MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~

MENDADAK HAMIl~BukanSitiMariam~
Bayangan Masa lalu


__ADS_3

Semua orang bersalaman dan memberi selamat atas kehidupan baru yang dipilih Bima yang kini memiliki nama Muslim Abdullah.


"Selamat Bim,semoga kamu menjadi Muslim sejati dan kita dapat bertemu lagi disyurga nya Allah kelak!"Ucap Irsyad sambil memeluk saudara seiman nya kini.


Bima yang di dampingi kedua orang tua nya terlihat sangat bahagia, wajah nya sangat bercahaya.


Dia menghampiri Mariam yang duduk bersama Umi nya dan Rasyid.


"Selamat Pak Abdullah, semoga anda Istiqomah dengan keyakinan Anda sekarang!"Kata Mariam kepada Bima, sambil berdiri lalu memberi hormat kepada Tuan Danu dan Nyonya Liana.


"Sayang, kamu kapan main ke rumah,Kita mau belajar ngaji bareng sama kamu!"Kata Nyonya Liana menarik tangan Mariam sambil melirik ke arah Bima.


"Tergantung kapan Pak Bima memberi saya libur nya,Bu!"Jawab Mariam menggoda Bima.


"Tuh,Bim!Kamu sih kerja mulu,jadi Mariam juga susah punya waktu buat ngajarin Mamah ngaji!"Bu Liana mencubit tangan putra nya,Bima hanya mesem mesem sambil mencuri curi pandang Kepada Mariam.


"Ini Siapa Mar?!Ibu kamu?!"Tanya Pak Danu sambil menunjuk ke arah Umi Salamah.


"Oh,iya,Pak!ini Ibu saya dan ini adalah adik bungsu saya, Rasyid namanya!"Mariam memperkenalkan Ibu dan adiknya.


Pak Danu agak terkejut bertemu dengan Umi Salamah,dia tertegun dan terlihat sedang mengingat ngingat sesuatu.


"Bukankah Anda istrinya Pak Anwar?!"Tanya Pak Danu sedikit menebak nebak,dia ingat kepada Asisten nya dulu yang bekerja sangat lama kepadanya.


"Iya,Pak! bukannya Bapak Pak Danu?!"Umi Salamah tak kalah terkejutnya,dan ia ingat pria dihadapannya adalah mantan majikan suami nya dulu.


"Astaga,Bu! Saya mencari Ibu kemana mana, bahkan saya mencari sampai ke kampung halaman Pak Anwar, katanya Ibu sudah lama pindah,Saya sampai putus asa Bu,Ya Tuhan, akhirnya kita bertemu disini!"


Pak Danu terlihat sangat senang bisa menemukan kembali keluarga Anwar yang selama ini dia cari.


"Ini sebenarnya ada apa Pah?!Kok Papah bisa kenal sama Umi nya Mariam?!"Bima terlihat kebingungan begitu juga Bu Liana dan Mariam.


"Sebaiknya kita bicara sambil duduk,Kita ke restoran di depan!Mari Bu, banyak yang harus saya sampaikan kepada Ibu!"Kata Pak Danu mengajak Umi Salamah untuk mengobrol di sebuah restoran,dan mereka semua pun mengikuti pak Bima dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Jadi Bu Salamah ini adalah istri dari Pak Anwar, Assisten Papah dulu,kamu ingat Pak Anwar kan Bim?!"Pak Danu menjelaskan kepada semua orang tentang hubungan nya dengan Ayah nya Mariam.


"Ingat sekali Pah! Beliau kan orang yang sudah menyelamatkan Bima dari penculikan waktu itu!"

__ADS_1


Mariam masih terlihat kebingungan.


"Bu, sejak kejadian waktu itu,kenapa Ibu sangat sulit di hubungi,Saya sangat menyesal telah kehilangan Pak Anwar, dia sangat berjasa kepada keluarga Saya,dia bahkan rela mengorbankan nyawa nya demi menyelamatkan Bima waktu,itu!Saya belum sempat membalas hutang Budi kepada keluarga Pak Anwar, tapi waktu itu adik nya Pak Anwar kalau nggak salah namanya Imran, langsung membawa jenazah Pak Anwar setelah saya memberi uang santunan kepada beliau!Saya benar benar mohon Maaf Bu!"


"Benarkah begitu Pak?? Sebenarnya saya tidak ingin mengungkit nya karena semua terjadi atas kehendak Allah, tapi waktu itu saya sempatkan marah kepada Anda,Imran bilang Anda tidak bertanggung jawab untuk membayar biaya rumah sakit Suami saya,dan dia memilih untuk membawanya pulang ke kampung saya.


Waktu itu saya sangat kecewa dan Imran bilang lebih baik mengalah daripada melawan orang berkuasa seperti Anda!"Umi Salamah menceritakan semua nya dengan penuh kesedihan.


"Astaga Ibu!kita sudah salah Faham!"Pak Danu terlihat sangat menyesal.


"Bahkan waktu itu dia meminta uang ganti rugi sebesar 1 M!"Kata Pak Danu lagi sambil memijit kepalanya pelan.


"Apa?!"Umi Salamah sangat terkejut.


"1 M?! Bahkan dia bilang Anda tak memberi uang santunan sepeser pun!Ya ampun Imran! Astaghfirullah!kamu sudah membohongi kakak mu sendiri dan mengambil uang santunan sebesar 1 M?!"Umi Salamah benar benar terpukul mengetahui kebenaran tentang suaminya.


"Maafkan saya Bu, bahkan setelah itu saya mencari keberadaan keluarga Ibu untuk bertanggung jawab dan berniat akan mengurus kalian sepeninggal Almarhum,namun saya benar benar kehilangan jejak kalian!"Kata Pak Danu ,ia benar benar menyesal.


