
"Katakan dulu apa yang terjadi padanya,Bu?baru saya akan menolong nya!"
Desak Bima kepada Bi Inah,dia curiga telah terjadi sesuatu kepada perempuan yang akan ia tolong ini, seperti nya dia korban kekerasan.
Bi Inah malah terisak menangis,
"Tapi Aden harus berjanji tidak akan mengatakan nya kepada siapa pun!"Kata Bi Inah.
"Saya janji Bi,Ayo katakan Bi ,nanti keburu Ambulans nya datang!"Desak Bima.
"Suaminya marah,dia salah Faham kepada Non Mariam,dia pikir Non Mariam sudah mengkhianati nya, padahal tidak begitu kejadiannya!"
Sampai situ Bima Faham, Suami perempuan ini marah akibat berita yang beredar yang menyangkut tentang dirinya.
"Apakah suaminya itu Dia,Bu?!"Tanya Bima sambil menunjuk sebuah Foto Wira dalam ukuran besar yang terpajang di dinding ruangan itu.
"Iya Den,Bibi juga gak habis pikir,kenapa dia begitu marah,tanpa mau mendengarkan dulu penjelasan nya! Biasanya den Wira tidak begitu!"Jawab Bi Inah,sambil duduk di samping Mariam. di
"Dia kan Wiranata Kusuma! Seorang pengusaha sukses yang super rich! bukankah dia itu suaminya Sofi?!
Lalu apakah dia,,istri keduanya?!"Batin Bima,tentu saja dia mengenal Wira,selain dia sama sama berkecimpung di dunia hiburan yang sama dengan Sofi,Wira adalah teman bisnis Papahnya.
Terdengar bel berbunyi, seperti nya tim medis sudah datang untuk segera menangani Mariam.
Mariam pun dibawa ke rumah sakit didampingi Bi Inah, sedangkan Bima segera mengikuti mereka dari belakang.
"Makasih banyak ya den!jika tidak ada Aden , Bibi Gak tahu gimana nasib Non Mariam!"Kata Bi Inah tak henti hentinya mengucapkan terimakasih.
Mereka akhirnya sampai di sebuah Rumah sakit besar dan Mariam langsung ditangani.
"Iya Bu,sama sama! Gimana Suaminya masih belum bisa dihubungi?!"Tanya Bima,ingin sekali ia bertemu Tuan Wira itu ,ia ingin menghajar nya habis habisan,kenapa ia berani sekali menyiksa istrinya yang tengah hamil.
"Belum Den!Saya akan coba terus hubungi dia!"
Kata Bi Inah sambil menempelkan ponselnya di telinga nya sendiri.
Tiba tiba dokter yang menangani Mariam keluar dari ruangan tempat Mariam di rawat.
"Bagaimana keadaan nya Dok?!"Tanya Bima berhambur menghampiri Dokter tersebut.
Ia merasa ingin tahu kondisi Mariam kini.
"Pasien dalam keadaan kritis!maaf apakah anda suami korban?!"
Tanya Sang Dokter.
"I iya Dok,saya suaminya!"Bima terpaksa berbohong kepada Dokter itu.
"Kalau begitu,mari ikut saya,ada yang harus saya sampaikan!"
Bima melirik ke arah Bu Inah,Bi Inah mengangguk mengiyakan Bima untuk mewakili nya, Bi Inah tak dapat melakukan apa apa ,Biarlah jika nanti Tuan nya marah,ini demi kebaikan Nona nya.
"Silahkan duduk Pa!"Kata Dokter perempuan yang menangani Mariam.
Bima pun duduk dengan wajah serius dan sedikit deg deg an karena was was akan mendengar kan diagnosis Dokter tersebut terhadap Mariam.
"Istri Bapak terlambat ditangani,dia terlalu lama kedinginan hingga berakibat fatal pada kondisi kandungan nya.
Sebenarnya bayinya baik baik saja, tapi,,,"
Dokter tersebut terlihat ragu mengatakan yang sesungguhnya nya.
"Tapi apa Dok?!"
Desak Bima.
"Janin nya harus segera diangkat dari rahim Ibunya,jika tidak ini akan membahayakan nyawa istri Anda!"
"Apa?!Kenapa bisa Begitu!?"
"Maaf pak!Bapak harus segera memilih antara mempertahankan janin nya atau mempertahan kan nyawa istri Bapak!"
__ADS_1
"Jika memaksakan keduanya bagaimana Dok?!"
"kemungkinan keberhasilan sangat tipis Pa,jika Istri Bapak memaksakan dirinya untuk melahirkan Bayinya,maka nyawa nya tidak akan tertolong,dan saya rasa kehamilannya ini adalah hasil dari inseminasi buatan,bukan begitu Pak?!jadi kondisi nya sangat rentan, tekanan demi tekanan pikiran nya berpengaruh besar terhadap kondisi Ibu nya sendiri."
