
Berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi Bima dan Wira langsung menyebar ke seluruh penjuru nasional.
Semua media menayangkan berita tentang tragedi itu,dan sudah sampai juga ke telinga Mariam juga keluarga nya.
Semua keluarga harap harap cemas menunggu kepastian kabar dari para penumpang pesawat tersebut.
Sambil memeluk Satria, Mariam menanti kabar dari Suaminya bersama keluarga yang lain juga Sarah.
Fatimah dan Arjuna pun segera kembali terbang ke tanah air begitu mendengar kabar buruk tersebut.
Setelah beberapa menunggu kabar akhirnya semua korban kecelakaan di bawa ke sebelah rumah sakit dan semua anggota keluarga dipersilahkan untuk mengecek jika saja ada anggota keluarga nya yang menjadi korban.
Sungguh hancur hati Mariam dan semua keluarga nya,Bima dinyatakan meninggal dunia dan tubuh nya baru ditemukan di dasar jurang.
Begitu juga Wira, tubuh Wira ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di tepi jurang,kaki nya patah dan bagian tubuh yang lainnya juga terdapat luka luka berat, Dia segera di rujuk ke rumah sakit besar dalam keadaan koma karena kepala nya yang terbentur dan kini Dia hanya menunggu keajaiban dari Tuhan saja.
Seketika pecahlah tangisan Mariam ketika mengetahui kenyataan jika Bima menjadi salah satu korban yang meninggal dalam kecelakaan itu.
Begitu juga seluruh keluarga nya sangat terpukul dengan kepergian Bima yang tiba tiba.
Bak disambar petir,Mariam tidak percaya dengan semua ini, semuanya begitu tiba tiba,Ibunya,calon buah hatinya dan sekarang Suaminya,Mariam seakan kehilangan arah,kini separuh jiwa nya telah pergi.
"Yang kuat Teh,inget Satria,Dia sangat membutuhkan Teteh!"
Fatimah mencoba menenangkan Kakaknya yang tak henti hentinya menangis di depan tubuh Bima yang sudah terbujur kaku.
Mariam memeluk Satria yang ikut menangis begitu melihat Ibunya tak berhenti menangis.
Anak berusia 5 Tahun itu seakan mengerti jika Ayah nya sudah pergi untuk selamanya lamanya.
"Abi!!Huaa!Abii!Hua aaa!"Teriak Satria begitu miris terdengar.
Juna segera mengambil Satria dari pelukan Mariam, Dia akan berusaha menghibur nya.
Mariam berusaha menenangkan diri dan berusaha ikhlas dengan semua kenyataan ini.
Dia ingat betul di malam sebelum Bima pergi ke luar kota, selepas sholat Isya seperti biasanya Bima dan dirinya selalu membaca beberapa kitab untuk memperdalam agama,dan mereka membaca satu kisah tentang seorang wanita shalihah yang ditinggal ketiga anak nya meninggal dunia dalam waktu bersamaan di susul pula oleh Suaminya, tapi dia tetap sabar dan ikhlas hingga Perempuan tersebut pergi ke Makkah untuk naik haji,dan tubuhnya terlihat begitu bersinar oleh yang lain ketika ditanya amalan apa yang Ia kerjakan,Dia menjawab tidak ada amalan khusus, namun Dia baru saja kehilangan semua orang tercinta nya, Ia sedih tapi tidak sedih berlebihan dan Dia hanya berserah diri kepada Allah dan menerima semua yang ditetapkan oleh-nya.
Mariam ingin berusaha menjadi seperti Wanita shalihah itu,Bima juga pasti menginginkan nya begitu,meski terasa berat,tapi ini harus Ia terima, untuk kesekian kalinya Orang terkasih nya sudah tiada.
**
"Bu,Pak Wira sudah bangun! silahkan jika Anda ingin menemuinya!"
