
"Sekretaris?!"
Mariam mengerutkan dahi nya.
"Kamu ingin segera membayar hutang mu bukan,Jadilah sekertaris ku,hanya dengan cara itu kamu bisa melunasi nya!"Bisik Bima.
"Sejak kapan dia jadi sekertaris mu?!Emang dia mampu?!"Kata Sofi meremehkan Mariam.
"Sejak hari ini,kenapa?!Kamu mau menggantikan nya?!Ayo Mariam kamu harus mendampingi ku kemana pun aku pergi!"Kata Bima sambil menarik Mariam agar mengikuti nya.
Mariam tak dapat lagi menolak,ia terpaksa mengikuti Bima di belakang nya.
"Siapa dia Bim?!"Bisik Nyonya Liana, Mamah nya itu menangkap sesuatu yang janggal terhadap putera nya.
"Oh iya Mah,Pah,kenalkan dia Sekertaris Aku, Mariam nama nya!"Kata Bima memperkenalkan Mariam, dia menarik jilbab Mariam agar memperkenalkan dirinya kepada Mamah dan papah nya sedangkan Mariam terus saja berdiam diri di belakang nya.
"Ehh, Iya Pak,Bu! perkenalkan nama saya Mariam!"Sapa Mariam sambil menangkupkan kedua tangan nya di depan dadanya.
"Sekretaris?! Kamu yakin?!"Papahnya terlihat ragu,wanita bercadar? sekertaris?
"Ingat Pah!tiga permintaan!Yang kesatu adalah ini!"Bisik Bima kepada Papah nya,lalu ia berlalu menyapa tamu yang lain.
Tuan Danu mengernyitkan dahinya sambil melihat punggung putera nya yang terlihat menjauh dan disambut para tamu.
Roy, sekertaris pribadi Tuan Danu,sedang memperkenalkan Bima Kepada para tamu penting yang merupakan rekan Bisnis perusahaan nya.
"Kamu harus mengingat nama dan dari perusahaan mana saja orang orang yang dikenal kan Roy!saat nanti bertemu lagi denganku, kamu harus bisa memberi tahu ulang kepada ku!"
"Aku belum mengatakan bersedia menjadi sekertaris pribadi Anda!"Gumam Mariam.
"Kalau begitu, segera lunasi hutang hutang mu sebesar 500 juta kepada ku , besok!"Ancam Bima,mereka bicara berbisik bisik sambil terus melayani para tamu yang memberi selamat kepada Bima.
"Anda Sengaja menjebak ku?!"
Bisik Mariam lagi.
Bima mengangkat kedua bahunya.
Malam semakin larut.
Irsyad mengantar Fatimah pulang duluan , sedangkan Mariam masih ditahan oleh Bima.
"Biar Mariam aku yang antar!"
Jawab Bima, sebenarnya Mariam sudah sangat lelah dan ingin segera pulang,namun dia tidak bisa berkutik saat Bima terus mengancam nya dengan hutang yang harus ia bayar.
Mariam merasa kepalanya agak pusing,mungkin karena kelelahan.
kemudian ia mencari tempat yang agak sepi sekedar untuk bernafas lebih bebas.
Para tamu undangan pun kebanyakan sudah pada pulang.
Ia menatap suasana malam yang remang remang dari balkon gedung mewah tersebut,ia memijit mijit kepalanya agar perlahan berharap pusing yang ia rasakan menghilang.
__ADS_1
"Belum juga tiga bulan berpisah dariku,kau sudah menggaet pria yang lebih kaya dari ku,jadi ternyata benar kata Sofi,ya,,kau wanita munafik yang berusaha mengincar para pria kaya dengan keluguan mu,dan cadarmu itu hanyalah sebuah kedok!"
Tiba tiba saja Wira muncul dan mengatakan hal yang menyakitkan kepada Mariam.
Mariam menoleh ke arah suara, begitu ia tahu Wira menghampiri nya,ia berusaha tak terpancing.
