
"Apakah gadis ini Puteri nya Mariam umi?!Mariam sudah memiliki anak berapa?!"Tanya Bima sambil memandang ke arah Amira.
"Bukan nak!Amira dan Ibrahim adalah anak nya Asma,dia baru saja melahirkan jadi Amira dan Ibrahim Mariam yang bantu mengasuhnya!"
Jawab Umi Salamah sambil tersenyum,lalu me Menggendong Amira.
"Sini, om gendong, sayang!"Kata Bima sambil meraih tubuh Amira dari pangkuan Umi Salamah.
"Asma?!Asma itu siapa Umi?!"Tanya Bima sambil menggendong Amira,tak lama Ibrahim pun berlari lari mendekati Oma nya.
"Asma itu adiknya Mariam, Kakaknya Fatimah,dia sudah menikah lebih dulu dan sekarang sudah memiliki 3 anak,Ini dia si sulung Ibrahim,Amira,dan satu lagi baru saja lahiran beberapa hari ini,ayo salam Nak Sam Om Bima!"Kata Umi Salamah menyuruh Ibrahim menyapa Bima.
"Om ganteng ini siapa Oma?!"Bisik Ibrahim setelah mencium tangan Bima.
"Om Bima ini temennya Umi Mariam!O ya,Umi Mariam dimana!"Tanya Umi Salamah sambil mencari cari sosok putri nya.
"Suami nya Mariam dimana Umi,Apa dia juga datang berlibur bersama kalian?!"Tanya Bima penasaran,dari tadi dia tidak melihat Mariam bersama dengan seorang Pria.
Umi Salamah tersenyum simpul sambil menatap Bima.
"Mariam tidak jadi menikah Nak!"Jawab Umi Salamah.
"Benarkah?! Bukankah waktu itu kalian pulang kampung karena Mariam akan segera menikah dengan Ustadz itu ,Umi?! Bahkan Aku sempat menyusul Mariam ke kampung kalian,tapi aku lihat sedang ada acara pernikahan waktu itu,aku tidak jadi ke rumah kalian dan langsung pulang lagi!"Kata Bima.
Bima terkejut sekaligus senang mendengar Kalau Mariam ternyata tidak jadi menikah waktu itu.
Hatinya merasa berbunga bunga,dan harapan untuk bersama Mariam kembali lagi bersinar di dalam dadanya.
"Oh,yang waktu itu menikah adalah Fatimah dengan Irsyad,maaf kita mengundang m
Terlihat Mariam sedang menyapa Sahrul di depan musholla,tak lama lalu ia mendekati Ibunya.
"Umi sudah selesai,Ayo kita cari makan, Ibrahim dan Amira pasti sudah sangat Kelaparan!"Kata mariam sambil meraih tubuh Amira dari pangkuan Bima.
"Apa Aku boleh bergabung bersama kalian?!"Tanya Bima memberanikan diri ,ia ingin bertemu lebih lama dengan Mariam dan ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Wanita pujaan nya itu.
"Tentu saja boleh Nak,dengan senang hati!Ayo kita cari makan, Ibrahim mau makan apa,Sayang!"Kata Umi Salamah tanpa meminta persetujuan Mariam.
"Ayo Om ajak kalian ke tempat makan yang seru!"Kata Bima sambil menarik tangan Ibrahim agar mengikuti nya.
Bima membawa mereka ke sebuah restoran tepat di tepi pantai yang langsung menghadap ke arah laut, indah sekali pemandangan di malam hari,kerlap kerlip bintang bertaburan di langit, ditambah suara gemuruh ombak terasa begitu menyatu dengan alam, seperti memberi restu menyatukan dua hati yang telah lama saling mengambang.
Ibrahim dan Amira makan begitu lahap di bantu Mariam dan Bima,Umi Salamah begitu senang melihat kebersamaan mereka, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri dengan dua orang anaknya yang harmonis.
"Ya ALLAH ,jika Nak Bima adalah Jodoh terbaik untuk Putri ku,maka segera lah persatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang bahagia sampai ke Jannah,Aku ingin melihat Mariam bahagia,Ya Allah!"Batin Umi Salamah,berdoa dengan begitu tulus.