"Waktu itu saya di bawa Imran pulang kampung, 3 tahun kemudian saya menikah lagi dengan Bapak nya Rasyid,,"Umi Salamah mengenang masa lalu nya.


"Bu,Ada apa ini, Mariam masih belum mengerti?!"Kata Mariam meminta penjelasan Ibunya.


"Kamu tidak ingat Nak?!Kejadian sekitar 15 tahun lalu,saat Nak Bima menjadi korban penculikan? bahkan kamu juga ada disitu waktu itu untuk menyelamatkan nya, tapi Ayah mu yang waktu itu bekerja sebagai Asisten Pak Danu tertembak karena mencoba menghalangi agar Nak Bima tidak tertembak!"Umi Salamah mencoba menjelaskan.


Mariam terlihat sedang berpikir keras.


Memori otaknya berputar mengingat kejadian di masa kecilnya.


Dia hanya ingat sebagian saja, dia ingat ketika dia sedang menenangkan seorang anak laki laki yang sedang ketakutan sambil membacakan sholawat.


"Jadi kamu benar benar kamu yang waktu itu?!Aku sempat curiga saat mendengar kamu bersholawat ketika kamu ketakutan di kejar Wira,Aku sangat berharap itu kamu yang dulu, yang menyelamatkan ku saat Ibuku meninggal dan Aku di culik, apa kamu tidak ingat?!


Sholatum bisalamil mubiin,,,!"


Bima melantunkan sepenggal sholawat yang waktu itu Mariam lantunkan.


Mariam malah berdiri penuh Amarah, membuat semua orang keheranan.

__ADS_1


"Ya,Aku ingat sekarang! Kamu yang membuat Ayahku meregang nyawa di depan mataku sendiri,Aku harus kehilangan Ayahku waktu aku masih kecil dan Waktu itu ibuku sedang mengandung adik ku Fatimah, semua nya gara gara kamu,anak manja yang cengeng!!"


Mariam menunjuk wajah Bima dan ia begitu marah saat akhirnya tahu bahwa Bima adalah anak kecil yang ia tolong waktu itu, tapi karena Bima menangis terus, membuat para penculikan panik dan hendak menembak Bima namun di halangi Ayahnya yang tiba tiba datang untuk menyelamatkan mereka,Pak Anwar meregang nyawa di depan Mariam dan sejak saat itu Mariam membenci anak kecil yang sudah mengambil Ayahnya,dan ternyata itu adalah Bima.


"Iyam! Istighfar,Nak! jangan menyalah kan orang lain, semua nya adalah takdir, lagipula kejadian itu sudah sangat lama,dan Allah sengaja pertemukan kita lagi dengan keluarga pak Danu agar tidak salah paham terus!"Umi Salamah menarik tangan Mariam agar duduk kembali.


"Nak,Saya sudah berjanji kepada Ayahmu akan menjaga kalian setelah kepergian nya, ternyata Tuhan sengaja pertemukan kamu dan Bima, saya sangat akan senang jika kamu bisa memaafkan kami dan kalian bisa segera bersatu!"


"Itu tidak akan pernah terjadi!Aku tidak mau menjalin hubungan hanya karena balas budi!Mohon maaf, saya permisi! dan saya akan mengundurkan diri menjadi sekertaris Anda,Tuan Bima!"


Kata Mariam sambil pergi meninggalkan tempat itu,dia pun meninggalkan Umi nya dan Rasyid di restoran bersama keluarga Bima.


"Mar!!Aku minta maaf!Mar!"Teriak Bima sambil mengejar Mariam.


Mereka semua tertegun melihat sikap tak terduga dari Mariam.


"Dia memang sangat merasa kehilangan Ayah nya waktu itu,dan setelah itu dia harus menjadi tulang punggung keluarga, hidup kami sangat berat hingga akhirnya saya memutuskan menikah lagi,namun takdir berkata lain, Suami saya pun meninggal karena penyakit jantung yang ia derita, Mariam harus kembali bekerja keras untuk menghidupi adik adiknya,,"Kenang Umi Salamah penuh kesedihan.


"Saya benar benar berhutang nyawa kepada suami Ibu,saya berharap Ibu sekeluarga bisa memberi saya kesempatan untuk memenuhi janji saya kepada Almarhum!"Kata Pak Danu penuh harap.


"Saya mengerti maksud Anda! Saya yakin Fatimah akan mengerti,dia sudah dewasa sekarang dia,dia hanya sedang emosi saja, saya yakin dia akan bisa menerima semuanya."


Kata Umi Salamah.


***


"Mar! Mariam tunggu!"


Teriak Bima sambil terus mengejar Mariam yang terus berlari menghindari nya.


Jangan kejar aku,Aku takut tak bisa menahan diri,da aku takut akan menyakitimu!"Bentak Mariam sambil mendorong tubuh Bima agar menjauh.


"Aku tidak peduli,bunuh aku jika itu akan membuat mu lebih baik!Ayo pukul aku,aku tahu aku salah karena sudah mengambil Ayahmu!"Teriak Bima sambil menahan agar Mariam tidak lari lagi.


Mariam menangis sambil berjongkok ditaman kota,ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya,


Dia tahu pikiran nya kini seperti anak kecil,dia juga sadar semua nya adalah takdir,tapi dia tidak dapat menahan diri, perasaan yang selama 15 tahun ia pendam, kebenciannya kepada Bima waktu itu,masih berbekas di sanubari nya.

__ADS_1


**


Next...


__ADS_2