Mariam memilih untuk pergi dan tak menanggapi cemoohan Wira.
Namun saat Mariam melewati Wira yang berdiri bersandar di daun pintu sambil menyalakan rokoknya, tangan nya langsung dicengkeram begitu erat dan tubuh Mariam di seret sampai ke dinding.
Wira melempar kan rokok nya sembarangan,dengan kasar ia membuka cadar yang menutupi wajah cantik Mariam.
Wira menatapnya dengan tatapan ganas.
"Aku belum puas menikmati mu,jika aku tidak bisa memiliki mu kembali,maka orang lain pun tidak boleh ada yang menyentuhmu!"Bisik Wira,wajahnya begitu dekat dengan wajah Mariam yang berusaha menghindar.
"Lepaskan aku, atau aku akan teriak!Kau sudah mengharamkan tubuh ku atasmu!kamu sudah mentalak tiga aku ,Tuan Wira!!"Mariam berusaha melawan, namun tenaga Wira yang kuat sehingga sulit bagi Mariam untuk menyelamatkan diri.
Ditambah balkon yang agak jauh dari ruang resepsi membuat tak ada orang yang lalu lalang di area tersebut.
Dengan ganasnya Wira mencium paksa Mariam, tangan Mariam meronta ronta memukul mukul sembarangan, akhirnya ia pun menggigit bibir Wira dengan sangat keras.
Wira semakin kalap, dengan amarah,ia memukul wajah Mariam, menjambret pakaian nya hingga kancing baju nya terlepas, dengan sekuat tenaga Mariam berusaha mempertahankan tubuhnya dari sentuhan sentuhan jahat Wira.
"Mas,apa apaan kamu!?"
Sofi yang dari tadi mencari keberadaan Suaminya sangat terkejut mendapati Wira terlihat sedang berciuman dengan Mariam.
Wira terkejut dengan kehadiran Sofi di situ.
Tubuh Mariam terjatuh turun kebawah dinding,air matanya jatuh tanpa mengeluarkan suara.Ia memegangi bagian dadanya agar tidak terlihat auratnya,ia mencari cari cadarnya,namun tiba tiba Sofi mencekiknya lalu menyeret tubuh Mariam ke tembok pagar pembatas balkon.
Sofi bersiap menjatuhkan tubuh Mariam dari tempat itu ke bawah yang ketinggiannya lumayan agak tinggi.
Mariam meronta ronta, tangan nya berusaha menggapai sesuatu.
Aksi mereka itu cukup menyedot perhatian tamu yang sebagian masih ada di situ.
Bima yang sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya dan beberapa tamu penting sambil matanya celingukan mencari cari sosok Mariam yang menghilang dari pandangan matanya,merasa penasaran melihat Sofi terlihat sedang berkelahi dengan seseorang.
Ia pun segera menghampiri sumber keributan,dan betapa terkejutnya Bima setelah apa yang ia lihat,Mariam hampir sudah ada di bibir tembok pembatas dan apabila Sofi melepaskan cekikannya,tubuh Mariam sudah pasti jatuh ke bawah.
"Kau ingin ketus pesta orang lain?!kau ingin menjadi berita utama dan menjadi tersangka pembunuhan?!"Teriak Bima sambil menarik tubuh Sofi dan memaksanya untuk melepaskan Mariam yang sudah kehabisan nafas.
Dengan sigap Bima membuka jas yang ia pakai dan menutupi wajah Mariam yang cadar nya terlepas,kemudian ia membopong tubuh Mariam dan membawanya keluar dari tempat acara.
Semua mata tertuju ke arah Sofi seakan bertanya apa yang sudah ia lakukan.
"Dia berusia menggoda suami ku!"Teriak Sofi membela diri, kemudian tangan nya ditarik oleh Wira dan mereka pun sama sama pergi dari acara tersebut.
***
Bukannya di antarkan ke rumah kontrakan nya,Bima malah membawa Mariam ke rumah utama milik pribadinya,dia segera membaringkan tubuh Mariam dan menyuruh beberapa pembantu rumah tangganya untuk mengganti baju Mariam dan memberikan beberapa obat luka.
