MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Mimpi


__ADS_3

Hari ini Mariam berniat menengok Sarah dirumah sakit.


Kondisi nya sudah membaik paska operasi, karena kanker yang dia derita masih ringan dan belum menyebar, jadi Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan kini tinggal menunggu kondisi nya pulih saja.


"Bagaimana kondisimu sekarang Sar?!"Tanya Mariam begitu ia sampai di rumah sakit.


"Alhamdulillah baik, kanker di rahimku sudah diangkat,jadi insyaallah kini aku terbebas dari penyakit itu!"Jawab Sarah, tidak seperti biasanya sikapnya kepada Mariam kini begitu dingin dan seperlunya.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu,Sar!Aku turut bahagia atas kesembuhan mu,semoga kamu sehat terus selamanya,Ya!"Mariam memeluk hangat sahabatnya itu,tapi Sarah mengabaikan Mariam begitu saja, Mariam pun merasakan ada sikap yang berbeda dari Sarah dan Ia belum tahu apa penyebabnya.


"Katanya Wira sudah kembali ingatan nya,ya Sar?apa benar begitu?!"


Tanya Mariam.


"Ya, Alhamdulillah, akhirnya Suamiku kembali dan kini Dia semakin sayang kepada Ku!"Jawab Sarah agak sinis.


"Lalu apa yang membuatmu kesal? Kamu marah sama Aku Sar?! salah aku apa?"Tanya Mariam dengan lemah lembut,Ia tidak ingin ada perpecahan dalam persahabatan yang sudah lama mereka jalin dari dulu.


"Kamu gak bilang kalau kamu ikut berlayar dengan Mas Wira!"


Mariam tersenyum,


*Oh, rupanya Sarah cemburu kepada ku.*Batin Mariam.


"Aku bukan ikut kepada Wira,Sar!tapi Aku ikut berlayar sebagai sekertaris Juna,disana pun kita terpisah jauh, jadi kamu gak usah khawatir,Wira tidak pernah macem macem,Sar! Apalagi sekarang ingatan nya sudah kembali, pasti Dia juga kan sama Kamu!"


Mariam berusaha memberi penjelasan, Ia memaklumi jika Sarah pasti sedang sensitif karena penyakit nya.


Sarah membuang nafas nya kasar.


"Maafkan Aku Mar,aku langsung resah begitu tahu kamu juga ikut serta, secara dipikiran Mas Wira hanya ada kamu Mar!Aku sempat khawatir kalian menjadi semakin dekat!"


"Tidak seperti itu kok Sar,Wira tidak pernah sedikitpun mendekati ku, Dia sangat menghormatiku sebagai sahabat kamu! Bagi kami jarang bertegur sapa!"Mariam harus menyembunyikan fakta yang sesungguhnya, bahkan sebenarnya ingatan Wira kembali karena di pukul Mariam saat Wira hendak melakukan pelecehan terhadapnya karena dibawah pengaruh alkohol.


"Maaf,Aku sempat meragukan mu Mar!Oh Iya Mar,Kata Mas Wira kamu sedang dekat dengan seseorang, benarkah?!siapa Dia,Mar? Katanya bos besar keturunan Inggris ya?! Ayo dong Mar, kenalin Dia sama Aku!"


Mungkin karena ingin menenangkan Sarah, Wira menyebut Mariam sedang dekat dengan seseorang.


"Ahh, siapa Sar?!gak ada kok!"


Elak Mariam.


"Sebaiknya kamu harus cepat cepat menikah lagi deh Mar,agar Mas Wira tidak mengingat ngingat mu lagi!"Ucap Sarah, seperti nya Dia masih takut kehilangan Wira dan takut Suaminya berpaling lagi kepada Sahabatnya itu.


"Iya, nanti Aku kenalkan dia kok sama Kamu!"Jawab Mariam ragu,siapa Pria yang Wira maksud dan diberitahukan kepada Sarah?!


Oh, pasti maksudnya adalah si Tuan Ken itu!


