
Kamu lihat bekas luka ini?!"
kata Pak Danu sambil menunjuk kan bekas luka di betis nya kepada Mariam
"Sampai sekarang kaki ku tidak bisa berjalan normal,Kaki kiriku patah dan ada lagi bekas luka di pinggang dan lenganku.
Saat kamu berumur 4 tahun,kamu hampir terlindas truk dan aku berusaha mengambil mu dari tengah jalan dan akhirnya,brak! truk tersebut menghantam tubuhku.
Aku tidak bermaksud pamer atau meminta kamu membalas budi,bukan seperti itu,Aku hanya ingin kalian tahu,bahwa aku dan Anwar sudah berjanji akan saling menjaga juga menjaga kalian dan kami juga bersepakat akan menikah kan kalian berdua jika sudah dewasa!"
"Apa?!dijodohkan?!"
Seru Mariam dan Bima bersamaan.
"Pah! Kenapa Papah dan Pak Anwar bisa seenaknya membuat kesepakatan seperti itu?!"Kata Bima .
"Lho kamu gak mau?! bukan nya kamu sangat mencintai Mariam?!"Pak Danu balik bertanya.
"Ya,mau sih Pah, tapi kan Mariam,,"
"Aku tidak mau,,!"Jawab Mariam tegas.
"Mar,,!"
Bima terlihat kecewa.
"Aku tidak membencimu Bim,dan aku pun tidak menyalahkan mu atas kepergian Ayahku,tapi saat aku melihat mu dan berada didekat mu selalu terngiang ngiang wajah ayah ku saat meregang nyawa dihadapan ku waktu itu.
Beri aku waktu untuk melupakan semuanya.
Semoga kamu lekas sembuh dan maafkan aku!"
Kata Mariam sambil beranjak hendak keluar dari ruang rawat Bima.
"Mar,,! Aku tidak akan memaksa mu untuk mau menikah dengan ku mulai saat ini!Tapi aku mohon tetap lah menjadi sekertaris ku, aku benar benar membutuhkan mu di perusahaan, please!"Bima memohon dengan sangat,ia memegang ujung kerudung Mariam.
Walaupun alasan yang sebenarnya adalah dia tak bisa jauh dari Mariam.
"Cepat sembuhlah dulu,akan aku pertimbangkan hal itu nanti!saya permisi dulu Pak!"Kata Mariam sambil membungkuk kan badan nya ke arah pak Danu.
"Satu lagi Mar, Saya harap Kamu dan Ibu mu tidak menolak apa pun bentuk pemberian dari saya, karena itu murni hak kalian,Aku memulai usaha dari nol bersama Ayah mu,jadi dia memiliki saham juga di perusahaan!"Kata Pak Danu lagi.
Mariam hanya mengangguk kemudian berlalu ke arah pintu,dia berniat keluar dari ruangan itu,namun pintu terbuka dengan sendirinya dari luar dan muncullah Arjuna.
"Haii, Angel!mau kemana?baru saja aku datang,kamu udah mau pergi aja!"Sapa Arjuna.
Mariam hanya melirik nya sedikit,mengangguk kan kepala nya lalu pergi menemui ibunya yang sedang mengobrol dengan Bu Liana lalu mengajak nya pergi.
"Dia sangat miripnya dengan Bapak nya,tegas dan mempunyai prinsip,juga keras kepala!"Gumam pak Danu.
**
"Kenapa Teh iyam begitu keras kepala!? Kayak bukan orang beriman saja!"Kata Fatimah sambil ngemil, sedang kan Mariam sedang sibuk di depan laptop nya,ia sedang mengerjakan proyek baru dengan Bima.
"Apa maksud mu?!"Mariam balik bertanya sambil melepaskan kacamata baca nya.
__ADS_1
"Kenapa Teteh terus menyalahkan Kak Bima atas kepergian Ayah! Padahal dalam Agama kita diajar kan untuk senantiasa percaya akan Qodo dan Qodar dari Allah, bukankah begitu?!"
Fatimah menasihati kakak nya.
"Teteh tahu,kok!"
"Terus?!untuk apa Teteh menyiksa kak Bima dengan sikap teteh yang seperti itu, kalau bukan menyalahkan dia karena demi menyelamatkan Kak Bima ,Ayah meninggal!"
