Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 112


__ADS_3

Pagi harinya Mas Ryan menelepon Dita dan memberi kabar bahwa sore ini ia akan pulang ke Jakarta. Hati Dita sedikit lega mendengarnya. Dita belum memberi tahu tentang foto yang dikirimkan Wina semalam.


Dita tidak mau membahasnya lewat telepon. Ia mau menanyakannya langsung pada Mas Ryan. Ia juga tak ingin bertanya pada Dimas, karena ia tak mau masalah rumah tangganya harus terdengar oleh adik iparnya itu.


Sejak semalam Dita berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak mau keadaan buruk terulang lagi di kehamilan keduanya ini. Dita yang sekarang sudah menjadi lebih kuat dari pada Dita yang dulu. Ia tidak boleh lemah menghadapi masalah ini. Karena ketika memutuskan menikah dengan Mas Ryan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berani menghadapi masalah apapun yang akan ditemuinya di dalam rumah tangganya.


Dita merasa kali ini ia tidak boleh lemah, ia juga tidak boleh gegabah dalam menyelesaikan masalah. Dan banyak lagi sugesti positif yang terus diulang-ulang di dalam pikirannya sejak semalam. Walaupun sejujurnya ia sudah gelisah menunggu kepulangan suaminya sore ini.


Tiba-tiba lamunan Dita buyar karena mendengar suara pintu kamar yang terbuka.


Xander masuk dengan seragam sekolahnya dan rambut yang sudah klimis.

__ADS_1


"Ma, aku berangkat sekolah ya" ucapnya sambil mangambil ancang-ancang ingin mencium pipi mamanya.


"Iya sayang mama, Xander belajar yang benar ya nak. Maaf ya mama belum bisa antar Xander ke sekolah" ucap Dita kemudian mencium anaknya balik.


Tak lama kemudian Xander pun menghilang dari balik pintu kamarnya. Sejak kondisi Dita yang tidak memungkinkan untuk mengantarkan Xander ke sekolah, Mas Ryan mengambil alih untuk bagian antar jemput Xander setiap hari.


Namun ketika Mas Ryan sibuk dan tidak bisa, maka ia menugaskan supirnya yang didampingi oleh baby sitter Xander untuk mengantar atau pun menjemput anaknya itu. Dita dan Mas Ryan bersyukur Xander selalu mengerti dan tidak pernah protes dengan keadaan.


...***...


Hingga hampir pukul 21.00 Mas Ryan tak kunjung muncul. Xander yang sudah kelamaan menunggu papanya itu sampai tertidur di sofa. Dita mulai resah, diteleponnya kembali suaminya itu. Sudah terdengar tersambung, namun tidak di angkat. Ketika Dita ingin mengakhiri panggilannya tiba-tiba terdengar suara jawaban Mas Ryan.

__ADS_1


"Hallo sayang" ucap Mas Ryan dengan sedikit terengah-engah.


"Kamu di mana Mas?" tanya Dita to the point.


"Aku baru saja masuk ke dalam mobil. Ini langsung jalan pulang. Maaf ya tadi cuaca buruk jadi jadwal pesawatnya delay sekitar dua jam lebih" jawab Mas Ryan yang tahu istrinya sedang khawatir.


"Kalau delay kenapa tidak memberi tahuku Mas? Aku khawatir. Xander juga dari tadi menunggu kamu sampai ketiduran, kasihan dia" ucapnya dengan kesal.


"Maaf sayang ya, maaf. Aku lupa kasih kabar ke kamu" ucap Mas Ryan dengan merasa bersalah.


Dita kemudian mematikan panggilan teleponnya. Ia cukup kesal kali ini. Bisa-bisanya Mas Ryan lupa memberi kabar padanya padahal ia mengkhawatirkan kondisinya. Apalagi jika berhubungan dengan keberangkatan pesawat, bisa-bisa ia jantungan karena takut dan khawatir.

__ADS_1


Sekitar tigapuluh menit kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman, kemudian Mas Ryan memencet bel dan Dita segera membukakan pintu.


Begitu melihat Dita, Mas Ryan langsung mengecup kening istrinya itu, namun tak ada balasan dari Dita. Mas Ryan sadar jika Dita masih kesal padanya. Ia ingin mencoba sekali lagi menjelaskan pada istrinya, namun belum ia bersuara Dita sudah memotongnya. "Sudah Mas nanti saja dibahas, mandi dulu, setelah itu makan" ucapnya sambil menyeret koper Mas Ryan.


__ADS_2