
"Umi,,apa kabar?!"Teriak Fatimah langsung menyambut ibunya yang ternyata di jemput oleh Irsyad.
Mereka langsung berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah lama mereka memang tidak bertemu.
"Umi!!"Mariam pun langsung memeluk Ibu nya sambil menangis saking senangnya bisa bertemu.
"Kamu apa kabar Syid?!"Kedua nya bergantian memeluk adik bungsu mereka Rasyid.
"Baik, teh Alhamdulillah!"Jawab Rasyid yan langsung masuk karena mencium bau makanan yang enak.
"Ayo masuk mi,Umi pasti lapar!
Ayo syad,masuk dulu! kita makan bersama!"Ajak Mariam kepada Irsyad yang terlihat lelah.
Irsyad pun mengangguk dan dia ikut senang karena akhirnya Mariam sudah selamat.
"Kamu kok kurusan Yam,kamu sakit?!"
Tanya Umi kepada Mariam yang memang terlihat kurus dan matanya pun kuyu.
"Nggak kok Mi, Mariam hanya kelelahan dan kemarin agak kurang sehat, tapi sekarang udah baik baik saja, Kok!"Jawab Mariam menenangkan ibunya yang terlihat khawatir.
Tak lama Bima pun datang dengan membawa se abreg makanan dan barang barang mewah hadiah untuk Umi dan Rasyid.
Rasyid terlihat senang mendapat kan hadiah begitu banyak dan dia langsung akrab dengan Bima dan Irsyad.
"Dia itu siapa Nak?!"Tanya Umi penuh selidik,dia merasa Bima bukan orang biasa dan dari tatapan matanya Bima menyimpan rasa mendalam kepada Maryam.
"Dia Bos aku di kantor Mi,dan dia juga rekan bisnis nya Irsyad,,!"Jawab Mariam.
"Kok akrab banget sama kamu?pake datang ke rumah segala!"Setelah kejadian Wira yang menyakiti Puteri nya,Umi Salamah menjadi sangat over protective dalam urusan memilih calon menantu untuk Puteri Puteri nya,dia tidak ingin kejadian yang dialami Mariam terulang lagi.
"Teh iyam itu kerja nya menjadi sekertaris Pak Bima,Umi! Kemarin Teh iyam sakit,jadi pak Bima datang menjenguk Teh Iyam!"Fatimah ikut membantu mencari alasan kenapa Pak Bima sampai datang ke rumah nya.
Lagipula Mariam dan Bima belum ada komitmen apa apa dalam menjalankan hubungan mereka, mereka hanya menjalani saja dan mengalir apa adanya.
Mariam pun masih bimbang tentang perasaan nya.
"Umi hanya tak ingin kamu terjatuh ke lubang yang sama,Yam!Umi sangat lega kini Fatimah sudah mendapatkan pria baik seperti Nak Irsyad,dan Umi berharap mereka segera naik ke jenjang pernikahan!"Kata Umi sengaja berbicara dengan nada cukup keras, sebagai kode agar Irsyad segera menikah dengan Fatimah.
"Saya senang jika ternyata Umi memiliki pikiran yang sama dengan Saya,Kami akan secepatnya melangsungkan pernikahan setelah mendapat izin dari Mariam!"Kata Irsyad sambil melirik ke arah Mariam,dia faham betul jika keluarga Mariam tidak suka mereka berpacaran terlalu lama.
"Aku pun sangat senang mendengar niat baik mu untuk segera menikahi adik ku, Syad! Segera saja halalkan hubungan kalian,itu lebih baik,agar tidak timbul fitnah!"
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu, Sekarang tinggal kamu ,Yam!Mang Imran berniat men ta'aruf kan kamu dengan Khalid, putera dari Kiai Hasan yang baru saja ditinggal istrinya meninggal dunia,kamu tahu dia kan, Yam?!"Kata Umi Salamah membuat jantung Bima terasa berhenti berdetak,dia hanya bisa diam mendengarkan, tangan nya meremas bantal kursi yang ia pegang.
Irsyad yang tahu bagaimana perasaan Bima kepada Mariam melirik ke arah nya,Bima terlihat gugup dan tak tenang.
"Mi, bukankah Ustad Khalid itu sudah agak tua,ya?!Anak nya juga banyak, bahkan ada yang seumuran Fatimah,masa mau dinikahkan dengan Teh iam,masa Umi tega sih!"Kata Fatimah membela sang kakak.
"Tapi Umi tidak dapat menolak keinginan Mamang mu, kalian tahu kan sifat dia!?"Kata Umi Salamah terlihat kebingungan dan sedih.
"Mang Imran mengancam mengambil rumah kita,Teh!Kalau Teh iyam tidak mau menikah dengan Ustad Khalid!"Kata Rasyid menimpali ucapan Ibunya.
"Kenapa bisa begitu, bagaimana ceritanya,kok bisa aku yang terlibat,Mi?! bahkan Mariam belum pernah mengenal Ustad Khalid itu, terus kenapa Mang Imran mau mengambil rumah kita!"Mariam dan Fatimah terlihat marah dan kebingungan.
"Rumah itu memang peninggalan Ayah dari Abi kalian, Imran bilang masih ada sebagian hak dia dalam rumah itu,tapi seingat Umi imran juga sudah mendapatkan bagian nya waktu itu, tapi entah lah Umi tidak tahu menahu tentang hal itu karena memang tidak ada bukti yang kuat tentang warisan dari kakek kalian itu, lagipula surat rumah dan tanah yang Kita tempati itu masih atas nama kakek kalian.Umi jadi bingun,Nak!"