"Kamu tidak mengerti apa yang teteh rasakan,jika saja kamu ada saat itu dan melihat ayah meregang nyawa di hadapan mata kamu sendiri, kamu bahkan akan membunuh Bima begitu kamu ingat dialah penyebab kematian Ayah!"Teriak Mariam kesal kepada adiknya.
"Pak Danu juga akan melakukan hal yang sama jika sesuatu terjadi padamu,Yam!Saat kamu berumur 4tahun kamu hampir tertabrak sebuah truk,dan dia juga rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan mu,hanya saja dia masih beruntung,dia masih selamat meski kaki kirinya patah dan jalan nya tidak normal sampai sekarang!"
Kata Umi yang sedari tadi mendengar kan percakapan kedua Putri nya,dan dia harus mengingatkan Mariam karena sudah memiliki pikiran yang salah.
"Mariam juga tahu,Pak Danu menceritakan semua nya!"Jawab Mariam.
"Lalu kenapa kamu masih berpikir jika Bima penyebab Ayahmu meninggal!?"Umi Salamah berusaha membuat Mariam menerima takdir yang telah terjadi.
"Mariam terlanjur berjanji kepada diri sendiri sejak waktu itu,Mariam bersumpah akan membuat perhitungan dengan orang yang sudah menyebabkan Ayah meninggal!"
Kata Mariam, pikiran nya kembali ke Masa lalu,ia ingat betul waktu itu ia sangat marah kepada Para penculik itu juga kepada Bima.
"Tapi kan yang menembak Ayah adalah para penculik nya Teh, bukan kak Bima! rasanya tidak adil jika Teteh malah menyalahkan kak Bima!"Fatimah berusaha menjernihkan pikiran Kakaknya.
"Jika saja waktu itu Bima tidak ribut dan berteriak teriak,para penculik itu tidak akan sampai menembak dan mengenai kepala Ayah!dia meregang nyawa dihadapan ku Umi!"
Teriak Mariam sambil menangis mengingat kejadian di masa lalu yang membuat nya begitu trauma.
Umi Salamah memeluk putri sulungnya,ikut terhanyut merasa kan kehilangan yang begitu mendalam,ia mengerti kenapa Mariam begitu marah,ia bukan marah kepada Bima, tapi kepada keadaan yang telah merenggut Ayah nya di depan matanya sendiri.
saja Umi,Mariam akan menerima tawaran Mang Imran untuk ta'aruf dengan Ustadz Khalid, Mariam bener bener gak bisa melihat Bima terus,Umi, dia mengingatkan terus Mariam kepada Ayah!"Tangis Mariam pecah di pelukan Uminya.
"Apa?!Apa Teh iyam sudah tidak waras!"Seru Fatimah,ia benar benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kakak nya itu.
Fatimah memang tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Mariam setelah tahu siapa Bima sebenarnya,dia pikir Kakak sangat berlebihan dan sudah goyah keimanan,dia yang selalu jadi panutannya, sosok nya kini hilang dan dia selalu terlihat bersedih.
Umi Salamah memberi tanda agar Fatimah diam dan membiarkan Mariam menumpahkan perasaan nya.
"Baik lah ,Nak! sebaiknya kamu makan dulu sekarang,ya! setelah itu kita pikirkan lagi rencana kamu selanjutnya!"
Umi Salamah berusaha mengalihkan pikiran Mariam.
Mariam akhirnya mengangguk dan mau makan bakso kesukaan nya.
"Umi, jangan ikuti kata kata Teh Iyam,dia kan lagi emosi saja! masa dia mau menikah dengan Ustad Khalid yang umur nya sudah tua, Fatimah tahu di dalam hati Teh iyam yang paling dalam,dia sangat mencintai kak Bima!"
"Umi juga bingung dengan Teteh mu itu!"
Jawab Umi Salamah
***
Esoknya Umi dan Fatimah dikejutkan dengan kedatangan Imran yang datang bersama Ustadz Khalid ke rumah kontrakan mereka.
"Maaf Teh, Imran terpaksa datang kesini karena ingin ada kejelasan perihal tawaran Ustadz Khalid waktu itu, Teteh gak kunjung pulang ke kampung dan Imran sudah terlanjur ada obrolan dengan Ustad Khalid tentang Mariam.
__ADS_1
Apakah Teteh sudah memberi tahu Mariam?!"Kata Imran,dia selalu berpura pura baik jika hadapan orang lain.