Dokter itu menjelaskan secara rinci.
"Apa?!inseminasi Buatan?!Apa maksud semua ini?!"Batin Bima.
"Saya tidak bisa memutuskan nya sekarang Dok,apa tidak apa apa?!"Kata Bima.
"Silahkan Bapak Pikir kan dulu!tapi ini harus segera ditangani,jadi segera ambil keputusan ya pak!"
"Baik Dok, sementara itu tolong jaga rahasia ini,Dok,saya tidak ingin orang lain tahu!"
Kata Bima.
"Tentu saja Pak,itu sudah kewajiban kami,menjaga kerahasiaan kondisi pasien."
"Terimakasih,Dokter!saya ingin melihat kondisi Ibu bayinya dahulu!"
"Silahkan Pa!"
Dengan wajah muram Bima keluar dari ruangan Dokter itu.
Bi Inah yang baru keluar dari ruang inap Mariam segera menghampiri Bima.
"Den apa yang terjadi?!"Tanya Bi Inah, wajahnya penuh kekhawatiran.
Bima menatap nanar ke arah Bi Inah.
"Bagaimana kondisi sekarang Bu?!"
Bima malah balik bertanya.
"Non Mariam masih belum sadarkan diri,Den!"ucapnya lirih.
"Apa Suaminya atau keluarga nya sudah ada yang bisa dihubungi?!"
"Mungkin karena ini sudah dini hari, Den,jadi Tuan Wira ataupun assisten nya tidak dapat dihubungi.
Mungkin juga seperti itu,karena sekarang sudah pukul 01.30.
Doni mungkin sedang beristirahat,Wira juga begitu, apa lagi pasti Wira masih marah kepada Mariam.
Bima yang tadinya berniat akan pergi nongkrong di club bersama teman teman nya,kini malah harus terjebak di rumah sakit,menunggui istri orang dengan seribu kisah pilu di baliknya.
"Bibi harus ceritakan semuanya kepada ku, siapa sebenarnya Nona Mariam itu,maka Aku pun akan menceritakan tentang kondisi dari Nona Mariam yang sebenarnya!"
Senjata Bima selalu saja mengancam Bi Inah,Bi Inah yang bingung harus bagaimana, ditambah Bima sudah berbaik hati mengurus kan Mariam,ia hanya bisa iya iya saja.
"Non Mariam adalah istri kedua Den Wira,itu pun terpaksa Den!"
Bi Inah mulai bercerita, mereka berdua duduk di kursi tunggu,tidak ada rasa kantuk meski waktu semakin larut,yang ada kesedihan dan kekhawatiran yang mereka rasakan.
Rasa iba yang mendalam, meskipun Mariam adalah orang Asing,tapi Bima akui,Istri kedua Wiranata itu sudah mencuri pandangan nya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Apa maksud Bibi dengan terpaksa!?"Bima semakin penasaran.
Bi Inah pun menceritakan semuanya kepada Bima,orang yang baru ia kenal,tapi Bi Inah tak peduli, Mariam butuh perlindungan,ia tak ingin Nona mudanya itu semakin terluka dan Bi Inah tahu rencana busuk dari istri pertama Tuan nya itu.
Raut muka Bima berubah merah padam,tangannya mengepal,setelah Bi Inah menceritakan kronologis hubungan Mariam dengan Wira, hingga Mariam harus terjebak dalam situasi sulit seperti ini.
Bima sungguh miris membayangkan kehidupan sulit yang harus dilalui Mariam selama ini,Mariam harus menghadapi Sofi yang Bima sedikit nya tahu tentang sifatnya yang arogan dan menyebalkan.
Sekarang saja Mariam harus terus menanggung penderitaan fisik dan mental akibat kekejaman pria tak bermoral seperti Wiranata Kusuma.
"Den Wira sebenarnya baik orang nya,hanya saja entah kenapa ia berubah seperti itu akhir akhir ini, seperti nya dia, sedang banyak beban pikiran."Tambah Bi Inah.
"Tidak ada pembenaran bagi orang yang selalu menggunakan kekerasan sebagai pelampiasan, apalagi kepada seorang perempuan.
Bu aku harap Ibu mau bekerja sama denganku,untuk sementara sembunyikan Mariam dari Suaminya,biar dia merasakan dulu bagaiman kehilangan seseorang yang sangat berharga,apa ibu mengerti?!"Kata Bima meminta bekerja sama kepada Bi Inah.
