
Hujan gerimis menyelimuti bumi seakan ikut merasakan kepedihan yang Mariam rasakan saat ini.
Kepedihan yang bertubi-tubi harus Ia rasakan sekaligus.
kehilangan Sang jabang bayi yang Ia nantikan bukan lah sesuai yang mudah Ia terima ditambah Ia harus di tinggal Sang Ibu dalam waktu yang bersamaan.
Rasa bersalah tak mampu menjaga keduanya pun begitu menghujam di hatinya.
Mariam hanya bisa menangis di atas pusara keduanya yang dimakamkan berdampingan.
Dibawah rintik hujan Ia masih tak kunjung mau pulang.
Bima yang setia memayungi Istri tercinta berdiri mematung tak kuasa menahan kesedihan yang juga dirasakan nya.
"Sayang,Ayo kita pulang, Satria pasti sudah menunggu kita?"
Mariam tak menjawab perkataan Suaminya,Ia hanya berdiri lalu berjalan meninggalkan area pemakaman itu di ikuti Bima dengan payung ditangannya.
Sejak saat itu Mariam seperti hilang semangat.
Tak ada banyak kata terucap,tak ada senyum yang menghiasi wajahnya, mengurus Satria seperlunya, begitu juga terhadap Bima,Ia menjadi dingin seperti kepada orang asing.
Tatapan nya kosong dan terkadang airmata nya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
Seluruh keluarga merasa khawatir dengan keadaan Mariam paska di tinggalkan sang Ibu dan jabang bayinya.
Terlebih Bima,ia begitu bingung apa yang harus Dia lakukan untuk mengembalikan Mariam nya yang dulu,yang ceria, yang perhatian dan penuh kasih sayang kepada nya juga kepada Putera semata wayang mereka dan kepada semua keluarga.
"Wir! Bisa kah kamu membantu ku!?"
Kata Bima di suatu malam kepada Wira lewat sambungan telepon nya.
"Tentu Bim, sebisaku!Apa yang harus Aku lakukan untuk mu!? katakan saja!"Jawab Wira begitu antusias.
"Bisakah Kamu bawa Sarah ke rumah ku!Aku ingin Dia sedikit menghibur Istriku! mereka kan teman baik, mungkin saja jika Sarah yang ngomong Mariam mau mendengarkan nya!"Kata Bima mencoba mencari solusi untuk kebaikan Istri tercinta nya.
"Mariam masih sedih?!"Tanya Wira.
"Seperti nya begitu,Aku jadi ikut kehilangan Dia setelah Dia kehilangan Ibunya dan Bayi kita!"Jawab Bima lirih.
"Tentu saja Bim! Aku akan berusaha membantu Kamu sebisaku,besok Aku akan datang ke rumah mu bersama Sarah!"Kata Wira.
"Baik, Aku tunggu! terima kasih ya Wir! sampai jumpa besok! Assalamualaikum!"
Kata Bima sambil menutup ponselnya.
Bima menarik nafas dalam-dalam sambil memandangi punggung Istri nya terbaring meringkuk di ranjang mereka.
Tak ada lagi kehangatan dirumahnya,Mariam sudah seperti mayat hidup,Dia sama sekali tak memperdulikan lagi Bima dan Satria.
Esok harinya,,
__ADS_1
Benar saja pagi pagi sekali Wira datang bersama Sarah seperti janjinya.
Dia banyak membawa buah tangan untuk Satria, setelah menikah Wira tinggal di luar kota bersama Sarah, merintis usaha baru di bawah naungan Bima.
"Mariam ada di Atas Sar! kamu naik aja,Aku dan Wira akan masak buat kalian sambil bawa main Satria!"Kata Bima begitu Wira dan Sarah datang.
Sarah pun segera naik ke kamar Mariam seperti saran Bima, Dia sudah tahu apa yang harus Ia lakukan setelah Wira mengatakan semua yang dikatakan Bima kepada nya.