"Sudah kok,Im!
Saya Mohon maaf Pak ustadz,Anak saya Mariam baru saja sembuh dari sakit nya di ditambah dia sekarang bekerja di sebuah perusahaan, Fatimah juga sibuk kuliah disini,jadi saya memutuskan untuk tinggal disini dahulu kemarin."Kata Umi Salamah.
"Tidak apa apa Umi, saya juga kesini bukan ingin memaksakan untuk tetap berta'aruf dengan Neng Mariam, tapi hanya ingin memastikan apakah Neng Mariam bersedia atau tidak untuk mencoba berta'aruf dengan saya!"
Kata Ustadz Khalid dengan sopan, meskipun dia tidak muda lagi,tapi dia masih terlihat tampan dan gagah di usianya yang sekitar 45 tahunan.
"Nah bagaimana Mariam?!Kira kira bagaimana jawaban mu!?"Kata Imran langsung pada intinya.
"Baik! saya bersedia,tapi dengan satu syarat!"
Jawaban Mariam membuat semua orang yang ada di situ terkejut.
Termasuk seseorang yang baru saja datang dan dia berada di ambang pintu, ikut menyaksikan apa yang terjadi di dalam rumah Mariam.
Yaitu Bima,
Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan langsung menuju rumah Mariam untuk membicarakan pekerjaan,dia berharap Mariam bisa masuk kantor besok bersama nya.
Degh
Jantung Bima terasa berhenti berdetak,ia benar benar tak percaya Mariam akan menerima untuk berta'aruf dengan orang lain.
Sedangkan dia yang dari awal sudah mengajak menikah dengan nya ditolak mentah-mentah.
"Syarat apa memang?!"Jawab Ustadz Khalid Penasaran.
"Selama proses Ta'aruf saya masih ingin bekerja dan saya berharap anda tidak melarang aktivitas saya,dan saya akan tetap tinggal disini!"Jawab Mariam sambil melirik ke arah Bima yang dengan sengaja menampak kan diri,ingin terlihat oleh Mariam.
"Tentu saja,kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau,saya akan terus mendukungmu selama itu tidak melanggar aturan Agama, silahkan saja! lagipula saya akan sering datang ke kota ini karena saya ada banyak pekerjaan disini!"
Jawab ustadz Khalid membuat Bima tambah gamang.
"Apa apaan ini?!Teh, Teteh yakin dengan apa yang Teteh katakan?!"Fatimah angkat bicara mewakili perasaan Bima yang hancur berkeping keping saat ini.
"Fat,ini keputusan Teteh,hidup Teteh! semuanya tidak punya hak untuk mengatur hidup Teteh, termasuk kamu!"Jawab Mariam begitu tegas, membuat semua orang terdiam dengan keputusan Mariam yang tiba-tiba.
Imran tersenyum penuh kemenangan, akhirnya apa yang di impikan nya selama ini akan segera terwujud,dia akan menjadi pemilik perkebunan teh di kampung nya,itu yang dijanjikan Ustadz Khalid jika Mariam bersedia menikah dengan nya,dia akan mempercayakan perkebunan teh yang berhektar-hektar kepada Imran.
"Baiklah, berarti semua nya sudah jelas,satu Minggu lagi saya akan datang bersama keluarga saya, untuk mengesahkan proses ta'aruf ini, Umi! bagaimana menurut Umi?!"Kata Ustadz Khalid meminta izin kepada orang tua Mariam.
"Umi terserah Mariam saja,,dia yang akan menjalankan hidup nya!"Jawab Umi Salamah dengan penuh keraguan sebenarnya,dia masih bingung dengan keputusan putrinya yang aneh.
'Apa maksud semua ini Mariam?!Kamu benar benar marah kepada ku!? baiklah! selama janur kuning belum melengkung,aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu lagi,Aku tetap bersyukur masih bisa melihat mu dari dekat!'Batin Bima.
Setelah semuanya membubarkan diri dari Rumah Mariam, Bima masih bertahan disitu,ada banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan kepada Mariam.
"Kamu yakin dengan keputusan mu?!atau kamu hanya ingin membalas ku saja?!"
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Bima,tatkala mereka duduk di teras, sengaja Mariam memberi waktu kepada Bima untuk lebih jelas lagi segala nya.
Bersambung***
__ADS_1