__ADS_1
Bi Inah mengangguk tanda mengerti,Wira memang harus di beri pelajaran.
"Kalau Aden mau pulang ,gak apa apa Den,pulang saja!biara Bibi yang akan jaga Non Mariam!"Kata Bi Inah.
"Gak apa apa Bi,saya lagi santai Kok,Bibi mau pulang dulu?mau bawa baju ganti?Gak apa apa!saya yang akan Jaga in dia!"
"Besok pagi aja ya Den pagi pagi,Bibi ngantuk sekarang!"
"Ya udah istirahat Bi,Saya akan beli kopi dulu!"
"Baik Den, sekali lagi terimakasih banyak ya,Aden ganteng!" Bi Inah tersenyum hangat,ia merasakan ada titik terang untuk membantu Mariam yang sudah ia anggap anak nya sendiri itu.
Semburat cahaya bersinar terang meskipun hanya setitik.
*****************∆∆∆∆∆∆∆∆**************
Setelah Wira meninggalkan Apartemen tempat Mariam tinggal,ia memerintahkan Doni untuk mencari Bima,laki laki yang sudah berani menyentuh Mariam.
Kemudian ia pergi ke rumahnya, Berniat menenangkan diri.
Rasa sesal menggelayuti perasaan nya.
kenapa ia bisa bertindak se brutal itu tadi.
Mariam adalah wanita Sholehah yang tak mungkin mau bersentuhan dengan lawan jenis nya, tapi kenapa amarahnya tidak terkendali saat melihat lagi dan lagi istri mudanya itu berdekatan dengan pria lain.
Wira minum minuman beralkohol di ruang kerjanya, tangannya penuh luka akibat meninju dinding tadi.
Kini ia menyesali tindakan nya sendiri.
Wira membanting botol minuman yang ia pegang ke lantai sampai remuk berantakan dimana mana.
"Apa yang Sudak ku perbuat?!Ya Tuhan! bagaimana jika terjadi sesuatu dengan nya juga pada bayi yang sedang di kandung nya!Aku benar-benar sudah gila!"
Kata Wira merutuki tindakan nya sendiri.
Dia menyambar jaket yang tergeletak di atas sofa,ia berniat kembali ke apartemen untuk melihat kondisi Mariam yang ia tinggalkan di kamar mandi tadi.
"Sayang!Are you okay?!"
Sofi yang baru pulang syuting langsung masuk ke ruang kerja suaminya karena mendengar seperti sesuatu yang pecah disana.
Bau alkohol menyengat ketika masuk ke dalam, dilihat nya penampilan Suami nya yang berantakan, ia terlihat hancur.dan frustasi.
Ada sedikit rasa sakit yang Sofi rasakan ketika melihat keadaan Wira saat ini,rasa cemburu Wira kepada istri mudanya yang besar mampu membuat sampai seperti ini, sedangkan Wira tak pernah marah sedikitpun kepada nya meskipun ia sering melihat Dirinya dekat dengan pria lain.
Wira benar benar sudah jatuh cinta kepada madunya itu,rasa kesal meliputi pikiran Sofi, tapi ini adalah kesempatan baginya untuk kembali mengambil hati Suami nya itu.
"Sayang,ini sudah malam,kamu mau kemana?kamu juga mabuk, sayang! bahaya jika menyetir dalam keadaan begini, ayo, istirahat lah!"
Rayu Sofi sambil memapah Wira untuk duduk di Sofa.
Wira yang sudah dipengaruhi oleh alkohol yang cukup tinggi, tak dapat berpikir jernih dan tubuhnya pun terasa oleng.
Dia menatap Sofi dengan nanar,dia melihat Sofi seolah olah Mariam dihadapan nya.
"Neng!! maaf kan Aa!Aa sudah bertindak kasar padamu!Ayo balas Aa sekarang,pukul Aa,ayo!pukul lah sesuka mu!"Racau Wira sambil menggerak gerak kan tangan Sofi agar memukul wajah nya.
Sofi terdiam, seperti nya Wira sudah kehilangan kesadaran nya.
Sofi mengelus ngelus pipi Wira dengan lembut, lalu ia mengecup bibir Wira.
"Tidak apa apa,sayang!Aku mencintaimu!"
Bisik Sofi di telinga Wira.
Membuat Wira yang sudah mabuk, merasa tertantang untuk mencumbu Sofi yang ia pikir adalah Mariam.
Mereka berdua bergumul di atas Sofa di ruang kerja Wira.
Dengan ganas Wira melahap tubuh Sofi tanpa ampun, sesekali Wira menyebut nama Mariam dalam ******* nya.
__ADS_1
Sofi tak peduli,malam ini Wira adalah miliknya.