Oh tidak! Bahkan Aku tidak ingin bertemu lagi dengan nya.

__ADS_1


Batin Mariam.


Tapi demi menenangkan Sahabatnya yang baru saja pulih,dia memilih mengatakan iya iya saja.


"Beneran ya Mar!nanti begitu Aku pulang dari rumah sakit,Mas Wira berniat mengadakan syukuran,Kamu harus ajak dia juga untuk datang!Aku tunggu ya,Mar!"Sarah begitu antusias ingin mengetahui Pria yang sedang dekat dengan Mariam.


Mariam hanya nyengir kuda,dia tidak mungkin mengajak Pria manapun karena dia memang sedang tidak dekat dengan siapa pun, tapi Mariam juga tidak ingin Sarah terus menerus memiliki pikiran buruk kepada Suaminya tentang Dia,dan jalan satu satunya memang betul,Dia harus terlihat dekat dengan seseorang, meskipun hanya pura pura.


Tapi siapa?


tidak mungkin Si Ken itu, Mariam tidak suka!


🐈🐈🐈


Sepulang menengok Sarah, Mariam mampir ke rumah salah seorang kenalannya yang seorang Ustadzah,yang bernama Umi Siti.


Mariam kenal dengan Umi Siti ini karena Beliau adalah guru mengajinya Satria.


Mariam sering mengobrol dengan Umi Siti, mereka sering bertukar pikiran dan Suami Umi Siti juga adalah seorang Ulama pimpinan pondok pesantren di daerah itu.


Umi Siti sering menawarkan Mariam untuk bertaaruf dengan beberapa kenalan rekomendasi dari Abah Mus, Suaminya, tapi Mariam selalu menolak dengan alasan belum bisa move on dan belum ada niat untuk menikah lagi.


Kunjungan nya kali ini adalah karena Umi Siti sengaja mengundangnya agar Mariam datang dalam acara kenaikan kelas, tentu saja Mariam harus datang untuk Satria.


Acara begitu meriah dengan penampilan luar biasa dari para Santri.


Satria juga ikut tampil, dengan penuh percaya diri dia membacakan Ayat-ayat suci Alquran dan membuat Mariam begitu bangga dan terharu.


Kedekatan nya bersama Wira kini tidak terlalu intens, Satria lebih sibuk di pesantren pimpinan Abah Mus dan Dia senang berada disana karena memiliki banyak teman,dia pun terlihat nyaman berbaur dengan para Santri yang lainnya meskipun dari kalangan yang berbeda beda.


Meskipun usianya masih kecil, tapi Satria begitu dewasa dan sudah mengerti keadaan.


"Neng Mariam,Kata Umi ditunggu di pendopo utama,mari Saya antar!"Kata salah seorang Asisten Umi Siti.


Mariam pun mengangguk dan beringsut mengikuti orang suruhan Umi Siti.


"Assalamualaikum,Umi,Abah!"Sapa Mariam sambil mencium tangan Umi Siti yang sudah Ia anggap sebagai Ibunya sendiri.


Tak lupa Ia pun memberi hormat kepada Kiai Mus, pimpinan pondok pesantren itu yang juga Suami dari Umi Siti.


Tak berani Mariam menatap wajah beliau yang sekilas terlihat bercahaya, beliau begitu penuh wibawa dan perkataannya penuh hikmah.


Untuk apa Umi Siti memanggilnya, bahkan ada Kiai Mus juga.


"Duduklah Nak! ada yang ingin Abah sampaikan kepadamu!"Kata Umi Siti sambil menggapai tangan Mariam agar duduk disampingnya.


Mariam pun mengikuti perintah Umi Siti dan duduk dihadapan Kiai Mus sambil menunduk.


"Nak bagaimana pandangan mu kepada Abah dan Umi selama ini?!"Entah apa tujuan Abah bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Mar, sudah menganggap Umi dan Abah seperti orangtua Mar sendiri, itu jika Abah dan Umi tidak keberatan!"Jawab Mariam dengan begitu sopan.


