MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Suami dadakan


__ADS_3

Malam pertama di rumah asing,dengan orang asing dan suasana yang asing,


Mariam terbangun di tengah malam,


pukul 01.00 dini hari.


Karena sulit tidur kembali,ia pun mengambil air wudu dan melaksanakan solat malam.


Terdengar suara sepatu hak tinggi naik tangga.


"Baru pulang kamu,jam berapa ini?!"Suara Wira terdengar sampai kamar Mariam.


"Hai, Mas,kapan balik?! kok aku gak tahu sih!?"Jawab Sofi.


"Kamu yang susah dihubungi!kamu juga gak pernah nanya in aku saat aku dirumah Mariam,aku pulang kamu juga gak ada dirumah!dini hari baru pulang! ngomong nya aja ingin punya anak,gimana sih kamu?!"Hardik Wira,ia mulai kesal dengan sikap istrinya yang suka seenaknya.


"Aduh mas berisik banget sih,kamu tahu kan kerjaan aku,aku banyak job akhir akhir ini,jadi mumpung ada, ya udah aku jalani!ini adalah mimpi aku mas,mas gak usah larang larang aku,mas kan udah janji!"Jawab Sofi sambil duduk di sofa ,ia sedang membuka sepatu nya.


Mereka cekcok di luar kamar, Mariam membuka pintu kamarnya,ia berpura pura ingin mengambil minum padahal ingin memberi tahu mereka kalau sekarang ada orang lain di rumah mereka.


"Kamu mau kemana?!"Tanya Wira yang melihat Mariam berjalan menuju tangga.


"Haii,kamu ada disini?!"


Sapa Sofi ramah,dia tidak terlihat terganggu atau marah melihat ada wanita lain dirumah nya, padahal sebelumnya ia menentang keras saat orang tua Wira mengusulkan agar Wira menikah lagi, mungkin karena ia sendiri yang menginginkan nya, jadi rasa cemburunya tidak terlalu tinggi.


"I iya ,,,!"


Hanya itu jawaban Mariam.


"Selamat datang dirumah, anak Mamih!"Kata Sofi sambil mengusap perut Mariam yang masih datar.


"Kenapa kamu belum tidur?!Aduh maaf ya!pasti kamu terganggu oleh kami, maaf ya,Kami belum terbiasa kalau ada penghuni baru dirumah!"Kata Sofi lagi, yang wajahnya masih terlihat segar meskipun ini sudah hampir dini hari dan dia pasti sudah bekerja keras.


Mariam hanya menunduk tak bersuara.


"Kamu mau ambil minum?!"Tanya Sofi,dia melihat Mariam membawa gelas kosong.


"Mas! kamu ini gimana sih!dia kan sedang hamil anak kita dan kandungan nya lemah,besok sediakan dispenser dikamar Mariam,dan sebaiknya kamarnya jangan diatas,dia tidak boleh naik turun tangga!"Kata Sofi sambil melihat ke arah suaminya.


"Iya besok aku akan siap kan!"Jawab Wira.


"Biar aku ambilkan!"Kata Wira sambil mengambil gelas dari tangan Arimbi.


"Biar saya sendiri,saya tidak apa apa!"Tolak Mariam,ia pun menuruni tangga dengan hati hati.


"Aku capek,Mas,aku istirahat dulu ya,besok masih ada syuting pagi!"Kaya Sofi sambil masuk ke dalam kamar.


"Apa?! bahkan kamu lebih sibuk dariku ,Sofi??"Kata Wira,namun Sofi pura pura tidak mendengar.


Saat ini Sofi sedang ada di puncak karir, impian nya terwujud justru setelah ia menikah dengan Wira,dan Wira memang berjanji yang saat itu ia bersikeras ingin menikahi Sofi dia tidak akan melarang Sofi mengejar impiannya.


Wira turun ke dapur menyusul Mariam,ia yakin Mariam tidak tahu letak dapur beserta perabotan nya.


Benar saja,Mariam terlihat kikuk hendak melangkah ke arah mana.


"Dapur nya disebelah sini,Nona!"Kata Wira sambil berjalan menuju dapur diikuti Mariam.


"Kamu ingin air dingin?!ambilah di kulkas!"


"Aku ingin air hangat!"Jawab Mariam.


"Baiklah,besok aku akan sediakan termos air panas dikamar mu!"


"Tidak usah repot,aku tidak suka dimanja berlebihan begitu,aku juga butuh bergerak untuk kesehatan ku!"Jawab Mariam.


"Tapi itu aku lakukan untuk anak ku!"Kata Wira yang mulai kesal dengan sikap Mariam yang jutek dan kaku.


"Saya tahu!dan Saya cukup tahu diri!"Jawab Mariam tak mau kalah,ia duduk di kursi dan meminum air hangatnya.

__ADS_1


Wira terdiam,


'Perempuan ini selalu ada saja perkataan untuk membalas ku!'


batin Wira.


