MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Awan mendung


__ADS_3

"Kak Fat!Umi masuk rumah sakit!"Bibah menghubungi Fatimah begitu Fatimah dan Juna bersiap pergi ke Singapura.


"Apa?!kok bisa?!"Fatimah sangat terkejut mendengar nya.


"Teh Iyam bilang Umi terpeleset di kamar mandi saat berada dirumahnya!Umi langsung tak sadarkan diri dan Kak Bima langsung membawa nya ke rumah sakit!"Bibah menjelaskan kronologi yang Ia dengar dari Mariam.


"Baiklah, Kakak akan segera menyusul ke rumah sakit sekarang juga!"Kata Fatimah terdengar panik.


"Kenapa dengan Umi Sayang?!"Juna langsung bertanya begitu Fatimah menutup ponselnya dan terlihat panik.


"Umi masuk rumah sakit Kak! kita harus segera kesana!"


"Benarkah,Ayo kita pergi sekarang!Mahhh?!"


Juna memanggil Ibunya yang sedang berada di dapur.


"Iya,kenapa?!"


Sahut Nyonya Liana.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang!Uminya Fatimah masuk rumah sakit!"


"Kok bisa?!"


"Gak tahu Mam,Ayo kita kesana saja sekarang!"


Mereka bertiga pun segera meluncur ke rumah sakit dimana Umi dirawat.


Sementara disana semua orang sudah berkumpul di depan ruang ICU.


"Bagaimana Umi Bang?!"Tanya Juna kepada Bima yang terlihat sangat khawatir.


"Umi masih di rawat di ruang ICU, sedangkan Mariam di rawat di ruang persalinan!"


Jawab Bima dengan wajah yang terlihat kusut.


"Lah!Teh Iyam kenapa emang?!"Tanya Fatimah khawatir.


"Seperti nya Teh Iyam shock hingga mengalami pendarahan!"Bibah yang


menjawab.


"Astaghfirullah!"


Seru Fatimah sambil menutup mulutnya dan melihat ke arah Juna.


Juna segera memeluk Istrinya untuk memenangkan nya.

__ADS_1


"Kita doakan saja semoga mereka baik baik saja!"Ucap Juna,Ia ikut merasakan sedih yang mendalam.


**


Awan hitam menyelimuti keluarga Mariam.


Umi Salamah meninggal dunia setelah beberapa jam dirawat, namun sayangnya takdir berkata lain.


Kesedihan yang mendalam tentu saja dirasakan oleh seluruh keluarga besarnya, ditambah lagi Bima harus dihadapkan dalam pilihan yang sangat sulit.


Ia harus memilih antara mempertahankan Janin yang dikandung Mariam atau mempertahankan Mariam tapi harus kehilangan Janinnya, sungguh pilihan yang sangat sulit, apalagi Janin kali ini berjenis kelamin perempuan, seperti yang diidamkan oleh Bima dan Mariam.


Namun Bima tetap harus mengambil keputusan besar,dan Ia harus kuat dan yakin dengan pilihan nya itu,Ia memutuskan untuk mengangkat janin nya dan mempertahankan Mariam,Ia belum siap jika harus kehilangan wanita yang paling ia cintai dan akhirnya Mariam pun harus di kuret.


Fatimah,Bibah,Asma tak henti hentinya menangis, sedangkan Juna harus menjemput Rasyid di pesantren.


Roy sibuk menyiapkan pemakaman,


sedangkan Bima masih mengurusi Mariam yang masih dirawat diruang operasi.


Mariam masih belum mengetahui jika Umi nya sudah meninggalkan nya untuk selamanya,Ia pun belum sadar jika Janin nya sudah di angkat.


Bima pun tak kuasa untuk mengatakan yang sebenarnya.


Dia pasti sudah sangat terpukul harus kehilangan bayinya,ditambah lagi jika mengetahui kabar tentang Uminya.


Ucap Bima begitu lirih.


Ia sudah dapat membayangkan kepedihan yang akan dirasakan Istri tercinta nya begitu mengetahui dua kabar duka sekaligus.


"Sabar Bim,Aku tahu ini pasti sangat berat bagi kalian,tapi Aku yakin Mariam adalah perempuan yang kuat,dia pasti akan sangat mampu menerima semua takdir ini!"Ucap Roy sambil mengusap bahu Bima,Ia berusaha memberi kekuatan untuk sahabat nya itu.


Sementara dirinya pun harus menghibur Bibah yang juga sedang dilanda kesedihan karena ditinggal sang Ibu.