"Aku pikir Amira adalah putri mu!"Kata Bima setelah mereka selesai makan, mereka sedang bersantai sambil menikmati keindahan laut dimalam hari.
Mariam tertawa mendengar perkataan Bima.
"Kita tuh tidak bertemu belum juga setahun Bim, Kalau pun aku sudah menikah, tidak mungkin kan aku punya anak sebesar Amira!Kapan Aku bikin nya coba!"Kata Mariam sambil memukul bahu Bima.
Bima menggaruk kepalanya walau tak gatal.
"Iya juga sih, tapi aku merasa kita tidak bertemu sudah begitu lama!Kamu kenapa tidak jadi menikah dengan Ustadz itu?!Aku pikir kamu sudah bahagia dengan nya!"Kata Bima sambil menatap Mariam sambil bersandar di pagar pembatas saung tempat mereka makan.
__ADS_1
"Allah tidak menakdirkanku berjodoh dengan nya, ketika dia mengajak berta'aruf dengan ku ternyata dia sudah menikah dengan teman lama nya yang juga seorang ustadzah,,!"Jawab Mariam.
"Jadi waktu itu kamu akan dijadikan yang kedua?!"Tanya Bima lagi.
Mariam pun mengangguk.
Bima menertawakan nya dengan begitu puas.
"Terus kenapa kamu gak mau?!"
Bima masih terpingkal pingkal mendengar cerita Mariam.
"Aku belum siap dipoligami begitu juga istri pertama nya,jadi aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ta'aruf dengan nya,Kamu kok kayaknya seneng banget denger nya!"Kata Mariam dengan kesal.
"Ya,senenglah! berarti ada kesempatan lagi untuk ku supaya kita bisa bersama!"Ceplos Bima.
Mereka seketika terdiam.
"Apa sekarang kamu sudah memaafkan ku?!"Tanya Bima penuh harap.
"Aku tidak pernah menyalahkan mu atas apa yang terjadi pada Ayahku, Maafkan aku karena sudah mengecewakan mu,Bim.
Setelah apa yang terjadi padaku,aku sadar bahwa aku salah,dan aku Aku memang wanita yang sempurna seperti yang kamu duga,Aku bukan wanita baik Bim!"Kata Mariam tersirat penyesalan dari dalam hatinya.
"Bukankah penyempurna segalanya adalah Agama Mar?
Dan kini Aku ingin menyempurnakan agama ku dengan menikah dengan mu,apa sekarang kamu mau menerima ku!?"Bima tidak banyak berbasa basi lagi,ia tidak ingin Mariam hilang dari genggaman nya untuk ke sekian kalinya,apapun jawaban nya kini, setidaknya ia masih tetap berdiri,berusaha mempertahankan rasa yang ada untuk Mariam.
Belum juga Mariam menjawab pertanyaan Bima yang sebenarnya sudah ia tunggu tunggu sejak lama, Ponsel Bima tiba tiba terdengar berbunyi.
Mariam mengangguk dan mempersilahkan Bima.
"Ya Mah, Assalamualaikum!Ada apa?!"(Bima)
"Bim,kamu kapan pulang dari liburan nya?"(Liana)
"Seperti nya besok Mah, kenapa?!"(Bima)
"Pagi pagi Ya Pulangnya!bisa kan abis Ashar kamu temenin Mamah datang ke pengajian Di mesjid Al Hikmah?Kamu gak lupa kan kita sudah ada janji dengan Ustadz Misbah, Beliau mau mengenalkan putri sahabatnya kepada mu!"(Liana)
"Astaghfirullah,Bima lupa Mah! Tapi Mah,,,!(Bima)
"Gak ada tapi tapi,jangan buat Mamah malu, Pokoknya kamu temuin dia dulu, setelah kamu melihat nya , terserah apapun keputusan mu,Mamah tunggu besok!"
Tut Tut Tut
Bu Liana memutuskan sambungan telepon nya secara sepihak.