Dan benar saja, Sarah lihat Mariam yang dulu selalu terlihat cantik kini terlihat kuyu, tubuh nya kurus, wajah nya pucat, matanya sayu, sungguh terlihat sangat tidak bergairah.
Dia hanya terduduk di balkon sambil menatap bunga bunga diteras depan kamar nya,di samping nya ada meja yang terdapat makanan yang disuguhkan namun nampaknya tidak disentuh sedikit pun oleh Mariam.
"Assalamualaikum,Mar?!"
Sapa Sarah sambil mendekati Mariam lalu menyalaminya dan mencium pipi kanan kirinya.
"Waalaikumsalam,Sar!"Jawab nya begitu pelan hampir tidak terdengar
"Bunga bunga nya begitu indah Mar, kamu pasti sering menyiram nya!"Ucap Sarah sambil berjongkok melihat lihat bunga yang sedang bermekaran dan terlihat begitu segar dan cantik sedap dipandang mata.
"Iya Sar!"
Jawab nya begitu pendek, Ia nampak tidak tertarik dengan kedatangan sahabat nya itu.
"Mar! Kamu sakit?! sudah periksa ke dokter? kamu nampak tidak baik baik saja!"
Mariam hanya menggeleng sambil menunduk kan wajahnya yang terlihat menahan kesedihan.
Dan terlihat airmata nya pun jatuh tanpa sebab.
Penderitaan ku tak berhenti sampai disitu,Aku dipaksa menikah dengan orang yang tak Aku inginkan, seperti yang kamu tahu, Allah mengirimkan Mas Wira dan Alhamdulillah Aku bahagia sampai saat ini!"
Mariam terlihat tertarik dengan cerita Sarah,diam nya nampak sambil mendengarkan kisah yang sama yang seperti Dia alami.
"Kamu pasti tahu pahala bagi seorang Ibu yang ikhlas kehilangan seorang anaknya bukan?!Kamu beruntung karena kamu sudah memiliki simpanan di Surga,Mar!Jika Kamu ikhlaskan Dia dan selalu mendoakan nya,maka Dia akan menarikmu kelak ke Surga nya Allah SWT."
Sarah mencoba menggiring kan pikiran Mariam agar ingat tentang keuntungan Ikhlas ditinggalkan orang terkasih.
"Aku juga ingat satu kisah di Zaman Rasululah SAW,Saat itu salah satu Istri beliau Ayahnya meninggal dunia,Ia hanya berkabung tak lebih dari satu hari karena harus taat dan patuh kepada Suaminya, karena tugas utama seorang Istri adalah menyenangkan hati Suami,Beliau langsung memakai wangi-wangian dan berdandan untuk Suami nya.
Kamu lihat mereka! Mereka adalah orang orang yang sangat mencintai mu yang Allah kirim untuk selalu mendampingi mu saat ini! Kamu tahu,betapa Satria dan Mas Bima sedih melihat kondisi kamu yang seperti ini!"
Mariam mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Bima dan Satria yang sedang bersenda gurau ditemani Wira di taman sambil memasak di dapur out door mereka.
"Umi kamu juga pasti sedih Mar melihat kamu seperti ini! Bangkit lah Mar!Aku yakin Mas Bima dan Satria juga sangat sedih seperti kamu, ditambah harus mereka harus kehilangan kasih sayang dan perhatian dari Kamu!Kamu gak mau kan kehilangan mereka?!"
Mariam menangis segukan mendengar perkataan Sarah,Ia sadar dirinya salah dan sudah mengabaikan orang yang selama ini selalu mendampingi nya dalam suka ataupun duka, Anak dan Suaminya lebih membutuhkan dirinya kini,dan Ia sudah berdosa dengan berlarut larut dalam kesedihan yang berlebih.
"Aku merasa bersalah kepada Umi,Sar!Dia meninggal karena jatuh di kamar mandi, seharusnya Aku dapat menjaga nya dengan baik!
