
Dita mulai panik ketika menyadari bahwa yang keluar itu adalah air ketuban. Seketika lututnya lemas, pikirannya kacau. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia belum pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya, ia bingung harus berbuat apa.
Dengan setengah terseret-seret tangannya meraih kursi panjang yang tidak jauh darinya. Ia terduduk sambil memegang perutnya, kini air matanya sudah tumpah karena ia berada di pinggir jalan dan tidak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Diambilnya ponselnya dari dalam saku celana. Dengan gemetar dicarinya sebuah nama yang ia harap bisa membantu memberikannya solusi saat ini.
Begitu di lihatnya nama Dokter Aldy, ia langsung menekan tombol hijau pada ponselnya. Kemudian terdengar suara menyambung yang terasa begitu lama bagi Dita hingga pada akhirnya disambut dengan suara Hallo dari Dokter Aldy.
Dita langsung segera menjelaskan kondisinya saat ini dengan panik dan menangis. Dokter Aldy sepertinya sudah biasa menghadapi hal seperti ini sehingga bersikap lebih tenang.
"Dit, sekarang kamu tenangkan diri kamu. Kamu jangan panik. Ini normal terjadi, oke?" jelas Dokter Aldy.
__ADS_1
Dita mengangguk dan mengiyakan.
"Sekarang kamu tarik nafas yang dalam kemudian buang. Lakukan tiga kali. Kemudian cari apa saja yang bersih, misalnya kain atau saputangan dan letakkan di antara kedua paha supaya airnya tidak merembes keluar. Sekarang kamu berjalan dengan tenang dan jangan berlari, segera temui siapa saja di sekitar kamu dan minta bantuan untuk segera ke rumah sakit. Kamu dengar aku kan Dit?" ujar Dokter Aldy.
"Iya aku dengar" jawab Dita paham.
"Jangan matikan teleponnya sampai kamu tiba di rumah sakit, ucapkan apa saja yang kamu rasakan aku akan bantu dari sini" Dokter Aldy kembali memberinya arahan.
"Iya, aku sudah mulai berjalan mencari bantuan" jawabnya sambil gemetar.
Dita pun menghampiri mereka, "I'm going to give birth soon. Could you guys help me? I have to get to the hospital as soon as possible because my amniotic fluid is out." ucapnya sambil menunjuk celananya yang sudah basah.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu terperangah dan kaget, salah satu dari mereka segera mencegat sebuah mobil dan berdialog sebentar dengan orang yang berada di balik kemudi. Tak lama kemudian mereka menuntun Dita untuk segera masuk dan menuju rumah sakit yang hanya berjarak lima menit jika menggunakan mobil.
Ditambah lagi dengan kecepatan penuh yang dilakukan pemilik mobil membuat Dita sampai di depan emergency room hanya dalam tiga menit. Beberapa perawat langsung keluar melihat kondisi Dita kemudian berlari mengambil kursi roda. Ketiga lelaki tadi juga membantu Dita untuk duduk dan menemani sampai ke dalam emergency room hingga Dita ditangani dan di bawa ke ruangan lain. Tak lupa Dita berterima kasih pada mereka yang sudah sangat baik hati bersedia menolongnya.
"Aku sudah di rumah sakit" ucap Dita yang baru tersadar jika sambungan telepon dengan Dokter Aldy masih terhubung.
"Kamu sudah merasa nyeri?" tanya Dokter Aldy memastikan.
"Sudah, cukup intens rasanya" jawab Dita sambil memegang perutnya yang menegang.
"Dit, kamu harus tenang ya. Kamu jangan panik. Jangan lupa selalu atur nafasmu. Kamu pasti bisa Dit. Kamu harus semangat untuk bertemu anakmu, sebentar lagi kalian akan bertemu. Aku mendoakanmu dari sini" ucap Dokter Aldy agar Dita tidak panik.
__ADS_1
Dita terisak dan mengucapkan terima kasih.
Tak terasa air matanya kian meleleh. Kini ia harus berjuang untuk melahirkan anaknya dengan selamat. Ia harus berhasil membawa anaknya sampai ke dunia.