Mariam mengisi lagi gelas miliknya dengan air hangat, lalu ia berlalu lagi dari dapur menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun ia meninggal kan Wira begitu saja.


"Jika saja dia tidak sedang mengandung anak ku,tak mau aku tinggal satu atap dengan perempuan aneh seperti itu, sombong,kaku dan jutek, padahal aku sudah baik kepada keluarga nya.


Tambah pusing kepala ku saja, Cerita nya punya istri dua,tapi tak satupun yang menyenangkan ku, menyebalkan sekali hidupku ini!!"gerutu Wira sambil mengacak rambut nya dengan kasar,ia pun pergi ke ruang kerjanya dan berniat tidur disitu.


****


Adzan subuh terdengar jelas masuk ke kamar Mariam,mungkin rumah ini terletak di dekat mesjid setempat.


Mariam sudah siap di atas sejadahnya. mengadu kepada sang Khaliq adalah satu satunya rutinitas yang menenangkan baginya, apalagi setelah apa yang sudah menimpa pada dirinya,hanya dengan mendekatkan diri kepada illahi lah jalan satu satunya ia meminta pertolongan.


Wangi nya makanan membuat perutnya keroncong,


"kamu sudah lapar ya sayang!?ayo kita turun dan sarapan,biar kamu sehat dan cepat tumbuh dengan kuat ya,nak!"Kata Mariam sambil mengelus elus perut nya sendiri,ia berbicara kepada jabang bayi yang baru berusia satu bulan di dalam perutnya.


Mariam bersiap dan memakai cadarnya, kemudian ia turun ke bawah,rumah yang begitu besar bak istana seorang Sultan,tapi begitu sepi seperti tanpa penghuni.


"Pagi Bi, kalian sedang masak apa?!"Sapa Mariam kepada kedua Art yang sedang sibuk di dapur.


Keduanya terlihat saling menyikut dan saling memainkan mata sambil berbisik-bisik bisik.


"Pagi,Non!Bibi sedang memasak sayur asem,perkedel jagung,ikan asin,sambel,dan ayam penyet,apa ada yang ingin Non,makan?biar Bibi masakin ya?!"Kata Bi Inah sambil menghampiri Mariam dan tersenyum hangat.


"Wahh,semua yang Bibi masak itu adalah makanan kesukaan ku,kok kalian bisa tahu sih?!"Kata Mariam,dia terlihat bersemangat sekali untuk sarapan.


"Tuan Wira yang menyuruh Non!"


"Ohh,,apa dia sudah berangkat kerja?!"


"Belum Non, seperti nya masih bersiap siap!"Jawab Bi Inah sambil menata meja makan.


"Kalau Bu Sofi?!"Tanya Mariam lagi,ia mengambil perkedel jagung dan memakan nya sebagai cemilan.


"Dia masih tidur kalau jam segini,paling jam 9 nanti baru keluar, mereka jarang bertemu,suttt!"Kata Bi Inah setengah berbisik.Bi Inah melihat Tuan nya keluar dari ruang kerja yang berada di lantai bawah.


Pasti semalam mereka kembali tidur terpisah.


Pikir Bi Inah.


"Pagi Tuan! Silahkan Tuan sarapan nya sudah siap!"Sapa Bi inah begitu sopan.


"Hemm,,"Jawab Wira,dia terlihat sudah rapih dan akan berangkat ke kantornya pagi ini, setelah ia tidak masuk karena menikah dengan Mariam kemarin kemarin.


Mariam mengambil nasi dan beberapa lauk yang ia inginkan.


"Bi,aku sarapan dikamar ya, terimaksih karena sudah memasak makanan kesukaan ku!"Kata Mariam,ia tidak nyaman satu meja makan dengan Pria asing yang baru ia kenal padahal dia adalah suaminya sekarang.


Mariam pun kembali ke kamarnya dengan membawa sarapan nya tanpa menyapa Wira.


Wira hanya memandang punggung Mariam yang menghilang di balik tangga.


"Dia begitu benci kepada ku Bi!"Kata Wira kepada Bi Inah,tidak ada rahasia diantara mereka,Bi Inah sudah ikut dengan Wira sejak Wira tinggal bersama orangtuanya dulu.


"Dia hanya belum terbiasa Den, apalagi dia bercadar,dia menghindari Aden karena ingin nyaman makan dengan membuka cadarnya,Bibi lihat dia perempuan yang sangat luar biasa,agamanya kuat dan dua berusaha menerima dengan ikhlas apa yang sudah terjadi pada dirinya itu."Kata BU inah memberi pendapat nya.


Wira membuang nafasnya kasar.


"Bagaimana Aku menjelaskan pada Mamah dan papah Bi,dia harus tahu bukan?!"


"Tentu saja Den,tapi Bibi rasa mereka tidak akan ada masalah!"Jawab Bi Inah.