Dan aku merasa tidak bisa menjaga janin ku dengan baik pula! padahal Aku dan Suamiku sangat mendambakan seorang bayi perempuan!"Ucap Mariam mengeluarkan uneg-uneg nya selama ini.
__ADS_1
"Tapi sedih yang berlebihan itu tidak baik Mar! Satria dan Mas Bima lebih membutuhkan kamu!"
"Aku tahu Sar!Aku sudah berdosa selama ini!"Ia menangis semakin menjadi.
Wira yang tak sengaja melihat Istrinya dan Mariam yang berada di balkon lantai atas melihat kode dari Sarah agar Bima segera naik untuk menenangkan Mariam.
Bima pun, segera naik, sedangkan Sarah turun untuk menemani Satria dan Wira.
Terlihat dari bawah Mereka berpelukan seperti sedang melepas rindu karena lama tidak berjumpa.
Mariam menangis di pelukan Bima dan Bima mengelus kepalanya penuh kasih.
Tak lama setelah itu mereka pun turun ke bawah menemui Satria yang sedang bermain dengan anak-anak nya Asma yang baru datang.
"Umiii!"
Teriak Satria begitu melihat Mariam turun dan menghampiri nya.
Satria terlihat sangat bahagia karena Umi nya mau keluar dari kamarnya setelah Abi nya bilang jika Uminya sakit selama ini.
"Sayang!!"
Seru Mariam sambil menggendong Satria di pelukan nya dan menciumi wajah nya.
Semua keluarga nya yang baru datang terlihat begitu terharu menyaksikan pemandangan ini, mereka juga sempat merasa khawatir dengan kondisi Mariam yang semakin memburuk karena kesedihan nya.
"Sayang Ayo makan bersama!Aku dan Wira dibantu Satria tadi sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu,nasi liwet lengkap dengan jengkol, sambal dan lalap, ayo! semua nya sudah menunggu kita di taman belakang!"Ajak Bima begitu sumringah, tak salah Ia memanggil Sarah datang ke rumahnya, rupanya Mariam tergerak hatinya setelah bertemu dengan Sarah dan mengobrol banyak hal.
Mariam mengangguk sambil tersenyum, wajahnya sudah kembali ceria.
Akhirnya Bima menemukan kembali Mariam yang sempat hilang.
***
"Sayang kamu hebat! Kamu berhasil membuat Mariam kembali!"
Puji Wira begitu mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku dan Mariam itu seperti sebuah cahaya bagi diri kami sendiri Mas,jika salah satu diantara kita gelap, maka salah satunya lagi akan menjadi cahaya bagi yang satunya, saling mengingatkan dalam kebaikan, itulah sahabat yang sesungguhnya, bukan?!Aku juga ketemu kamu karena kebaikan Mariam sebagai sahabat ku!"Kata Sarah sambil tersenyum ke arah Suaminya.
Wira menggenggam tangan Mariam dan mengelusnya lembut.
"Kalian memang wanita wanita ahli Surga!"Puji Wira lagi,Ia merasa bangga memiliki Sarah sebagai Istri nya kini.
"Aamiin!Kamu berlebihan deh!"Sarah merasa malu dengan pujian Suaminya.
"Aku serius!Aku tahu Mariam dari dulu,Dia selalu berusaha kuat meskipun sebenarnya dia sangat rapuh,Dia selalu mengutamakan orang lain di atas kebahagiaan dirinya,dan Aku juga sangat merasakan kesedihan nya, karena Dia sangat dekat dengan Umi Salamah!Kamu juga begitu,sama sama wanita Solehah!"tanpa sadar, ucapan nya itu membuat Sarah ingat jika dulu Wira pernah mencintai Mariam, sahabatnya, bahkan mereka pernah bersama.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Mariam! Oh iya! bahkan sepertinya kamu sangat mencintainya nya dulu!iya kan,Mas?!"
Wira menaikan kedua alis nya dan membuang nafas nya kasar.
__ADS_1
Ia sadar perkataan nya mungkin telah menyinggung dan membangkitkan naluriah seorang wanita.
Cemburu...