
Satria nampak sehat dan baik baik saja di pesantren.
Tak sedikitpun dia mengeluh tentang apapun,dia begitu luar biasa.
"Umi jangan sedih terus,Satria baik baik saja kok!"
Kata Satria dengan senyum nya yang manis,bocah kelas 4 SD itu begitu tampan dan manis,sikap nya yang baik membuat semua orang menyukainya,termasuk Keenan.
Ini adalah kali kedua mereka saling bertemu,tapi mereka langsung begitu akrab.
Satria yang selalu merindukan kasih sayang seorang Ayah,hati nya selalu terbuka bagi siapapun yang mendekatinya ,Mariam cukup khawatir,tapi Satria cukup mengerti untuk membedakan mana kasih sayang yang tulus dan mana yang modus.
"Om Keenan orang nya baik ya ,Mi!Dia sering lo ngirimin banyak makanan buat Satria dan buat santri yang lain nya juga!Om Keenan itu teman nya Umi ya?!"
Satria seperti ingin tahu siapa sebenarnya Keenan itu.
"Om Keenan itu teman nya Om Juna ,Tria!kebetulan mobil Umi di bengkel dan Om Keenan juga ternyata mau kesini,dia kan donatur disini,jadi umi sekalian aja nebeng!"Jawab Mariam ,ia belum ingin memperkenalkan Keenan sebagai teman dekatnya,karena hubungan mereka masih belum jelas.
Satria tersenyum ke arah Uminya,sebenarnya dia faham jika ada sesuatu diantara Om Keenan dan Uminya,dari cara menatap Keenan pun sudah dapat ditebak jika Om itu memiliki perasaan khusus kepada Ibu tercintanya.
"Satria gak apa apa kok Umi,jika Umi butuh teman buat nemenin Umi,Om Keenan itu cocok kok sama Umi!"Kata Satria setengah menggoda.
"Idihh!apaan sih kamu anak kecil!"Mariam mencubit hidung puteranya itu,dia sungguh dewasa dan bijaksana di usia nya yang masih kecil,Mariam begitu bangga memiliki Satria sebagai puteranya,berbagai prestasi ia ukir,Ia begitu pintar ,Shaleh juga baik hati.
"Beneran Umi ih!Umi harus bahagia!kebahagiaan Umi adalah kebahagiaan Tria juga!"
Mariam begitu terenyuh mendengar perkataan Puteranya itu,Mariam pun memeluknya hangat penuh kasih sayang.
Keenan tengah mengobrol dengan Kiai Mus sambil memperhatikan keduanya,dia langsung jatuh cinta kepada Satria,menurutnya bocah itu sangat istimewa,dan dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan nya,bukan sekedar karena Ia adalah putera dari perempuan yang sedang ia incar,tapi Satria benar benar sudah menyita perhatiannya sejak awal mereka bertemu ,padahal awal nya ia tidak tahu jika Satria adalah Anak dari Mariam.
"Bagaimana hubungan mu dengan Mariam, Nak?!"tanya Kiai Mus.
"Dia sangat sulit didekati pak Kiai!"Jawab Keenan sambil memperhatikan Mariam dan Satria yang masih asik bercengkrama.
Kiai Mus terkekeh,
"Kamu masih belum berubah nak,wajar jika Mariam masih harus banyak berpikir,berusahalah lebih keras,buat dia yakin jika kamu memang pantas untuknya!"ucap Kiai Mus sambil menepuk bahu Keenan.
__ADS_1
Seakan dia tahu akar permasalahan yang membuat hubungan nya dengan Mariam tidak mengalami kemajuan.
"Mariam itu wanita yang Sholihah,Nak!jadi dia tak akan sembarangan memilih calon imam untuk nya,masih banyak yang harus kamu benahi,belajarlah lebih giat!jika kamu tak ingin kehilangan dia,hilangkan lah ego dan kebiasaan buruk mu!maaf jika kamu tersinggung,tapi jangan sampai kamu menyesal karena tak menuruti kata kata Abah!"Ucap Kiai Mus memberi nasihat kepada Keenan.
"Iya Pak Kiai ,Saya akan berusaha keras dan akan belajar ilmu agama lebih giat lagi!"
Keenan memantapkan dirinya,Kiai Mus benar,ia tak ingin menyesal jika ternyata Julian atau Pria yang lainnya mendapatkan Mariam lebih dulu.
Mariam menemui Umi Siti untuk sekedar menyapa nya, sedangkan Satria tengah ikut bermain bola bersama Satria dan anak anak santri yang lain.
Satria terlihat begitu menikmati kebersamaan nya dengan Keenan, mereka terlihat dekat dan akrab.
Tak lama Mariam memanggil Keenan untuk segera pulang,tiba tiba Juna menelepon nya dan terdengar marah.
"Tuan Keenan,kita harus segera kembali,Juna baru saja menelpon seperti nya ada hal yang mendesak!"
Keenan menghentikan aktivitas nya dan menghampiri Mariam,Ia melihat jam tangan yang ia pakai,dan memang ini sudah waktunya pulang.
"Baiklah,kita pulang sekarang,Aku juga ada rapat penting sebentar lagi!"Ucap Keenan sambil memanggil Satria dengan lambaian tangan nya.
Kemudian Ia menyuruh sopirnya untuk megambil uang warna merah satu gepok dari dalam mobilnya lalu ia membagi bagikan nya kepada seluruh santri untuk uang jajan, mereka nampak begitu gembira karena mendapat uang jajan tambahan.
"Tentu saja Om ingin sering datang, tapi Om tergantung jika ada yang mau mengajak lagi untuk sering datang kesini!"Jawab Keenan sambil melirik ke arah Mariam.