Bima mengusap wajahnya kasar, Ia masih bingung harus bagaimana menghadapi Mariam jika Dia bertanya tentang Janinnya


juga Ibunya.


Jika Bima langsung mengatakan yang sebenarnya,Ia takut kondisi Mariam paska operasi kuret semakin memburuk.


"Bagaimana keadaan Satria,Dia pasti nanyain Ibunya terus!"Bima juga khawatir tentang keadaan Puteranya yang ditinggal begitu Umi Salamah masuk rumah sakit.


"Satria aman!Lo tenang aja,Bibah dan Fatimah yang menjaga nya selama Lo disini!"


Jawab Roy menenangkan Bima agar tidak terlalu dilanda kekhawatiran yang berlebihan.


"Pak Bima!Anda dipersilahkan untuk menemui Istri Anda sekarang!"

__ADS_1


Kata seorang suster yang bertugas merawat Mariam.


"Baik Sus! terimakasih!"Ucap Bima sambil melirik ke arah Roy sekejap lalu bergegas masuk ke kamar dimana Mariam di rawat setelah Roy menganggukan kepalanya tanda memberi kekuatan.


"Sayang! gimana sekarang rasanya,apa masih sakit?!"Tanya Bima sambil menciumi wajah istri yang terlihat kuyu akibat menahan sakit dan kelelahan.


"Umi gimana?! terus kenapa dengan bayi kita?!" Mariam malah balik menanyakan Ibunya juga Bayinya tanpa menjawab pertanyaan Bima.


"Kamu jangan banyak pikiran dulu Sayang!Kamu harus cepat pulih agar cepat pulang dan ketemu sama Satria lagi,ya?!"Bima mencoba mengalihkan pikiran Mariam kepada Satria, putra mereka.


"Aku ingin ketemu Umi!"


Rengek Mariam sambil berusaha untuk bangkit dari baring nya.


"Sayang, sayang!kamu baru saja di kuret, kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, nanti ya, kalau kamu sudah sehat,baru kamu boleh ketemu sama Umi!"Cegah Bima.


"Apa?!Aku di kuret?!terus bayi kita?!"


Mariam begitu terkejut mendengar jika ternyata dirinya sudah dikuret, Ia memegang perutnya sambil memandang Bima penuh tanya.


"Iya sayang, Dokter tidak ada pilihan lain selain harus mengeluarkan bayi kita dari dalam perut kamu itu, gak apa apa sayang!ini sudah kehendak Allah!"Ucap Bima sambil memeluk Mariam, sekuat tenaga Ia berusaha agar air mata nya tidak jatuh.


Mariam menangis segukan di pelukan Suaminya,mendung menyelimuti perasaan nya saat ini,andai saja ia tahu jika Umi nya juga sudah tiada, pasti Ia aka semakin sedih.


Bima pun merasa tak kuasa mengatakan nya.


**


Setelah kondisi nya membaik, Mariam diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan Dia sudah tidak sabar ingin menemui Ibunya.


"Sayang kok kita malah ke sini sih?!Aku kan ingin ketemu sama Umi!"Rengek Mariam kepada Bima yang malah membawa nya entah kemana, yang jelas ini bukan menuju rumah nya atau pun rumah Ibu nya.


"Nanti juga kamu bakalan tahu Sayang!Aku kasih tahu kamu nanti pas sampai,ya!"Jawab Bima sambil mengelus tangan Mariam lalu mengecup nya penuh kasih sayang.


"Lho kok kita berhenti di kuburan sih?! Kamu mau bawa Aku ke makam anak kita dulu?!"Mariam terlihat penuh keheranan dengan apa yang terjadi.


"Iya sayang! tapi sebelum kita turun,ada yang harus Aku katakan jujur sama kamu!"Kata Bima sambil menggenggam tangan Mariam dan memandang nya dengan keraguan untuk mengatakan sesuatu.


"Ini sebenarnya ada apa sih! Kamu bikin Aku takut deh!"Kata Mariam penasaran.


"Kamu yakin kan setiap yang bernyawa pasti akan mati, entah itu Anak kita,kamu,Aku pokok nya semuanya pasti akan meninggalkan dunia ini, termasuk Ibu kamu!"Akhirnya Bima pun mengatakan yang sebenarnya, jika ternyata Ibunya Mariam sudah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.


"Maksud kamu apa?!"Mariam seakan tidak percaya dengan apa yang Ia dengar.


"Umi sudah pergi meninggalkan kita Sayang, tepat ketika kamu kehilangan Bayi kita!"


****

__ADS_1


__ADS_2