Kata seorang Suster yang bertugas merawat Wira,Sarah yang habis melaksanakan shalat Asar bergegas masuk ke kamar dimana Suaminya dirawat.
"Mas!!Ya Allah Mas! Akhirnya kamu bangun juga! Allah mendengar Doaku selama ini!"
Sarah begitu gembira melihat Suaminya bangun setelah berhari-hari koma, selama ini Dia yang setia menungguinya di rumah sakit, hanya sekali kali saja rekan dan keluarga nya menengok.
Wira yang terlihat linglung hanya melihat sekeliling tanpa memperdulikan Sarah disisi nya.
"Mas?!"
Sarah kembali memanggil nya karena merasa aneh dengan sikap suami nya yang acuh kepada nya.
"Maaf Bu, seperti nya kepala Pak Wira terkena benturan yang cukup keras, Dia kehilangan sebagian memori di ingatan nya dan ada kemungkinan Pak Wira juga lupa kepada Anda!"Kata seorang Dokter yang sedang memeriksa nya.
"Astaghfirullah!Mas,ini Aku , Istri mu!"
Wira hanya menatap Sarah, sambil sepertinya sedang mengingat ngingat sesuatu.
__ADS_1
"Sabar Bu!Akan butuh waktu untuk mengembalikan kembali ingatan nya!"
Sarah menangis sambil memegang tangan Suami nya, berusaha mengingatkan nya kembali jika Dia benar benar Istri nya.
Wira membuka kedua telapak tangannya dan mencari cari sesuatu di sekitar nya.
"Oh,Pak Wira mencari ini!?Saya menemukan nya di genggaman tangan Anda ketika perawat membersihkan tangan Anda, Silahkan!"Kata Dokter Pria tersebut sambil menyodorkan sebuah cincin kepada Wira.
Sarah penasaran Cincin siapa itu, sedangkan cincin kawin mereka masih berada dijari Wira.
"Mariam!"
Ucap Wira.
Deghh
Hati Sarah terasa terbentur sesuatu begitu mendengar kata pertama yang di ucapkan oleh Suaminya.
Kenapa malah Mariam yang Dia ingat.
Dokter tersebut melihat ke arah Sarah, seperti nya Ia mengerti dengan apa yang terjadi.
"Saya permisi dulu,Bu,jika ada apa apa Anda bisa memanggil perawat!"
"Baik,Dok Terimakasih!"
Jawab Sarah lirih.
"Itu cincin siapa Mas?!"Tanya Sarah dengan lemah lembut.
Wira masih menatap cincin tersebut dan membulak balik kan nya sambil mengingat sesuatu.
"Mariam?!"Hanya itu yang Ia ucapkan sambil menatap Sarah.
"Kamu ingin bertemu Mariam Mas?!biar Aku panggil kan!"Kata Sarah berusaha tetap tegar.
Wira mengangguk pelan.
"Apa cincin itu milik Mariam,Mas?!"
Sarah begitu penasaran.
Wira kembali menatap cincin itu sambil membolak-balik nya,ia masih berusaha mengingat ngingat sesuatu.
"Mas?! cincin siapa itu?!"Sarah tak sabar dengan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa cincin itu bisa ada ditangan Suaminya.
"Akhh!"
Wira memegang kepalanya, seperti nya ia sedang kesakitan.
"Mas!! Kenapa Mas!?Sakit?! Dokter!tolong Dokter!"Teriak Sarah begitu panik.
Tak lama muncul lah Dokter dan satu orang perawat, mereka segera memeriksa Wira yang tengah kesakitan di bagian kepala nya.
"Maaf Bu, Saya sudah bilang jangan terlalu memaksa Pak Wira untuk mengingat semua kenangan nya, itu bisa berbahaya terhadap otaknya.
Saya mengerti perasaan Anda, tapi jika sudah saatnya, Dia akan kembali mengingat lagi semua nya dengan sendirinya!"Kata Dokter itu setelah selesai menangani Wira yang kembali berbaring dan beristirahat.