"Lalu apa hubungannya dengan Ustad Khalid Umi?!"Tanya Fatimah.
"Katanya Ustad Khalid menanyakan tentang Mariam kepada Mamang mu,dan dia menceritakan tentang kemalangan mu kepada nya,dan sepertinya Ustad Khalid menawarkan untuk berta'aruf dengan mu ,nak! Ustad Khalid menawarkan sesuatu kepada Imran jika kamu mau menikah dengan nya!"Umi Salamah menceritakan semua nya dengan penuh kesedihan.
"Umi, kasihan teh Mariam, dia berhak bahagia dengan pilihan nya sendiri,,!"ujar Fatimah mengungkapkan pendapat nya.
Sedangkan Bima dan Irsyad, mereka mengobrol di teras berpura pura tak mendengar percakapan Mariam, Fatimah dan ibunya, padahal telinga mereka cukup jelas ikut mendengarkan dengan seksama arah pembicaraan mereka.
Terlihat raut wajah Bima berubah tegang,ingin rasanya ia menemui Ibunya Mariam dan mengatakan kalau dirinya mencintai Mariam dan siap menikahinya.
Andai saja Mariam tidak menolaknya tempo hari.
Kata Umi,dia terlihat bingung dan putus asa.
"Untuk saat ini Mariam belum ingin menjalin hubungan dengan siapa pun Umi, Mariam ingin meraih mimpi Mariam dulu yang sempat tertunda,dan Alhamdulillah sekarang Mariam cukup senang bisa bekerja di perusahaan besar dan mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang tinggi pula!"
Jawaban Mariam cukup membuat Bima sedikit lega, meskipun dia sangat takut Mariam kembali jatuh ke pelukan orang lain,dan kali ini saingannya semakin berat,yaitu seorang ustadz.
Meskipun ustadz itu seorang duda,namu dalam segi agama tentu saja dirinya merasa sangat jauh dari kata sempurna.
"Sebaiknya Umi tinggal saja disini untuk sementara, biarkan saja Mang Imran mau berbuat apapun dengan rumah kita itu, insyaallah, Mariam dan Fatimah yang akan membiayai adik adik yang dipesantren!"Kata Mariam.
"Iya Umi,Teh iyam betul!Umi tinggal saja disini dengan kita, selain kita lebih tenang bisa dekat dengan Umi, Umi juga bisa menghindari Mang Imran untuk sementara..."
Umi Salamah menangis dalam pelukan Mariam.
Irsyad dan Bima terpaku melihat suasana canggung seperti itu,
Bima harus segera meyakinkan Mariam agar segera mau dijaga oleh nya selamanya.
__ADS_1
Tapi yang paling penting dia harus memantapkan diri dulu tentang keyakinan nya, tentu saja Mariam ingin memiliki suami yang Agama nya bagus untuk menjadi imam dalam mahligai rumah tangga nya.
Setelah selesai ber ramah tamah, akhirnya Bima pun pamit pulang, sedangkan Irsyad masih disitu membicarakan tentang rencana nya untuk segera meminang Fatimah.
****
Hari ini Mariam memutuskan untuk kembali bekerja,kondisi fisik dan mental nya sudah semakin membaik dan ingin kembali beraktivitas Karena merasa bosan di rumah terus.
"Selamat Pagi Pa,apa Bapa ingin di buat kan kopi?!"Tanya Mariam setelah melihat Bima baru datang ke kantor.
"Kenapa sudah bekerja,kamu harus benar benar pilih dulu!"Jawab Bima sambil duduk di meja kerja nya.
Kemudian Roy datang membawa segelas kopi dam menyodorkan jadwal kerja Bima kepada Mariam untuk dipelajari.
"Saya sudah lebih baik sekarang, terimakasih atas perhatiannya!"Jawab Mariam sambil membereskan dokumen dokumen di meja kerjanya Bos nya.
Tiba tiba pintu ruangan kerja Bima di ketuk seseorang, setelah dipersilakan masuk ternyata Sahrul ingin memberikan laporan kerja nya.
Dia terlihat agak terkejut melihat Mariam,namun ia berusaha menguasai keadaan dan berpura pura tidak terjadi apa apa diantara mereka.
Setelah selesai dengan urusan nya ,Sahrul pun keluar dari ruangan Bima tanpa mempedulikan kehadiran Mariam.
"Saya Izin ke toilet dulu pak!"Kata Mariam , padahal ia ingin mengikuti Sahrul dan ingin tahu bagaimana reaksi jika berhadapan langsung dengan nya.
Menurut Mariam Sahrul cukup berani untuk kembali ke kantor dan bertemu lagi dengan nya.
Mariam Mempercepat langkahnya Karena ingin mengejar Sahrul yang terlihat berbelok ke arah parkiran, sepertinya dia akan keluar untuk bertugas.
Sepertinya Sahrul sadar Mariam mengejarnya.
setelah dirasa sepi dan tidak ada yang lewat di area itu, Sahrul menghentikan langkah nya dan berbalik ke arah Mariam yang berjalan pula ke arahnya.
Mariam memperlambat langkahnya nya dan memberi jarak.
Untuk sejenak mereka hanya saling diam, bingung harus mengatakan apa.
"Saya Akan segera mengundurkan diri dari perusahaan,Mbak!"
Tiba tiba saja Sahrul mengatakan hal itu dihadapan Mariam.
***
Next
__ADS_1
Like nya Berkurangnya ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Mohon dukungan nya dong Zeyeng🥰