__ADS_1
Dia segera menghubungi Irsyad untuk memberitahu kan Fatimah bahwa Mariam tidak bisa pulang karena ada urusan bersamanya.
Bima berdiri didepan jendela kamarnya yang langsung menghadap ke arah laut lepas.
Deburan ombak di malam hari terdengar begitu bergemuruh seperti bergemuruhnya amarah Bima mengingat perlakuan Sofi dan Wira Kepada Wanita yang dicintainya.
Entah kenapa mereka tidak bisa berhenti,Bima yakin Wira masih mencintai Marian sehingga menyulut emosi Sofi.
Tangan Bima meremas kaleng minuman dingin yang sudah habis ia minum,wajah nya penuh amarah,dan otaknya sedang berpikir, cara apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menghentikan tindakan jahat mereka.
Tentu saja cara satu satunya adalah dengan menikahinya,tapi melihat sikap Mariam yang terlihat cuek dan dingin kepada nya rasanya untuk saat ini sulit untuk Bima agar bisa mengambil hati nya apalagi untuk mengajak nya menikah.
Mariam seperti trauma untuk membangun hubungan baru, dia terlihat sangat jaga jarak dan sangat berhati-hati,itu sangatlah wajar, mengingat apa yang sudah dia alami dalam pernikahan palsu nya bersama Wira.
***
"Dimana ini?!"Gumam Mariam.
Dia terbangun di pagi hari dalam suasana kamar yang asing baginya.
Tangan nya memijit kening nya yang masih terasa agak pusing,dia mengingat kejadian semalam saat Sofi mencekiknya,dia memegang lehernya,netra nya menangkap pakaian yang ia pakai bukan lagi baju yang semalam ia kenakan.
Otaknya tersentak,
Apa Wira berhasil melakukan sesuatu padanya?
batin Mariam.
Terdengar suara pintu dibuka,ia menutupkan selimut sampai ke atas kepala nya, karena dia tak memakai kerudung nya.
"Kamu sudah bangun?!"
Tanya Bima,ia melihat Mariam yang sudah terdidik dengan ditutupi selimut.
"Kenapa suara Bima?!"Batin Mariam.
"Aku tidak memakai kerudung, keluar lah,nanti aku akan keluar!"Jawab Mariam.
"Baiklah,aku tunggu di meja makan untuk sarapan!"Kata Bima sambil keluar dari kamar itu dan terdengar suara pintu ditutup kembali.
"Kenapa Bima malah membawa ku kesini?!"gumam Mariam ia segera pergi ke kamarnya mandi lalu memakai pakaian nya dengan lengkap dan bersegera keluar untuk menemui Bima,ia ingin segera protes kepada nya.
"Kenapa tak antarkan aku ke kontrakan?!" Dengan dingin dan jutek Mariam langsung mengutarakan unek-uneknya.
"Rumahku jaraknya lebih dekat,ayo sarapan dulu!"Bima Sudah dapat menebak Mariam pasti akan meradang.
"Aku tidak mau sarapan,aku mau pulang!"
"Oke!Aku akan antarkan kamu pulang sekarang,tapi setelah sarapan,hari ini kita ada rapat relasi,kit harus segera ke kantor!apa kamu sudah baikan?!"
"Aku tidak bilang bersedia menjadi sekertaris mu!Cari saja yang lain!Aku akan segera melunasi hutangku kamu tidak usah khawatir!dan satu lagi, Jangan pernah lancang menyentuh tubuhku dan jangan sok perhatian seperti itu!Aku tidak mau lagi terlibat dengan kalian para orang kaya yang suka berbuat seenaknya!"
Kata kata Mariam yang begitu tegas dan lugas membuat Bima tercengang.
__ADS_1
Mariam segera berdiri dari duduknya,ia bersiap untuk pergi dari rumah Bima saat itu juga.