"Ya udah Umi pulang dulu,ya Tria! semuanya,Umi titip Satria ya,Umi dan Om Keenan harus pulang sekarang!"Mariam segera mengalihkan perhatian Keenan.
"Iya Umi,hati hati di jalan,salam sama Om Juna ,Oma dan semua nya deh pokoknya!"Kata Satria sambil mencium tangan Mariam lalu memeluk nya,lalu dia bergantian memeluk Keenan.
"Semangat Om,terus berjuang!"bisik Satria lalu mereka terlihat TOS sambil cekikikan berdua, membuat Mariam curiga.
...****************...
"Kak Mariam apa apaan sih!tiba tiba mau resign!Kakak tahu kan saat ini Aku lagi butuh banget Kakak sebagai sekertaris ku!"Juna sangat marah begitu menerima surat pengunduran diri dari Mariam.
Mariam hanya diam tak bisa menjawab nya.
Sebenarnya bukan hanya Wira alasan Mariam resign dari perusahaan Juna.
__ADS_1
Nyonya Liana lah alasan terbesar nya.
Dia memang sangat menentang Satria masuk pesantren,sejak saat itu Nyonya Liana mengalihkan dana yang biasanya mengalir ke rekening milik Mariam untuk keperluan Satria dan kini dialihkan ke rekening pribadi milik Satria, apalagi setelah Nyonya Liana tahu jika kini Mariam tengah dekat dengan seseorang, Nyonya Liana semakin membenci Mariam.
Masih ingat sekali waktu itu, bagaimana mertua nya itu mengatai nya dan menuding Mariam ingin menguasai harta peninggalan Bima,sejak saat hubungan Maria dengan keluarga mendiang suaminya kurang baik.
Meskipun Juna mati matian membela nya,tapi Mariam terlanjur sakit hati,dia mengerti posisi nya kini.
"Apa karena perkataan mamah waktu itu?! Please Kak! jangan diambil hati,Aku memperkerjakan Kakak karena memang pekerjaan Kakak bagus!"Juna tak berhenti mengomel,Ia masih menginginkan Mariam agar tetap bekerja untuk nya.
"Maafkan Kakak Jun, keputusan ku tidak ada hubungannya dengan orang lain,Kakak hanya ingin menjalani hidup sesuai dengan keinginan Kakak! Kakak harap kamu mengerti dan tidak menjadikan putusnya tali persaudaraan kita!"Mariam berusaha menjelaskan sebaik mungkin,ia tidak ingin menyalakan siapa pun tentang hal ini, semuanya adanya takdir yang harus Ia jalani kini.
Juna terdiam,ia tak ingin menambah beban lagi kepada Mariam,Ia sadar tak berhak menghalangi jalan hidup seseorang,dia hanya khawatir bagaimana Mariam bisa menjalani hidup nya kini.
Juna menarik nafasnya dalam dalam.
"Baiklah, jika keputusan Kak Mariam ini membuat Kakak bahagia,Juna ngerti, maafkan sikap Mamah tempo hari ya,dia hanya tidak ingin jauh jauh dari Satria,jadi dia hanya melampiaskan nya kepada Kakak!"
"It's oke,Jun!Kamu gak usah khawatir,Aku baik baik saja,Aku ngerti kok perasaan Mamah kayak gimana!"Ucap Mariam dengan tatapan matanya yang sendu.
"Lalu apa rencana kakak setelah gak kerja lagi disini?"Juna ingin memastikan jika janda kakak nya itu dapat tetap hidup dengan layak.
"Aku akan mencari kerja di tempat lain,kamu gak usah khawatir,aku pasti akan mendapatkan pekerjaan yang bagus,kamu tahu kemampuan ku kan?!"Mariam tahu kecemasan adik iparnya itu,dan Mariam tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang.
"Baiklah, kalau kakak butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi ku,Aku gak mau setelah ini hubungan kita jadi merenggang!"
"Pasti!siapa lagi yang bisa ku mintai tolong selain kamu Jun,Aku mohon kamu jaga Fatimah dengan baik,di masa kehamilan nya dia harus di tetap bahagia!"Mariam takut hubungan nya dengan nyonya Liana yang sedang merenggang berpengaruh terhadap psikis Fatimah, adiknya uang tengah mengandung.
"Tentu saja,Kak!dia segala nya bagi ku! Sekali lagi Aku mohon maaf atas nama Mamah ,ku harap Kakak tidak menyimpan dendam kepada nya!"
"Tentu saja tidak Jun,dia tetaplah Ibu mertuaku,Nenek dari Satria,Aku sangat menghormati nya sampai kapan pun!"Jawab Mariam dengan tersenyum,dia pun akhirnya pamit meninggalkan perusahaan Juna untuk selamanya.
Kini kehidupan Mariam sedang benar benar berada dalam keadaan yang serba salah.
Dia pun sampai meninggal kan rumah megah peninggalan Bima yang memang sudah menjadi milik Satria, Putera nya.
Tak ingin masalah dengan Ibu mertua nya semakin runyam,ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan memilih menyewa rumah sederhana di pinggiran Kota.
__ADS_1
Kini ia harus banting setir mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya sendiri,tak ada yang tahu kehidupan nya kini,jika keluarga nya bertanya,ia akan bilang jika ia baik baik saja.
Bahkan Keenan,kini ia semakin sulit menghubungi Mariam, keberadaan nya sulit dilacak, Keenan hampir putus asa mencari keberadaan Mariam,sudah hampir satu bulan,Mariam tak kunjung ada kabar.