"Saya mohon maaf Dok,saya tidak bermaksud begitu!"Ucapnya penuh penyesalan.
Sarah menarik nafas nya dalam dalam.
__ADS_1
Ia menatap wajah Wira yang tertidur setelah diperiksa tadi.
Sarah harus menerima kenyataan jika kini Suaminya tidak lagi mengingat nya dan Dia malah mengingat satu nama, yaitu sahabat nya sendiri,Mariam.
Sarah tidak boleh egois,selain Dia ingin memberikan yang terbaik buat kesehatan Wira,Dia juga penasaran apa hubungannya antara cincin itu dengan Mariam.
Ia menghubungi Mariam untuk datang ke rumah sakit,Dia bilang Wira sudah sadar mungkin saja Mariam dan keluarga nya ingin menjenguk nya dan ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Wira kepada Mariam.
Esok harinya, Mariam pun datang ditemani Juna,Roy dan Fatimah.
Sarah menemui mereka dulu di luar rumah sakit dan mengatakan kepada semua nya jika Wira mengalami gegar otak dan untuk sementara Ia tidak ingat kepada siapa pun.
Mereka ikut prihatin dengan kondisi Wira dan mendoakan yang terbaik.
"Assalamualaikum!"
Sapa Juna begitu masuk ke dalam kamar dimana Wira di rawat.
"Waalaikumsalam!"jawab Wira pelan.
Dia menatap satu persatu orang yang datang dan satu pun yang Ia ingat, hingga Ia melihat perempuan bercadar yang berbeda dengan perempuan yang mengaku sebagai Istri nya kemarin.
Entah kenapa sosok itu dapat Ia ingat dengan jelas, seseorang yang pernah singgah di hatinya dulu.
"Mariam,,,,!"
Ucapnya lirih sambil menyodorkan tangannya berharap tangan Mariam menyambut nya.
Mariam bingung sambil menatap Sarah.
Sarah berusaha tegar dan menahan gejolak dadanya yang merasa cemburu, kenapa Mariam bisa ada di ingatan Suaminya, sedang kan Ia sebagai istrinya sama sekali tak Ia kenali.
"Bagaimana kabar Kak Wira sekarang,baik?!"Fatimah yang juga ikut bingung langsung nyelonong menanyai Wira,Ia yakin Mariam merasa tak nyaman.
"Kamu siapa?!"Tanya Wira bingung sambil menatap Fatimah.
"Aku Fatimah,Kak!Adik Teh Mariam!"Jawab Fatimah sambil tersenyum.
Wira bangkit sambil membenahi posisi duduk nya.
Ia mengambil sesuatu dari saku nya dan menyodorkan cincin kepada Mariam.
Mariam tak menyambut tangan Wira karena tak nyaman,Ia menatap Sarah kebingungan.
"Itu Apa Bang?!"Tanya Juna sambil mengambil cincin itu dari tangan Wira.
Namun Wira menarik tangan nya kembali sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini milik Mariam, ambil lah!"
Kata Wira sambil kembali menatap Mariam.
Mariam Masih terdiam ambigu, Dia tak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus Ia lakukan.
"Ambillah Mar!dari kemarin Mas Wira menanyakan mu, Dia ingin memberikan cincin Itu!"Kata Sarah memberi izin kepada Mariam,Ia Faham Mariam merasa tak enak dengan nya.
Dengan ragu Mariam mengambil cincin itu dari tangan Wira.
Namun tanpa di duga Wira malah menggenggam tangan Mariam dan menarik nya.
Semua orang merasa kebingungan dengan sikap Wira, mereka semua merasa aneh, kenapa yang di ingat Wira malah Mariam.
__ADS_1
Mereka semua saling pandang, Mariam berusaha menarik tangannya, namun Wira malah mencengkram nya begitu erat,dan terjadilah aksi saling tarik menarik.