas di display picture tersebut.
Kemudian masuk sebuah chat:
Pinjam suaminya dulu ya, mau nostalgia ❤
Dita kembali kaget bukan kepalang membaca chat tersebut. Hati Dita mendadak menjadi panas tak karuan.
Ia tidak menyangka bahwa Mas Ryan akan bertemu dengan Wina di sana.
Bagaimana mungkin Wina bisa sedang bersama Mas Ryan. Padahal tadi Mas Ryan meneleponnya dan bilang bahwa ia akan segera rapat. Tiba-tiba ia teringat Mas Ryan bilang bahwa rapatnya di hotel, hatinya makin gelisah. Ia benar-benar tak habis pikir ternyata Wina masih berusaha menghancurkan hubungannya dengan suaminya.
__ADS_1
Dita berbegas masuk ke kamar, ia menjauh dari Xander sejenak. Dengan tangan yang masih gemetaran di tekannya nomor ponsel Mas Ryan, ditunggunya tersambung namun terdengar suara operator pertanda ponselnya sedang tidak aktif.
Dita menghela nafas dengan berat. Kemudian ia mematikan panggilannya dan menghempaskan ponselnya di tempat tidur dengan kesal.