"Tentu saja Abah senang mendengarnya, berati Kamu percaya apa yang Abah katakan dan Abah putuskan adalah benar dan untuk kebaikan mu kan,Nak?!"Tanya Kiai Mus lagi,Ia ingin Mariam mempercayai sebagai nasihat dari orangtua.


"Tentu saja Abah, setiap yang Abah katakan adalah hikmah,dan setiap yang Abah putuskan adalah perintah!"Ucap Mariam.


Abah tersenyum puas mendengar jawaban Mariam.


"Kamu tahu milik siapa ini?!"


Abah memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin cincin.


Itu seperti milik nya, cincin kawin nya bersama Bima sengaja Ia gantung sebagai liontin di kalung miliknya, beberapa hari ini kalung itu hilang dan Mariam Belum menemukan, bagaimana bisa ada di Abah.


"Ini kalung Mar yang hilang Abah, bagaimana bisa ada pada Abah,dimana Abah menemukan nya!?"Kata Mariam sambil menimbang nimbang kalung itu, Dia begitu senang kalung dan cincin nya bisa kembali.


"Kemarin malam Abah didatangi seorang Pria yang mengaku sebagai suami kamu,Nak!"


"Mas Bima?!"


Tebak Mariam,dia begitu antusias mendengarkan Abah.


Abah mengangguk lalu meneruskan perkataannya.


"Apa yang dia katakan Abah!?"Mariam begitu penasaran.


"Dia meminta tolong kepada Abah agar menitipkan kamu dan putera kamu kepada orang yang menemukan kalung itu,Nak!Abah sempat bingung dengan mimpi Abah itu.


Lalu Qodarullah,siang harinya datang seorang Pria yang kebetulan orang tuanya adalah jamaah dan donatur tetap pondok ini, mereka bilang Puteranya menemukan sebuah kalung dan bermimpi harus diserahkan kepada seorang Kiai bernama Mustafa,dan itu adalah Abah.


Semuanya menjadi jelas Nak setelah itu,Abah yakin jika Pria itu adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuk kamu,Nak!"Kata Abah mengakhiri ucapan nya.


"Siapa kah Pria itu Abah?!"Tanya Mariam agak ragu, pasalnya dia pasti tidak akan mengenal Pria itu ,lalu bagaimana mereka bisa bersama,tapi itu adalah amanah yang harus dijalankan, Allah sudah mengirimkan jodoh nya lewat cincin kawin miliknya.


"Apa kamu akan menerimanya Nak?!"Tanya Abah memantapkan hati Mariam.


Mariam melirik ke arah Umi Siti,Umi Siti mengangguk memberinya keteguhan hati.


"Mar yakin ini adalah keputusan Allah, jadi apa yang terbaik menurut Abah,Mar ikut saja!"Keputusan yang berat memang, bahkan dia tidak tahu siapakah Pria itu.


"Lihatlah keluar lewat kaca itu,Nak! tunggulah sebentar lagi,akan ada seorang Pria yang akan bertabrakan dengan Putra mu,dan itu adalah dia!"Ucap Kiai Mus sambil terpejam,dia memang memiliki kelebihan mata batin yang kuat.


Dan benar saja, terlihat seseorang bertabrakan dengan Satria,Pria itu membantu membangunkan Satria yang terjatuh, tidak terlalu terlihat jelas siapa Pria itu karena tubuhnya membelakangi pendopo utama.


Mariam bangkit dan berlari untuk menolong Satria,dia khawatir puteranya itu kenapa kenapa.


"Kamu tidak apa apa sayang?!"Tanya Mariam sambil membantu Satria bangun.


"Kalau jalan itu hati hati dong, Anak kecil ditabrak segala, kalau anak saya kenapa kenapa gimana?!"

__ADS_1


"Kamu?!"


Ucap mereka berdua bersamaan.


__ADS_2