Belum juga Bima menjelaskan jika ia bertemu dengan Mariam dan kemungkinan Bima akan segera mendapatkan nya kembali.
"Kenapa Bim,apa ada masalah?!"Tanya Mariam yang melihat Bima terlihat resah setelah menerima telpon dari Ibunya.
"Nggak kok, Mar,hanya saja,,,!"
Bima terlihat ragu mengatakan nya.
__ADS_1
"Kenapa?coba katakan saja, mungkin aku bisa bantu!"
Kata Mariam penasaran.
"Benar kamu mau bantu?!"
Tanya Bima sambil menatap lekat ke arah Mariam.
"Kalau aku mampu, kenapa tidak!"
Jawab Mariam meyakinkan.
"Kalau begitu ikut aku besok ke rumah orang tua ku,Mamah berusaha mencari kan jodoh untukku,dan ia ingin aku berta'aruf dengan wanita yang dikenalkan Ustadz di tempat pengajian nya,,"Kata Bima sambil memohon dengan sangat agar Mariam mau ikut dengan nya.
Mariam tersenyum.
"Bim, sebaiknya kamu ikuti saja dulu kemauan orang tua mu, temui saja dulu perempuan itu, ta'aruf bukan lah harus langsung menikahinya, setelah kalian bertemu kamu ataupun dia berhak menolak ataupun mau meneruskan ke proses selanjutnya."Jelas Mariam.
"Tapi aku inginnya sama kamu,Mar!aku sudah menunggu mu begitu lama,dan saat kita hampir bersama kenapa harus ada saja halangan nya!"Bima mulai frustasi.
"Bim,Jodoh sudah Allah yang atur, Jika menurut Allah kita baik jika berjodoh,maka kita akan segera di persatukan dalam ikatan yang begitu indah. Jika saat ini saja kita dipertemukan oleh Allah,maka jika lain waktu kita bertemu lagi,maka itu pun pasti karena kehendak Allah,Tetap lah bersabar dalam keimanan kita Bim,Aku tak ingin memulai sesuatu karena hanya mengikuti hawa nafsu kita belaka!Ikuti saja dulu keinginan orang tuamu, maka didalam nya pasti akan ada keberkahan!"Kata Mariam.
Dia berkata seperti itu karena dia sangat menyesali sikap nya kepada Bima dahulu,yang menyalahkan Bima atas kepergian Ayahnya.
Bima terdiam tak dapat lagi berkata kata.
Memang benar apa yang dikatakan Mariam.
Tapi naluri nya begitu membuncah menginginkan Mariam.
Dan itu masih harus ia tahan.
***
"Nak Bima, Bagaimana, Apakah kamu siap bertemu dengan wanita yang akan Abah kenalkan pada mu saat ini?!"
Ucap Kiai Misbah setelah beberapa saat Bima dan kedua orangtuanya sampai di kediaman nya.
"Iya, Pak Kiai, Saya sudah siap!"Kata Bima kurang bersemangat,dia hanya ingin menghargai gurunya itu juga kedua orangtuanya.
Kiai Misbah tersenyum dan seperti biasanya wajah yang tenang begitu menyejukkan.
Sepertinya dia tahu kegundahan hati Bima.
"Sebelum kamu melihat nya langsung, alangkah baiknya Abah menjelaskan ciri ciri dan sifat dari perempuan ini, agar kamu tidak menyesal dengan keputusan mu nanti!"
Semua orang mendengar kan ucapan Kiai Misbah dengan seksama.
"Dia hanya lah wanita biasa ,bukan wanita Sholehah,apalagi Hafidzah atau 'Alimah,wajahnya pun biasa biasa saja, tidak rupawan dan cantik jelita,Dia juga bukan dari kalangan konglomerat atau pejabat yang kaya raya,Dia hanya butuh bimbingan dari seorang Imam agar dia menjadi lebih baik di dunia dan akhirat,bersama sampai ke Jannah! bagaimana Nak Bima?!Apa kamu sanggup?!"
"Insyaallah Pak Kiai,,,,!"
Bersambung,,
**
__ADS_1