"Buatkan Air hangat Bi,untuk Mariam,aku yang akan mengantar ke kamarnya.

__ADS_1


Dan satu lagi,nanti tolong siapkan kamar yang disana ya,yang dekat ruang kerjaku,Mariam tidak boleh terlalu sering naik turun tangga, kandungan nya masih lemah dan takut terjadi sesuatu pada kehamilan nya!"Kata Wira,benar kata Sofi Mariam harus ekstra diperhatikan.


"Baik Den,dan ini air hangat nya."Kata Bi Inah.


Wira pun naik ke lantai atas menuju kamar Mariam,dia lupa tidak membawa air minum dan Wira berniat mengantar kan nya sambil sekalian ada yang ingin ia sampaikan.


"Tok tok!"


"Mariam?!Ini air hangat untuk kamu minum,apa kamu sudah selesai sarapan nya?!"Teriak Wira dari luar pintu kamar Mariam.


Tidak ada jawaban.


"Mariam !!Apa aku boleh masuk?!"Tetap tak ada jawaban


Karena khawatir Wira pun masuk ke kamar Mariam,dia tidak ada di kamar nya, terlihat piring nya sudah kosong tak bersisa,tapi terdengar suara orang yang sedang muntah di kamar mandi.


Wira bergegas menuju kamar mandi,dia melihat Mariam sedang muntah muntah di westafel, seperti nya dia sudah makan tapi kemudian dimuntahkan nya lagi.


"Apa kamu baik baik saja?!"Tanya Wira sambil memijit tengkuk Mariam agar kondisi nya membaik.


Mariam terus saja muntah meskipun seperti sudah tidak ada lagi yang harus dimuntahkan.


Setelah dirasa lebih baik Mariam pun duduk di ranjang dan meminum air hangat ya g dibawa kan oleh Wira.


Wira menyodorkan minyak kayu putih untuk di cium dan digosok kan ke bagian tubuh Mariam supaya ia merasa enakan.


"Sudah lebih baik?!"Tanya Wira.


Arimbi mengangguk pelan ,dia terlihat kelelahan.


"Bagiamana kamu bisa dapat nutrisi jika habis makan langsung dimuntahkan lagi,kamu dan bayi itu harus sehat kan?!"Kata Wira khawatir,dia melihat Mariam begitu tersiksa.


Terdengar suara ponsel berbunyi,dan itu milik Mariam.


Wira menengok ponsel itu karena berada dimeja dekat ia berdiri,


"Fatimah!"Kata Wira memberitahu Mariam karena dia terlihat lesu berbaring ditempat tidur.


"Tolong angkat saja!"Jawab Mariam,dia benar benar lemas saat ini.


"Hallo...!"


"Hallo,, assalamu'alaikum kakak!"Sapa Fatimah, ia pikir yang mengangkat ponselnya adalah Kakak nya.


"Waalaikum salam Fatimah,,apa kabar,ini Aku,Wira!"


"Oh,,Kak Wira,dimana Kakakku !?Apa dia baik baik Saja?!"Tanya Fatimah.


Kemudian Wira mengalihkan panggilan itu untuk Video call.


"Kakakmu muntah muntah terus,baru saja makan langsung dimuntahkan lagi!"Kata Wira sambil mengarahkan Camera ponselnya ke arah Mariam yang sedang berbaring.


"Ya ampun , kasihan banget kakak ku!"Kata Fatimah.


"Itu biasa terjadi kepada wanita yang tengah hamil muda,Nak Wira!Coba saja kasih yang segar segar,mangga muda misalnya!"Kata Umi nya Mariam yang langsung muncul dilayar ponsel,ia ingin melihat kondisi Puteri nya ya g sekarang sudah berada dirumah orang asing yang baru saja ia nikahi.


Wira terlihat memijit mijit pundak Mariam,membuat Umi Salamah merasa tenang, bahwa Puteri ya diperlakukan baik dan diperhatikan meskipun Suaminya itu suami dadakan.


"Iya Umi,nanti Wira coba cari mangga muda,apa lagi makanan kesukaan Mariam Umi?!"


"Bakso A,Teh Iyam suka sekali makan baso dan makanan pedas,seblak,,yang gitu gitu deh!"Rasyid ikut nimbrung dan langsung nyelonong gitu aja.


"Ya udah ,udah dulu ya,kak!Jaga Kakak kami baik-baik,Dah KA Iyam,, Assalamu'alaikum!!"Kata Fatimah terburu buru menutup ponselnya karena ia harus berangkat mengajar dan ia yakin Wira pun harus segera berkerja,di terlihat sudah rapih.


"Mas!!Mas Wira?! kamu dimana?!Kamu mau ke kantor gak?!"Teriak Sofi mencari keberadaan Suaminya.


Bersambung,,,


.

__ADS_1


__ADS_2